Gus Mus adalah Jabatan Tertinggi di Dunia

Liputan "Mata Air Gus Mus", 11 Agustus 2018

Kebahagiaan terpancar pada orang-orang yang duduk lesehan berjam-jam di pelataran kantor redaksi Suara Merdeka. Koran Harian Suara Merdeka menghelat acara untuk mangayubagya ultah ke-74 KH. Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus. Dan, Mbah Nun adalah salah satu tokoh yang diundang dalam acara itu.

Acara yang berlangsung tadi malam itu diberi tajuk Mata Air Gus Mus, dan Mbah Nun mendapatkan “jatah” di bagian akhir acara. Panitia memandang Mbah Nun adalah orang yang tepat menjadi pengakhir acara yang dihadiri beragam kalangan. Meskipun ternyata mendapat bagian di penghujung acara, Mbah Nun sudah berada di TKP sebelum Kukrit SW, CEO Suara Merdeka sekaligus perwakilan panitia memberikan sambutan pembuka acara.

Duduk diapit Gus Mus di sebelah kiri dan Kyai Zawawi Imron di sebelah kanan, Mbah Nun tampak anteng diapit oleh kedua beliau. Dari kursi duduk beliau, sebagaimana hadirin dan tamu undangan lainnya, Mbah Nun turut menikmati sajian persembahan di panggung dan memberi hormat kepada sesiapa saja, seniman, pengusaha, dan budayawan yang menyebutnya dalam sambutannya masing-masing.

Kurang lebih tiga jam Mbah Nun duduk. Menyimak penyair demi penyair membacakan puisi, menikmati lantunan keroncong Endah Laras, dan menyimak testimoni yang disampaikan tamu undangan. Acara Mata Air Gus Mus terasa mengalirkan rasa kekelurargaan ke semua orang. Maka, tidak heran ketika orang-orang dari beragam kalangan datang memperingati hari kelahiran Gus Mus.

Ada yang datang atas hubungan pribadi dengan Gus Mus. Ada yang datang atas dasar pertemanan. Ada yang datang atas dasar penghormatan. Maka dari itu, acara yang dipersembahkan untuk Gus Mus bisa mengumpulkan orang-orang dari kalangan seniman, penyair, pelukis, pengusaha, birokrat, penulis, ulama, dan orang-orang biasa lainnya. Ada juga Mbak Najwa Shihab. Di atas panggung, Najwa Shihab menceritakan persahabatan Gus Mus dengan Abinya Quraish Shihab. Dua tokoh ini sudah diundang ke Mata Najwa. Namun, tapi ada satu tokoh yang bicaranya selalu mengademkan hati orang-orang tapi tidak mau diundang ke Mata Najwa. Orang itu, kata Najwa Shihab, adalah Cak Nun. “Sudah sembilan tahun Mata Najwa tayang, tapi Cak Nun selalu menolak jika diundang. Tolonglah malam ini bantu saya merayu Cak Nun buat mau tampil di Mata Najwa.” Pernyataan itu langsung dijawab jamaah dengan gemuruh suara: “Amin.”

Mbah Nun yang melihat permintaan Najwa Shihab dan jawaban jamaah hanya mesem saja. Najwa Shihab pun berseloroh, “I love Cak Nun.” Jamaah tertawa.

Beberapa jam sebelum Mbah Nun tiba di acara, caknun.com mengunggah puisi Mbah Nun yang dipersembahkan untuk Gus Mus. Ada bagian yang apik di puisi tersebut. Begini bunyinya:

Ada Gus Mus yang tampak mata
Ada Gus Mus yang tak kasat mata.

Dalam acara semalam itu, Mbah Nun mengungkap apa yang telah ditulisnya dalam puisi itu, bahwa yang kita lihat adalah Gus Mus yang tampak di mata. Sedangkan Gus Mus yang tidak tampak mata adalah Gus Mus yang lebih besar.

Gus Mus lebih besar dari jabatan apa pun. Tidak ada jabatan yang cocok untuk Gus Mus. Gus Mus adalah jabatan tertinggi di dunia. Jangan sampai Gus Mus melorot jabatannya menjadi wakil presiden.”

Mbah Nun mengatakan tidak ada yang bisa dipersembahkannya selain sebuah ayat yang sering sudah Beliau akrabi sejak kecil: surat An-Nur ayat 35. Mbah Nun membacakan surat itu dengan merdu. Sesekali berhenti menaham napas. Sesekali menahan air mata agar tidak tumpah berlebihan. Pembacaan surat Al-Qur`an yang dilakukan Mbah Nun lebih dari sekadar yang dimintakan oleh panitia yaitu memberikan testimoni tentang Gus Mus. Mbah Nun memiliki cara lain untuk memberi persembahan yang bermartabat. Yaitu dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur`an. Setelah membacakan ayat tersebut, Mbah Nun berucap, “Saya mohon maaf atas sambutan dari saya yang mungkin kurang Anda setujui dan tidak Anda duga. Saya tidak bisa memberikan apa-apa selain itu tadi.”

Mbah Nun juga memandu semua orang yang hadir membaca sholawat. Di sela-sela semua orang membaca sholawat Mbah Nun membaca doa:

Untuk Gus Mus ya Allah
Untuk Gus Mus ya Rasulullah
Aku bersungguh-sungguh ya Allah
Aku tidak ketawa-ketawa
Aku bersungguh-sungguh untuk Indonesia

Menjelang pukul satu dini hari acara berakhir, dan di penghujung acara, Gus Mus memberikan sambutan. Gus Mus menyampaikan, “Ulang tahun ini mengingatkan saya kalau saya sudah tua dan tidak usah neko-neko. Banyak orang yang berbicara tentang pribadi saya. Tapi, sebenarnya itu bukan pribadi saya. Hanya Allah yang tahu pribadi saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya lebih rendah dari Anda. Saya belajar dari Anda. Saya tidak bisa seperti anda. Saya tidak bisa seperti Cak Nun. Dia tidak pernah tidur. Malam di Jakarta. Paginya saya undang ke Rembang. Dia datang. Ini kalau tidak pemberian Allah pasti tidak bisa seperti itu.”

Selamat memasuki umur yang ke-74 tahun Gus. Sehat terus. Salam.

Kebahagiaan terpancar pada orang-orang yang duduk lesehan berjam-jam di pelataran kantor redaksi Suara Merdeka. Koran Harian Suara Merdeka menghelat acara untuk mangayubagya ultah ke-74 KH. Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus. Dan, Mbah Nun adalah salah satu tokoh yang diundang dalam…