Dunia Berlabel Akhirat

Lantas Ramadlan kita seram-seramkan untuk keuntungan duniawi. Kita dramatisasikan, kita urgen-urgenkan. Bahkan akhirnya kita komoditaskan. Kita pasarkan. Kita icon-icon-kan untuk jualan apa saja yang kita lumuri Ramadlan. Kita bungkusi Ramadlan. Kita jual Ramadlan berpeti-peti. Kita labeli Ramadlan, kita topengi Ramadlan. Sampai karyawan kita setiap Ramadlan berpakaian Muslim dan setiap Natal berpakaian Sinterklas. Tayangan dan etalase-etalase keduniaan kita hiasi dengan kata Ramadlan, dengan warna dan cahaya Ramadlan yang kita palsukan. Kita kapitalisasi dunia dengan label akhirat.