Dua Tahun SabaMaiya, Nyapih Rasa Men Isa Rumangsa

Reportase Majelis Ilmu Maiyah SabaMaiya, 7 April 2018

Senantiasa mengistiqomahi “ngaji bareng” dengan berbagai macam lapisan masyarakat, SabaMaiya di hari kelahirannya yang ke-2 ini kembali menegaskan niat dalam “ngaji urip ngajeni kahuripan”.

Berangakat dari rasa syukur dan ridho dari Allah yang telah memperjalankan SabaMaiya di usia yang masih tunas ini, maka bismillah acara milad SabaMaiya ke-2 dihelat Sabtu malam, 7 April 2018.

Terlihat berbondong-bondong para jamaah mulai mengisi tempat duduk pada perhelatan SabaMaiya edisi bulan April yang kali ini bertempat di Aula Gerbang Wisata Mandala. Diawali dengan menggemakan ayat-ayat suci Al-Qur`an agar rahmat dan ridho Allah senantiasa membersamai sepanjang acara. Disambung dengan sholawatan yang dilantunkan oleh grup rebana Assa’diyah dan jamaah, yang mana mengistiqomahi menghadirkan Rasulullah sebagai wujud dari segitiga cinta diantara kita dan Allah.

Memasuki sesi pertama, pada sesi ini bertindak Kang Ahmad memandu para jamaah dengan perkenalan, sharing dan pembahasan ringan dalam bentuk dialog interaktif. Terlihat beragam jamaah yang hadir untuk mangayubagya pada milad SabaMaiya kali ini. Salah satu jamaah urun penampilan stand up comedy, meski dalam penampilannya tidak berdiri melainkan duduk timpuh. Tak masalah.

Tepat pukul sepuluh sholawat Ya badrotim bergema berlanjut sholawat Kunta Rahima menyelingi rintikan hujan yang jatuh seakan ikut bersholawat. Teman dari TIC pun ikut urun membawakan beberapa nomor nomor lagu  dari lagu Pergi pagi pulang pagi armada sampai “suket tekiyang oleh kawan TIC menyebutnya lagu “Loncang Sledri.  Ekspresi bahagia sebagai apresiasi yang lahir dari hati bahkan terlihat gelak tawa dari jamaah menjadi sebuah kemesraan malam itu.

Usai penampilan dari kawan TIC, berkolaborasi dengan kang Farhan Waenk akustik mengiringi puisi kisah pangeran sabrang” karya pak Mustofa W Hasyim. Nomor gundul gundul pacul pun ditembangkan sebelum penampilan dipungkasi.

Terdengar riuh rendah suara alunan musik gamelan menyelingi tari kuda kepang dari Sanggar Jagad Khayangan, para penari meliuk liuk mengikuti tempo gamelan dan ngetut plandang atau pimpinan tari dengan sesekali memainkan pecut (cambuk). Sela beberapa saat dari kejauhan leak pun datang sebagai wujud dari angkara murka dengan gaya tari yang bringas dan angkuh lebih menarik lagi ketika pemain leak ini mengalami ndadi, atau mendhem (trance) mungkin ini pengibaratan untuk mengasah dan mengendalikan nafsu yang empat, sebab dalam kehidupan yang dicari yaitu mengendalikan nafsu tersebut menuju hati yang damai yang muthmainnul qulub.

Tiba saatnya yang dinanti, setelah pagelaran tari kuda kepang dan tari leak oleh Sanggar Jagad Kahyangan, para penggiat SabaMaiya mulai merapatkan barisan ke panggung. Meski cuaca sedikit mendung menyelimuti di lereng gunung Sindoro-Sumbing, namun tak meyurutkan niat para jamaah untuk ngguyubi sinau bareng malam itu. Surat Al-Fatihah membumbung membuka ngaji bareng, sela kemudian munajat Maiyah dilantunkan bersama-sama. Nuansa menjadi khusyuk ketika lampu dimatikan dan Shohibu Baity bergema. 

Masih kang Ahmad memoderatori sesi kedua, lalu mempersilahkan dari penggiat merefleksi  dua tahun Saba Maiya. Dua tahun SM perlu dimaknai, sekiranya ketika biasanya malam-malam dipenuhi hujan dan digunakkan untuk tidur tetapi pada malam itu digunakkan untuk lungguh sinau bareng, mengkaji maupun ngaji apapun dan ini yang perlu kita syukuri. Perjalanan SM yang mana telah mampu beristiqomah. Tidak bergantung selain hanya kepada Allah, dan ini sebagai bentuk dari kebahagiaan. 

Setelah pemaparan dari beberapa penggiat simpul, dari Sanggar Jagad Kahyangan pun kembali tampil yang sedari tadi stand by dengan menembangkan lagu ”E dayohe teka” dan “Demak Ijo”.

Dalam umur yang kedua SabaMaiya untuk lebih menemukan keseimbangan. Dalam masa pertumbuhan usia dua tahun ini merupakan usia dalam masa pertumbuhan untuk waktunya nyapih, mulanya dari kemarin yang saya maksud untuk nyapih rasa men isa rumangsa”. Tandas Gus Jay membuka sesi.

Gus Jay lantas memberi simulasi terkait keadaan saat ini. kemudian merefleksi dua tahun SM dengan pertanyaan. “Maka apa yang kita lakukan siapkah kita menyapih diri? siapkah kita menyapih hal apapun? menjadi perjalanan yang di usia 2 tahun ini belum cukup dan masih dini”. Dan intinya untuk nyapih rasa men isa rumangsa. Imbuh Gus Jay sebelum menutup prolog.

Sedangkan dari Mbah Kyai Thoharun memberi tanggapan mengenai paseduluran untuk selalu hidup bebrayan sebab kita semua satu nasab dari nabi Adam, kemudian meyitir hadits nabi “khoirunnas anfa’uhum linnas”, sebaik baik manusia ialah orang yang bermanfaat bagi manusia lain. Sebelum menutup pemaparan beliau kemudian bertanya sudahkah kita mereformasi diri berbuat baik kepada keluarga tentangga,dan kepada siapapun. Serta untuk selalu mempunyai martabat dan rasa percaya diri.

Malam kali itu sungguh penuh keberkahan bagi sedulur SabaMaiya, dari kawan kawan komunitas seni dan budaya ikut ngguyubi, bahkan dari sedulur Likuran Paseduluran Kebumen ndereaken bingah.  

Wajah sumringah terlihat dari para jamaah meski sudah masuk tengah malam namun masih sibuk menyimak pemaparan pemaparan dari sedulur. Dan beberapa jamaah pun ikut merespons tema malam itu mengenai “Fastabiqur Riya`”.

Mbah Kyai Thoharun pun merespons kembali, “Innallaha la yandhuru ila suarikum wa-amwalikum wa-lakin yandhuru ila qulubikum wa-a’malikum“. Untuk senantiasa tidak menghukumi seseorang sebab dari baju yang dipakai atau identitasnya saja. Sebab Allah tidak melihat wajah dan rupa. Tapi hati dan niatnya. Maka kita tidak usah menjustifikasi orang dengan penampilannya saja dan yang terpenting yaitu kembali mereformasi diri.

Selanjutnya Gus Jay merespons pertanyaan mengenai riya`, “Sebenarnya yang bisa menjawab ya yang bertanya, sebab apa yang menjadikan dirinya riya` atau tidak bukan orang lain melainkan pada hatinya sendiri. Riya` pun bermacam macam dari jabatan dan fenomenanya pun beragam. Di Maiyah pun kita disuruh mencari sendiri dengan fenomena yang ada. Dengan meng iqro`i sesuatu apapun, tidak hanya melihat yang baik saja namun yang buruk pun juga harus kita lihat.” Tutur Gus jay menutup diskusi malam itu. 

Terakhir sebelum dipungkasi dengan doa oleh Mbah Kyai Thoharun, ada penampilan geguritan oleh Mbak Nafi dengan indah berselingan dengan alunan musik gamelan, hawa dingin negeri saba yang menusuk namun jamaah tetap bertahan hingga akhir. Kang Ahmad menutup acara dengan memotong tumpeng sebagai rasa syukur atas perjalanan SabaMaiya di usia dua tahun ini dengan diiringi lagu Lir-ilir dan Sholatullah. Nasi tumpeng diedarkan ke jamaah untuk dinikmati keberkahan bersama-sama, tak lupa lagu Tombo Ati menemani kemesraan malam itu. (Khusni Mukhamad)

Senantiasa mengistiqomahi “ngaji bareng” dengan berbagai macam lapisan masyarakat, SabaMaiya di hari kelahirannya yang ke-2 ini kembali menegaskan niat dalam “ngaji urip ngajeni kahuripan”. Berangakat dari rasa syukur dan ridho dari Allah yang telah memperjalankan SabaMaiya di usia yang masih tunas…