Gelembung-Gelembung Persaudaraan Dengan Alam

Sekitar pukul 21.00 WIB, pembacaan Al-Qur`an dan wiridan telah rampung dilaksanakan. Tanggal tujuh belas kali ini kembali datang, lokasi sekitar TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul, di mana Majelis Mocopat Syafaat dilaksanakan, berangsur-angsur dipadati ragam manusia. Manusia yang mengalir dari berbagai dimensi dan latar belakang. Tak perlulah kiranya saya menjelaskan lebih detail, pembaca yang budiman mesti sudah memahami betul betapa ragamnya bentuk manusia yang datang pada tiap Maiyahan.

Mas Jamal dan Mas Helmi kembali bertugas mengiringi diskusi pembuka malam ini. Sesi ini kita tahu, memang berfungsi sebagai semacam pemanasan otak dan peregangan batin untuk mencapai derap-derap kemesraan di hadapan. Tentu juga ini adalah sesi di mana beberapa informasi yang dibagikan pada hadirin. Misal soal informasi mengenai akan adanya beberapa tulisan dan liputan tentang pentas #Sengkuni2019 yang akan dimuat di web caknun.com.

Mas Jamal membuka dengan bahasan soal kalimat “bumi dan alam sebagai saudara tua manusia”. Dari situ bahan obrolan mengalir. Lambaran konteks soal kasus beberapa waktu lalu di mana satu golongan manusia yang merasa sangat setingkat tuhan menuding ritual adat Sedekah Laut sebagai pemicu bencana alam. Mas Jamal melanjutkan dengan, bagaimana proses pada manusia pasca-modern sekarang ini dibentuk oleh konsumsi-konsumsi iklan. Dari awalnya media massa, kemudian sekarang media sosial. Pola algoritma di internet punya pembacaan sendiri untuk memperkirakan seseorang akan cenderung memilih tema dan bahasan seperti apa ketika menggunakan internet. Wacana-wacana, bacaan atau informasi yang dikonsumsi secara sadar atau tidak, membuat manusia terbiasa dengan pola kebenaran yang diyakininya saja sehingga timbullah pikiran yang keras, pembenaran bukan kebenaran yang dicari. Manusia modern dan pasca-modern ini terbentuk oleh pola yang full kapitalistik sehingga kesadarannya pun lebih kepada eksploitatif daripada eksploratif.

Mas Helmi melengkapi bahasan dengan sample kasus yang sama. Persoalan mungkin memang telah dimulai sejak kita lebih cenderung melabeli hal-hal semacam Sedekah Laut, Sedekah Bumi dan sejenisnya itu dengan sekadar “tradisi”. Artinya dia tidak dipandang melalui pintu sains (kosmologi) terlebih dahulu untuk mencari pemahaman yang lebih luas dan empatik. Padahal, bisa saja di dalam hal-hal semacam itu ada pengetahuan yang belum terkuak hingga sekarang. Di sinilah tema tentang gelembung-gelemung hingga Maha Pencipta Gelembung yakni Allah SWT, menemukan titik koordinatnya. Mas Helmi mengingatkan bahwa, kepengabdian kita pada Gelembung Maha Gelembung tidak berposisi saling mengenyahkan dengan gelembung lain. Karena toh, gelembung-gelembung itu juga adalah ciptaan-Nya kan?

Mbah Nun naik ke panggung beserta KiaiKanjeng dan ditemani oleh Pak Toto yang sepertinya baru saja cukur kumis. Mbah Nun membuka dengan pertanyaan yang sangat mesra kepada kita para anak-cucu JM. Mbah Nun menanyakan kabar kemudian pada para hadirin dan menggelontorkan pertanyaan singkat.

“Isih iso menikmati urip?”

Mbah Nun kemudian melanjutkan, “Doa kita bukan untuk minta tambahan rezeki, tapi berdoa agar bertambah kemampuan menikmati hidup apa adanya”.

Majelis Mocopat Syafaat pun dimulai, manusia semakin padat. Sapaan bersilangan di udara, pertemuan bertemu dengan perjumpaan.

Malam ini juga Pak Tanto Mendut hadir dengan mengajak beberapa kawan seniman. Semestinya seorang pemusik dari Jepang juga hadir, tapi beliau tidak jadi datang karena faktor kesehatan.

Kiai Kanjeng melantunkan:

Are you sleeping, are you sleeping
Brother John, Brother John
Ayo ngising, ayo ngising….

Reportase singkatnya sampai di sini dulu, sebab saya juga rasanya sayang kalau melewatkan kemesraan demi kemesraan ini.

Buku dan Merchandise