Emergence Semut-Semut Maiyah

Reportase Mocopat Syafaat, 17 Juli 2018

Maiyah Lambaran Berpikir Akademis

Kenapa ada masa-masa kaum muslim sangat tekun melahirkan karya-karya sains-ilmiah yang bermaslahat untuk perkembangan peradaban dunia? Bisa saja, bukan sekadar karena pancingan mengaktivasi akal sangat sering disarankan oleh Allah melalui Al-Qur`an. Tapi juga “tradisi” shalat lima waktu itu, di mana lima kali dalam sehari, seorang muslim dilatih untuk menjadi manusia murni. Manusia murni yang dimaksud, dia tidak kabotan perabot dunia, dalam shalat manusia tidak menjadi warga negara, anggota ormas, followers kiai, massa tarekat atau apapun produk dunia yang bukan manusia itu sendiri.

Ketika terbiasa berjarak dari dunia, cara pandang melihat gejala persoalan jadi terlatih untuk seobjektif mungkin (walau kalau sekarang ada yang mengaku objektif, itu seringnya ada kepentingan relasi kuasa, biasa itu). Intinya, banyak pintu pemahaman membuka ketika dia sering menjadi Dia.

Namun pada era modern, lebih dari lima puluh persen waktu manusia, dia menjadi sesuatu yang bukan Dia. Dia dijajah hingga ke bawah sadar bahwa “akunya si Dia” adalah karier, jabatan, ormas dllsb. Maka mandeklah tradisi keilmuan.

Mbah Nun sempat menyarankan bahwa di antara para JM ada yang konsentrasi pada pola-pola akademis semacam terutama bidang ekonomi, finansial, perbankan dan sejenisnya. Benarlah ini penting.

Selama ini saya belum banyak bertemu JM yang punya konsentrasi dalam pembacaan data akademis. Jangan dipikir saya tidak coba ambil emergence ini, saya sudah coba betul belajar matematika dasar dan kursus statistik (gratis!). Tapi entah, kemampuan saya agak terbatas soal angka. Jadi saya kembali lagi ke pengolahan kata-kata: menulis. Hal yang, entahlah saya sendiri merasa kok tidak ada istimewanya (ayolah, 90 persen lebih mungkin orang di dunia ini bisa menulis) walau saya nikmati juga.

Bahwa sedulur JM sebaiknya konsen di akademisi, pengolahan data, terutama ekonomi. Ini bukan narasi kalah semacam “Maiyah harus menunjukkan pada dunia bahwa Maiyah bisa blablablaaa…”. Seperti kesadaran terjajah yang umum kita dengar ala NKRI “mengharumkan nama bangsa di mata dunia!”. Saya suka heran dengan kalimat begitu. Apa dipikir nama bangsanya terlalu busuk jadi harus diharum-harumkan segala? Atau hal semacam “Kita harus tampil menunjukkan wajah Islam ala kita yang damai di dunia internesyenelll”.

Kok manja sekali ya minta diakuin sama budaya dominan terus? Logikanya, kalau anda sudah berkesadaran ingin diakui, itu berarti anda adalah (sudah merasa) bawahan dari budaya dominan. Karena kalau tidak, ya anda berlaku biasa saja. Kalau pas dengan budaya dominan ya ndak apa. Kalau tidak cocok juga emang kenapa. Dibilang radkal atau pluralis ya monggo, lha wong Islam itu jangkep. Punya semuanya. Ada ramahnya ada marahnya, jangan ramah tok atau marah tok, sempit itu. Having a dignity, bermartabat dan tetap progresif.

Rasanya bukan kesadaran butuh pembuktian yang ingin dicapai di Maiyah. Hanya Maiyah memang punya kecocokan gelombang untuk pengolahan data dan ranah akademis. Cocoknya bagaimana? Pembaca yang budiman mungkin punya interpretasi sendiri. Tafsiran saya mau saya bikin dalam tulisan sendiri.

Buku Cak Nun