Wédang Uwuh (71)

Gelombang Hizib

Kedaulatan Rakyat, 27 Maret 2018

“Untuk apa kamu deket-deket atau bahkan mungkin terlibat agak aktif di kegiatan Mantra 2019 Itu?”, saya bertanya kepada Pèncèng. Agak mendesak, sedikit mempertanyakan dan menuntut.

Dan Pèncèng menjawab khas anak zaman Now yang tidak ingat untuk mempedulikan among roso dengan orang Old kayak saya: “Apa salahnya Mbah? Itu hak asasi saya. setiap orang berhak belajar dan berkembang. Dan belajar itu ya kepada siapa saja dan apa saja…”

Dasar Pèncèng.

“Kamu senang berada di tengah hawa kumuh kesalahpahaman?”

“Kesalahpahaman apa?”

“Setiap ucapan dan ungkapan sekarang ini kebanyakan tidak menambah pemahaman, melainkan menimbulkan prasangka. Soal Mantra#2019 itu kan disangka ini itu. Ada yang berpikir itu merupakan kritik, atau perlawanan atau ramalan terhadap suatu pihak, entah Yogya ataupun Indonesia”

“Lha hubungannya dengan saya apa, Mbah? Lumrah kalau ada yang berprasangka, atau berharap-harap kepada sesuatu hal. Orang yang sedang mencari solusi, menyangka angin yang lewat itu membawa hawa penyelesaian. Orang yang didholimi, merasa bahwa suara halilintar itu pertanda akan terjadinya sesuatu pada pihak yang mendhalimi. Orang yang kehausan, berharap kepada setiap orang yang lewat akan membelikannya minuman…”

Memang anak-anak muda sekarang ini pinter-pinter. Cuma sering menyakitkan. Apalagi bagi orang tua berhati lemah seperti saya.

“Maksud saya Cèng”, saya mencoba bersabar, “anak-anak saya jangan sampai berada di tengah pertengkaran atau permusuhan antar siapapun saja”

“Lho saya kan tidak ikut bertengkar. Saya cuma membantu karena dimintai tolong untuk membantu. Saya tidak melihat ada niat buruk pada orang yang minta tolong, maka saya merasa tidak alasan untuk tidak menolong”

“Tapi kalau terjadi kesalahpahaman atau prasangka atau klaim-klaim, kan kamu ada di dalamnya. Kan kamu jadi ikut menanggung kemudaratan ketika orang yang berharap ternyata tidak memperoleh harapan, orang yang berprasangka tidak menemukan sesuatu yang ia prasangkai. Kegiatan Mantra#2019 itu bisa dilebih-lebihkan atau diremeh-remehkan”

“Itu kan urusannya yang melebih-lebihkan dan meremeh-remehkan”, Pèncèng sama sekali pantang mundur, “jangankan sekadar peristiwa pementasan teater, bahkan seandainya saya kelak mati kemudian tidak ada yang mengurus, tidak ada yang memandikan dan melakukan prosesi pemakaman, saya hanya dibiarkan tergeletak membusuk, atau saya dikuburkan dengan cara suatu Agama yang bukan Agama saya–bagi saya itu tidak ada masalah. Yang bermasalah adalah yang tidak mengurusi atau yang salah urus terhadap mayat saya. Sebagai mayat saya tidak menanggung kesalahan apa-apa…”

“Lho lho lho kok sampai mayat-mayat segala…”

“Lha Simbah ini yang aèng-aèng saja. Wong Mantra saja kok diributkan. Seandainya saya tidur tiap malam tidur berpindah-pindah dari kuburan ke kuburan selama 40 malam, mbok biar saja…”

Benar-benar ini radikalis dan anarkis si Pèncèng anak zaman Now.

“Saya tidak terlibat Mantra Mbah”, ia meneruskan, “yang saya lakukan ini belajar dari Mantra dari mempelajari tentang Mantra…”

“Kamu nanti dituduh Musyrik lho”

“Musyrik itu letaknya di dalam kesalahan patrap hati dan skala prioritas berpikir. Syirik tidak terletak di kuburan, keris, kemenyan, jimat atau mantra. Syirik adalah kalau hati kita tidak mengutamakan cinta kepada Yang Maha Wenang. Musyrik adalah orang yang menuhankan sesuatu yang bukan Yang Maha Kuasa. Lha saya ini mendekati lingkaran Mantra#2019 itu justru untuk mencari kehadiran Yang Maha Wenang itu…”

“Malah bikin makalah…”, saya nyeletuk.

“Mantra itu upaya manusia meraba kekuatan yang lebih menguasai kehidupan dibanding kemampuan manusia. Mantra itu iguh manusia untuk mengenali Maha Penguasa atas segala-galanya. Mantra adalah doa manusia, percobaan untuk bernegosiasi dengan Maha Penguasa tentang sesuatu hal yang manusia tidak bisa mengatasi. Disebut Mantra karena ketika itu Tuhan sendiri belum memperkenalkan diri-Nya secara formal, belum memberi informasi literer melalui firman-firman tentang eksistensi-Nya, sifat-sifat-Nya, tata aturan-Nya, SOP-Nya atas kehidupan para makhluk ciptaan-Nya. Ketika kemudian Tuhan berfirman, manusia baru mengenal bahasa pilihan Tuhan sendiri. Kalau manusia meminta itu namanya Doa. Aslinya Du’a: arti horisontalnya adalah memanggil, arti vertikalnya adalah memohon. Permohonan yang diajukan secara terus-menerus dengan bobot hajat yang mendalam namanya Dzikir yang di-Wirid-kan. Kalau permohonan dan upaya tawar-menawar itu menyangkut sesuatu yang spesifik dan berat kualitas masalahnya, namanya Hizib. Hizib itu arti harafiahnya Tentara. Orang yang berhizib atau bahasa buminya me-mantra: pada hakikatnya sedang memohon-mohon kepada Allah agar berkenan mengirim tentara-tentara-Nya untuk mengatasi masalah yang manusia tidak mampu menyelesaikannya. Zaman sekarang ini manusia semakin tidak berdaya, sehingga yang diperlukannya adalah menghembuskan Gelombang Hizib…”

“Untuk apa kamu deket-deket atau bahkan mungkin terlibat agak aktif di kegiatan Mantra 2019 Itu?”, saya bertanya kepada Pèncèng. Agak mendesak, sedikit mempertanyakan dan menuntut. Dan Pèncèng menjawab khas anak zaman Now yang tidak ingat untuk mempedulikan among roso dengan orang Old kayak saya:…