Gegolekan di Suluk Surakartan

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 23 November 2018

Majelis Maiyah Suluk Surakartan (SS) edisi 34, jum’at 23 November 2018 berbeda dari biasanya. Sejak ikut maiyahan SS mulai September lalu, saya mendapati sajian diskusi yang santai namun dalam, diselingi musik dan lagu. Kali ini beda, ada pertunjukan seni yang asing bagi saya: wayang golek.

Majelis Maiyah SS yang rutin digelar saban bulan tiap jum’at keempat di Rumah Maiyah Surakarta, Jl. Tanjunganom No. 11, Kwarasan, Grogol, Sukoharjo, pada edisi ini mengambil tajuk Kayungyun Swaraning Pradonggo, yang menurut Wasis, sang moderator, bermakna terpikat alunan gamelan.

Kayungyun Swaraning Pradonggo itu bahasa Jawa yang artinya terpikat oleh alunan gamelan. Gamelan jadi alat pengundang masyarakat waktu itu untuk menghadiri acara Sekaten,” paparnya.

Bulan ini berisi momen Maulid Nabi. Solo dan Yogya punya agenda tahunan guna memperingati momen ini. Yakni Sekaten. Oleh karenanya, Majelis Maiyah SS edisi ini memilih tradisi tua tersebut sebagai tema diskusi.

Sedianya, pembicara yang ketiban sampur membongkar Sekaten adalah Pakdhe Herman, sesepuh yang memiliki kewenangan ilmiah mumpuni tentangnya. Dan Rendra Agusta, pemuda Sragen yang kandidat doktor, yang lama jatuh cinta pada kesusastraan Jawa. Keduanya dipercaya berdaya prima membongkar inti biji Sekaten.

Namun, “Pakdhe Herman ngepasi ada kepentingan yang mendesak, dan Mas Rendra juga pas ada acara di Magelang,” ungkap Wasis.

Akhirnya, Ki Riwus, usai menikmati diskusi film Wage tempo hari di Rumah Maiyah, didaulat Pak Munir serta beberapa teman pegiat, untuk menjadi pembicara SS edisi 34 ini.

Ki Riwus pun hadir mengajak para kekasihnya yang lantas membuat jamaah Maiyah terpesona, kayungyun. Kekasih pemuda gondrong berkacamata dari Karanganyar itu adalah wayang golek. Ia dalang golek generasi ketiga di keluarganya. Goleknya adalah golek Sentolo, Kebumen, kampung asal mbah buyutnya. Ki Riwus menjadikan sang kekasih teman juang mendidik generasi pembaharu bangsa. Malam itu, ia mengelaborasi golek dengan Sekaten yang sama-sama memiliki fungsi sebagai media dakwah Islam para da’i masa silam.

Jamaah lupa kalau hari sudah malam kala Ki Riwus mendalang memetik adegan pergulatan Amir Hamzah lawan Maktan. Pergulatan yang menjadi tonggak hidayah bagi Maktan. Maktan adalah seorang pangeran yang enggan menjadi raja lantaran gerah menatap kaum bangsawan yang hidup mewah di kala rakyat jelata serba susah. Ia memilih merampok dan membagi-bagikan hasilnya untuk rakyat yang melarat.

Suatu hari Maktan merampok habis kafilah Raja Abdullah di tengah jalan menuju Yaman. Namun singkat kisah, Allah mengirim Amir Hamzah, adik Abdullah, kepada si perampok di tengah gurun. Maktan si malaikat maut kasat mata, akhirnya kalah tanding dengan Hamzah. Namun si sakti yang bijaksana tidak membinasakan lawan yang sudah berpasrah nyawa di lututnya. Lembut santun ia bicara, “Kau harus diganjar hukuman wahai Maktan. Dan tahukah engkau apa hukuman itu? Ialah menjadi saudaraku. Aku menganut agama Ibrahim yang pintunya ialah syahadatain. Engkau akan menjadi saudaraku setelah memasuki pintu itu. Tapi aku tak memaksamu. Pikirkanlah dengan matang…”

Diskusi yang nir “pembicara andal” ini pun akhirnya tetap berhasil memetik jawaban. Ditambah lagi, sebelum masuk ke tema Sekaten, Mas Arsanto, ekonomnya SS, telah membuka ruang dengan berbagi oleh-oleh dari pertemuan terbatas di Tembi Village, Yogya, belum lama ini, yang mengungkap plus minus keadaan jamaah Maiyah di seluruh penjuru bumi. Arsanto melaporkan bahwa dirinya ketiban amanah menjadikan SS sebagai laboratorium “Tauhid Penghidupan”, pemberdayaan ekonomi jamaah Maiyah yang merupakan persoalan mendesak yang menjadi keprihatinan besar Mbah Nun.

Usai Majelis Maiyah SS edisi 34 ditutup pada lewat tengah malam, capaian ilmu dan hikmah yang tadinya dikira bakal dadi golekan, ternyata sudah bisa dikantongi para jamaah yang datang. Kami pulang membawa cahaya penerang: hikmah inti Sekaten yang dalam, kesadaran akan kekayaan budaya berupa wayang golek yang memiliki keunggulan namun belum berkembang di Surakarta, serta secercah harapan indah bagi para “pengangguran fisabilillah” yang insya Allah akan “dihajar” oleh Mas Arsanto dengan penuh cinta seperti dilakukan Amir Hamzah kepada Maktan, yang menjadi tonggak hidayah, tonggak kebangkitan jamaah Maiyah di sektor perekonomian. Amin. (Ibudh)