Disk Defragmentation Model Padhangmbulan

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan Jombang, 28 Juni 2018

Tidak dipungkiri, Generasi Maiyah adalah anak-anak muda. Bukan hanya mereka yang lazim dikenal sebagai generasi zaman now, tetapi juga terselip asa, mereka adalah generasi zaman next.

Maiyah menjadi ruang belajar—belajar apa saja, belajar dari siapa saja, mengunyah realita, menyapa kembali masa lalu, menanam benih kebaikan masa depan. Dialog dijalin dengan kemerdekaan berpikir yang empan papan. Pintu untuk memasuki gairah kreativitas pun terbuka.

Maiyah tidak menyajikan “menu pengajian” yang homogen. Kita menyaksikan penampilan kreativitas anak-anak muda: gelaran musik, penampilan teater, pembacaan puisi dengan berbagai bentuk ekspresi yang menyiratkan kegelisahan khas manusia zaman now.

Ketika Pendidikan Mengalami Pancaroba

Malam itu saya menjumpai hal serupa di Padhangmbulan. Sebelum Mbah Qoyim tadarus membaca Al-Qur`an, beberapa anak muda menyapa jamaah melalui penampilan kreativitas musik dan pantomim. Universitas Maiyah memang komplit. Kepingan-kepingan dihimpun kembali. Gagasan dan lontaran pikiran dihargai, diapresiasi, dipersaudarai secara otentik.

Tidak jarang di antara Generasi Maiyah adalah anak-anak sekolah setingkat SMP dan SMA. Datang dari daerah yang jauh, menempuh perjalanan malam, duduk berjam-jam, bergembira dalam nuansa pendidikan yang kontras dengan situasi di ruang-ruang kelas sekolah.

Mereka menemukan gairah belajar yang otonom—antitesis dari fakta lembaga pendidikan formal sekuler yang diperlakukan sebagai kepanjangan birokrasi negara. Mbah Nun memahami situasi ini. Dalam beberapa kesempatan beliau berpesan, lulus sekolah atau kuliah lebih cepat itu lebih baik. Pertama, untuk menyenangkan hati kedua orangtua. Kedua, selembar ijazah adalah tiket untuk mengantongi pekerjaan.

Ketika pendidikan mengalami pancaroba akibat diperlakukan sebagai tangan panjang birokrasi negara dan imbas dari intervensi politik, anak-anak muda hadir di Maiyah, memetik butiran ilmu di semesta pembelajaran yang lebih hidup, otentik dan menggembirakan.

Testimoni mereka bukan hanya unik dan otentik—mereka tatag menatap kenyataan dan jujur memandang diri sendiri. Serbuk Maiyah merasuki alam realita dan alam mimpi melalui bermacam-macam persentuhan pengalaman yang dibuka langsung oleh Allah. Ketersingkapan itu tidak mengherankan karena Allah telah membentangkan cakrawala laa yamussuhu illal muthahharuun.

Padhangmbulan menjadi saksi bagi ketersingkapan itu, sekaligus katalisator bagi terjalinnya paseduluran yang abadi.

Tagline Padhangmbulan

Mafhum mukhalafah atau pengertian terbalik dari Menata Hati Menjernihkan Pikiran adalah hati yang tidak tertata alias morat-marit serta pikiran yang kotor alias buthek. Tidak perlu asumsi apapun karena faktanya hati kita berantakan berkeping-keping. Sedangkan pikiran kita diserimpung oleh keruwetan yang kita ciptakan sendiri.

Mbah Nun pernah mengajukan pertanyaan: “Berapa persen cinta kita kepada kedua orangtua, kepada anak dan istri kita, kepada teman dan saudara kita? Lalu berapa persen cinta kepada Allah dan Rasulullah?” Kita menjawabnya dengan hati yang berserakan, tercerai-berai ke segala arah.

Kadar cinta kita kepada anak dan istri, kepada teman dan saudara, kepada setiap makhluk Allah adalah seratus persen. Cinta kepada Allah dan Rasulullah pun seratus persen. Maiyah menata dan mengutuhkan kembali yang hati terserak dalam satu bulatan besar: semua kadar cinta yang seratus persen itu berada dalam lingkaran besar cinta kepada Allah yang seratus persen pula.

Cak Fuad menegaskan fungsi utama hati adalah mengenal Allah, mencintai Allah dan merindukan Allah. Namun, hati yang sakit tidak menjalankan fungsinya. Fii quluubihim marodlun, dalam hati mereka ada penyakit sehingga tidak bekerja sebagaimana fungsinya.

Meneliti penyakit hati, menurut Cak Fuad, tidak terutama melihat orang lain, melainkan menatap diri sendiri. Kita waspada terhadap diri sendiri, karena siapa tidak mengenal Tuhannya, ia tidak mengerti apapun. Ungkapan yang disampaikan Cak Fuad itu beririsan dengan fakta di tengah banjir informasi yang menyeret asumsi kita mengetahui banyak tentang banyak hal, sementara hati tidak tunduk mengenal Tuhan.

Akibatnya, kita jadi orang asing bagi diri sendiri. Gagap membaca arah pikiran karena ruwet dan kesrimpet-srimpet. Pikiran ditaburi prasangka. Memprimerkan yang sekunder, mensekunderkan yang primer.

Tidak Terjebak Kanal Perpecahan

Fenomena tersebut terbaca oleh Cak Fuad, misalnya tafsir yang miring-miring tentang idiom Islam Nusantara yang kembali riuh diperbincangkan. Kyai Muzamil dimohon menjelaskan idiom tersebut secara lebih jernih. “Islam tidak memerlukan sifat apapun,” ungkap Kyai Muzamil. “Islam jangan disifati oleh sifat apapun karena Islam menyifati apa saja.”

Masih menurut Kyai Muzamil, Islam Nusantara adalah Islam yang diterapkan di bumi Nusantara. Hal itu tidak lantas menjadikan Islam di bumi tersebut lebih unggul dari belahan bumi lain. “Kita jangan terjebak oleh kanal-kanal perpecahan!” sarannya.

Kyai Muzamil menyambung penyakit hati yang sebelumnya disampaikan Cak Fuad. “Penyakit hati disebabkan oleh keinginan manusia untuk menjadi Tuhan,” katanya. Manusia yang menuhankan diri akan berperilaku seperti setan sehingga derajat kemanusiaannya turun menjadi seperti hewan.

Tagline Menata Hati Menjernihkan Pikiran ternyata mengandung berlapis-lapis ilmu kesadaran. Kita patut waspada tidak terutama terhadap kesalahan orang lain, melainkan terhadap segala bentuk kemungkinan kesalahan yang berawal dari hati yang tidak tertata.

Padhangmbulan melakukan disk defragmentation terhadap hati kita yang kacau morat-marit. []

Tidak dipungkiri, Generasi Maiyah adalah anak-anak muda. Bukan hanya mereka yang lazim dikenal sebagai generasi zaman now, tetapi juga terselip asa, mereka adalah generasi zaman next. Maiyah menjadi ruang belajar—belajar apa saja, belajar dari siapa saja, mengunyah realita, menyapa kembali masa…