Dimurnikan

Beberapa bulan lalu di sebuah tongkrongan, saya pernah bertanya kepada salah seorang sohib saya, sebut saja namanya Wahyudi. Kita lagi semacam ‘ngrasani’, tapi bukan ngrasani yang jelek-jelek. Lebih tepatnya mengeluarkan sebuah kerisauan dalam hati, dan bertanya kepadanya:

“Kok si Paijo kae sekarang gampang sakit-sakitan ya?”

Wahyudi berpikir sebentar, lalu menjawab, yang jawabannya justru malah di luar dugaan saya, “Mungkin si Paijo lagi arep munggah kenaikan tingkat spiritual ya’e kang”.

Saya paham maksud jawabannya, sebenarnya saya tadi hanya memberi pertanyaan retoris yang saya sendiri kira-kira tahu opsi jawabannya. Beberapa dugaan jawaban saya antara lain: Paijo kecapekan, Paijo terlalu banyak kegiatan, atau Paijo sering berada di luar rumah dengan kondisi cuaca yang tidak tentu kadang panas kadang hujan.

Jawaban yang di luar dugaan, ternyata masih ada opsi jawaban lain. Opsi jawaban saya yang masih berstandar pada cara berpikir yang masih katon oleh mata, materialis, tersadarkan oleh tentang hakikat: siapa yang memberi sakit dan siapa yang memberi kesembuhan.

Ketika jawaban Wahyudi adalah arep munggah tingkat spiritual, saya teringat dari beberapa riwayat Hadits yang saya sendiri tidak hafal bunyi redaksionalnya–maaf, karena saya bukan ahlinya nanti bisa dikonfirmasikan kepada ahlinya–garis besar isinya adalah bahwa sakit itu menghapuskan dosa-dosa.

Kalau saya tarik garis vertikal, ketika lagi mendapat kesusahan, penderitaan, kehilangan, seperti halnya sakit tadi, itu semacam pembakaran dari dosa-dosa atau kelalaian-kelalaian yang telah dilakukan. Itu menurut saya sebenarnya masih beruntung. Kok beruntung? Ya beruntung dong, karena dibakar dosanya sekarang di dunia, ketimbang bakarnya nanti di akhirat… yo ra? Dan ketika sedang dalam proses pembakaran dilalui dengan kesabaran dan keihlasan, dia seperti dimurnikan lagi untuk kemudian masuk ke level berikutnya yang layak dan sudah disiapkan untuknya. Bisa berupa ilmu, rezeki atau apa saja. Hanya Gusti Allah yang tahu, apabila dia sabar dan ikhlas lho yaa…

Hal tersebut juga pernah diwedar oleh Mbah Nun di Daur, apabila anda salah lalu dihukum berarti sudah benar. Apabila salah, tetapi tidak dihukum, berarti salah kuadrat.

Salah + dihukum = benar. Salah + tidak dihukum = salah kuadrat. Orang yang tinggal di penjara adalah para pejuang dan penuntas kebenaran. Ia benar-benar harus berjuang dengan ketahanan dan kesabaran, sebab posisinya minus (-). Nanti begitu masa hukumannya habis, posisinya Nol kembali.” –Daur II-275 – Ango`an Potèh Tolang, Setnov.

Dan saya sedang menikmati proses pembakaran ini, karena dalam pikiran saya tiba-tiba makbedunduk terlintas pertanyaan saya ke Wahyudi beberapa bulan yang lalu. Masih bersyukur dengan flu dan demam, bukan sakit yang lebih berat dari itu. Maturnuwun, Sob.

Beberapa bulan lalu di sebuah tongkrongan, saya pernah bertanya kepada salah seorang sohib saya, sebut saja namanya Wahyudi. Kita lagi semacam ‘ngrasani’, tapi bukan ngrasani yang jelek-jelek. Lebih tepatnya mengeluarkan sebuah kerisauan dalam hati, dan bertanya kepadanya: “Kok si Paijo kae sekarang…