Eling Bèn Waspodo, Tafsir yang Menggembirakan

Reportase Sinau Bareng di Dusun Langkap, Desa Papringan, Kaliwungu, Semarang, 21 Oktober 2018

Syu’uban wa qobaailan ditasirkan oleh Mbah Nun sebagai “bersuku-suku, berbangsa-bangsa, bernegara-negara, berjokowi-jokowi, berprabowo-prabowo…” dan mungkin kita bisa teruskan berbagai ragam varian perbedaan lain seperti beraswaja-aswaja, berwahabi-wahabi, berFPI-FPI, ber dan ber berbagai lainnya dan itu tentu “lita’arofu” agar saling mengenal dan memesrai.

Kalau secara kaidah bahasa, bisa saja ada yang mengatakan itu tidak semestinya begitu. Tapi kalau secara impresi, kesan, dan roso-nya saya rasa kita bisa ngeklik dengan apa yang Mbah Nun sampaikan pada malam tanggal 21 Oktober 2018 M di Boyolali ini. Kenapa kita bisa ngeklik? Karena kita sedang online pada gelombang yang cocok sehingga kita bisa paham beyond language apa yang dimaksudkan dan bagaimana kondisi hati yang membabarkan bahasan. Kelak manakala sudah tidak ada lagi ormas-ormas, organisasi, negara, kumpulan dan komunitas seperti yang kita kenal dengan bentuk seperti sekarang “syu’uban wa qobaila” mungkin bisa diberi impresi lain lagi. Bisa saja satu grup war dalam permainan online game. Atau bisa saja selainnya.

Bentuk selalu berubah, maka kebenaran yang bertahan adalah yang substansi. Bahasa mengalami pergeseran makna dari waktu ke waktu dan itu wajar. Sepanjang peradaban kita, tafsir kita berkutat masih melulu pada soal benar-salah, agak lebih banyak pada definisi rasional. Begitu tidak salah, tapi belum tentu benar banget.

Mbah Nun mengungakapkan ini sebagai bagian dari “tafsir yang menggembirakan”. Ini jarang saya dengar. Bila urusannya adalah kegembiraaan, nah soal benar-salah mungkin kita tidak perlu dramatis-dramatis amat, bukan?

Begitu juga ketika ada seorang ibu yang bertanya mengenai sosok Syekh Siti Jenar, bagaimana dia? Seperti apa? Kok bisa begitu dan lain sejenisnya. Mbah Nun menyampaikan, “Betapa banyak yang tidak kita ketahui mengenai Mbah-Mbah kita dulu dan kita tidak perlu berdebat mengenainya.” Kita bisa ambil, nah ini sekali lagi, tafsir terhadapnya yang menggembirakan. Soal kebenaran, itu pun kebenaran banyak sekali ragamnya. Kebenaran sosial atau kebenaran akademis jelas beda, tapi intinya nanti kita tahu ketika Sang Maha Kebenaran menampakkan bagaimana sejatinya. Mungkin di dunia yang ini, atau di dunia kapan-kapan, kita tidak tahu. Betul-betul kita hanya tahu bahwa kita tidak tahu.

Tentu untuk bisa memberikan tafsir yang menggembirakan, kita tidak boleh juga mengenyahkan tafsir yang sudah ada. Bahkan semua ragam tafsir itu justru memperkaya kita, sehingga kapan-kapan kalau kita sedang berkomunikasi dengan pihak yang memegang yakin versi lain, kita bisa coba carikan versi mana yang kira-kira akan menggembirakan lawan bicara kita. Bukankah begitu lebih asyik?

Maka itu bukan berarti kita berhenti mencari kebenaran, justru kita tambah terus referensi, kita kumpulkan terus variabel, data, interpretasi data, sudut pandang, angle, informasi tambahan, latar belakang nuansa, maqom suasana, koordinat sanad, genaologi nasab dan berbagai versi mengenainya dan semua jadi juga menggembirakan. Dalam kasus Syekh Siti Jenar yang ditanyakan ibu itu Mbah Nun memberi gambaran, tafsirnya banyak sekali. Ada yang bilang begini, ada yang bilang begitu. Ada yang bilang ndak begini dan ndak begitu, mana yang benar? Mari kita hargai semuanya.

Jangankan begitu, belok sedikit ke pengalaman saya pribadi. Dulu itu pernah saya sedang makan di sebuah warung burjo (sekitar sejak 2010 ke atas, warung burjo justru mulai jarang jualan burjo, ini informasi tambahan yang kurang penting, maaf) dan diajak ngobrol oleh seorang bapak-bapak. Bapak ini bercerita mengenai hobinya bertaruh judi bola dan dia benar-benar pembelajar. Dia jelaskan semua permainan judi bola hingga hubungannya dengan kartel hingga bandar-bandar, dari yang paling lokal hingga paling global. Gimana pengaruhnya hingga pada harga saham sampai bagaimana pengusaha-pengusaha di Singapura terlibat. Dia babarkan siapa yang menentukan penalti Ronaldo gol atau tidak, siapa kira-kira pemain terbaik tiap tahun dan seterusnya panjang sekali untuk saya yang kurang paham sepak bola.

Saya perhatikan bapak itu, dia bukan orang yang tampak terpelajar–bercelana pendek, kaos kerah lusuh, kulit cokelat gelap tampaknya senang mancing. Jadi saya tanya, kalau sedang bertaruh (dengan pemahaman dan pengetahuan perjudian sekompleks itu) bagaimaa cara bapak itu memutuskan untuk meletakkan taruhan? Dan inilah jawabannya, “Saya tanya ke Syekh Siti Jenar Mas.” Hampir saja nasi telor yang sedang saya kunyah menyembur naga ke mana-mana kan.

Lainnya