Fenomena Humor di Sinau Bareng

Di Sinau Bareng, melalui humor, kita bisa bikin rumus untuk persoalan Indonesia yang tak terumuskan. Rumusnya menurut Mustofa W. Hasyim (Pak Mus) kurang lebih begini,

Indonesia + Kelucuan = Tak Terhingga

Rumus itu sebenarnya bisa kita perpanjang dengan berderet persoalan negeri ini yang menurut Mbah Nun jauh lebih banyak dari tiap kata atau bahkan tiap huruf di kamus. Jadi rumusnya bisa jadi begini,

Indonesia + Kelucuan + Kekonyolan + Kegaduhan + Kedegilan + Kegilaan +++ = Tak Terhingga

Di tengah mentok, nirsolusi dan tak terumuskannya berbagai persoalan; di tengah hilangnya kemesraan dan keakraban dalam kehidupan karena kesempitan cara bepikir, fanatisme dan kegilaan, kita di Sinau Bareng masih saja beruntung karena punya humor yang menyegarkan. Melalui humor di Sinau Bareng, saya seringkali diajak untuk memahami persoalan dengan hati dan pikiran yang lebih terbuka.

Humor adalah strategi komunikasi yang tidak cuma disampaikan dengan baik dan benar tapi juga indah. Oleh karena itu humor menolak kepicikan dalam berkomunikasi. Entah itu dalam wujud prasangka, caci-maki, nyinyiran hingga puja-puji berlebihan. Humor bersifat meruang, menampung segala kemungkinan kreatif dalam berkomunikasi sehingga senantiasa terbuka dalam memahami persoalan. Bahkan seringkali humor adalah puncak kearifan. Kita bisa melacaknya dalam cerita-cerita para punakawan dalam pewayangan hingga kisah Abu Nawas dan Nasruddin Hojja dalam khasanah sejarah Islam.

Epistemologi Humor di Sinau Bareng

Dalam Sinau Bareng, humor lebih saya nikmati tidak cuma kata-katanya, lontaran jokes-jokes-nya, tapi juga keseluruhan suasana, nuansa, momentum dan spontanitasnya. Gerak tubuh, mimik, dan keseluruhan suasana sekitar yang tampaknya biasa saja, bisa jadi bahan kelakar yang tak terduga. Kelakar atau humor yang muncul ketika Sinau Bareng adalah suatu yang organis karena apapun dalam kehidupan ini bisa jadi bahan lelucon. Hanya saja di Maiyahan, humor senantiasa diletakkan pada batas proporsi, ritme, takaran serta dosis yang tepat. Kata orang Jawa, kudu empan papan lan ngerti kahanan, sesuai momentum sehingga tidak kemanisan, kelegen, ekstase, full ngakak sampai bikin lupa diri.

Otentisitas humor di Sinau Bareng itu muncul karena momentumnya tepat. Jadi tidak terkesan cari muka agar tampak lucu saja. Iya kalau pas lucu, kalau tidak kan malah jayus output-nya. Kelakar atau jokes-jokes yang otentik di Sinau Bareng biasanya dilontarkan secara tak terduga, tanpa bikin rancangan materi dan konsep-konsep spoiler: Nomor 3 Bikin Ngakak!

Humor yang terlahir dari otentisitas tidak akan menjerumuskan subjeknya untuk sekadar mbadut, merajuk dan memohon agar audiens tertawa. Seluruh ruang hidup ini sesungguhnya telah menyediakan bahan baku humor yang tak terbatas, tergantung manusianya sebagai subjek humor untuk mengolahnya. Kata pepatah, batas antara tragedi dan komedi itu sangat tipis.

Dengan keyakinan bahwa humor adalah suatu yang organis, yang universal, yang bermuasal dari luasnya fenomena kehidupan, maka di Sinau Bareng saya tidak pernah mendengar klaim dan deklarasi, humor ala maiyah, mati ketawa ala maiyah. Sebab maiyah menampung khasanah dan kekayaan humor dari siapa saja dan dari mana saja. Maiyah mengangkat dan memuliakan humor, tidak sekedar kulakan humor dari luar.

Saat Sinau Bareng, humor dipangku dan dimuliakan sebagai entitas nilai. Maiyah memuliakan humor-humor cerdas dari Madura, menemukan kembali cerita-cerita kecil tentang kebersahajaan tokoh Markesot, Saridin hingga Kiai Sudrun. Bahkan begitu banyak eksplorasi cerita-cerita unik, pengalaman personal, di kalangan jamaah dan handai taulan di lingkar maiyah sendiri yang diolah menjadi bumbu-bumbu kelakar untuk jadi bahan menertawakan diri sendiri yang tentu saja output-nya adalah cinta.

Humor di Sinau Bareng tidak bisa dipisahkan dari fenomenologi kehidupan sehari-hari. Humor adalah input sekaligus output dari kebersamaan dan spontanitas yang tulus. Humor seringkali dilontarkan sebagai lambaran untuk membuka percakapan yang lebih mendalam. Tetapi tidak jarang pula humor muncul spontan bagaikan irama musik jazz yang tak terduga di tengah percakapan serius, sehingga tak jarang membikin ger-ger-an.

Humor adalah simbol kedaulatan diri. Humor adalah salah satu strategi untuk mentakaburi masalah, bahwa manusia senantiasa lebih besar dari masalah itu sendiri. Humor juga strategi untuk mengeluarkan uneg-uneg, gerundelan, tanpa menyakiti siapapun. Misuh bukan misuhi, mengeluarkan dan membersihkan kotoran-kotoran tanpa harus mengotori yang lain.

Lantas apakah humor di Sinau Bareng tidak terjebak untuk sekadar melarikan diri dari persoalan dengan merasionalisir keadaan dengan menghibur diri melalui lelucon? Menurut saya, tidak. Justru humor di Sinau Bareng sering kali masuk ke dalam dimensi persoalan. Humor mengandung dimensi yang luas menyentuh berbagai aspek kehidupan. Humor sering kali pula membantu menguraikan berbagai persoalan ruwet dengan bahasa yang paling mudah dipahami awam.

Melalui humor, komunikasi Sinau Bareng  jadi tidak monoton. Karena humor membuka ruang kreatif dalam berkomunikasi lintas arah di mana di dalamnya tidak ada sikap ingin nuturi apalagi merasa paling benar sendiri. Bahkan, humor di Sinau Bareng bagi saya juga membantu mengakselerasi cara berpikir kita agar tidak selalu linier dalam memahami persoalan. Karena humor memungkinkan adanya lompatan logika, out of the box.

Oleh sebab itu, di Sinau Bareng humor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika selama berjam-jam dan selalu membikin kita betah di dalamnya. Humor menyediakan ruang kreatif dalam berkomunikasi sehingga mendorong sikap saling terbuka, egaliter, tanpa feodalisme akademis di mana di dalamnya kita bisa mengajukan kritik dan pandangan-pandangan alternatif tanpa sekat dan kedok-kedok kepalsuan identitas.

Di Sinau Bareng, melalui humor, kita bisa bikin rumus untuk persoalan Indonesia yang tak terumuskan. Rumusnya menurut Mustofa W. Hasyim (Pak Mus) kurang lebih begini, Indonesia + Kelucuan = Tak Terhingga Rumus itu sebenarnya bisa kita perpanjang dengan berderet persoalan negeri ini yang menurut Mbah…