Dialektika Empati: Sebuah Cara Mengenal di Luar Diri Kita

Liputan Sinau Bareng di Desa Rendeng, Kudus, 5 Oktober 2018

Kebencian pada mulanya lahir dari rasa tidak saling mengenal satu sama lain. Itu yang diajarkan Mbah Nun kepada empat kelompok yang disuruh naik ke atas panggung dan kepada semua jamaah yang hadir pada Sinau Bareng di desa Rendeng, 5 Oktober 2018.

Empat kelompok itu setiap kelompoknya terdiri dua orang. Kelompok pertama terdiri atas satu anggota Kokam dan satu anggota Banser; kelompok kedua terdiri atas laki-laki dan permpuan yang akan berperan sebagai suami-istri; kelompok ketiga terdiri atas satu orang berkewarganegaraan Indonesia dan satu orang berkewarganegaraan Turki (salah satu guru di SMA Semesta di Semarang); kelompok keempat, dan ini yang paling unik, terdiri satu orang asli Kudus sebagai representasi dari rakyat dan rencananya Bapak Bupati Kudus Ir. Tamzil sebaga representasi pemerintah.

Empat kelompok itu diminta Mbah Nun berembuk kemudian bertukar identitas. Misalnya, anggota Kokam disuruh berbicara tentang Banser seolah-olah ia adalah anggota Banser. Anggota Banser berbicara tentang Kokam seolah-olah ia adalah anggota Kokam. Dan, Orang Indonesia disuruh berbicara tentang Turki seolah-olah ia orang Turki asli. Orang Turki disuruh berbicara tentang Indonesia seolah-olah ia adalah orang Indonesia Asli. Dan, yang paling menarik adalah ketika Bupati bertukar identitas menjadi rakyat, lalu rakyat berperan sebagai Bupati.

Kelompok Banser-Korkam mendapat kesempatan pertama menjabarkan pendapatnya. Kata anggota Kokam yang berperan sebagai Banser, “Saya sebagai Banser akan menjaga NKRI. Saya akan membuktikan bahwa Banser tidak seperti berita di medsos yang katanya suka membubarkan pengajian.” Keinginan yang sama diungkapkan dengan pendapat berbeda dan disampaikan oleh Kokam yang diperankan Banser. “Aku Kokam karo Banser bakal terus bareng jaga NKRI.” Pada intinya jauh di lubuk hati Banser dan Kokam, meskipun seragam mereka berbeda, tujuan mereka sama: menjaga keutuhan Indonesia.

Niat ini persis yang sering dikatakan Mbah Nun di pelbagai kesempatan. Bahwa kita harus membantu Indonesia tetap utuh. Kita yang menyumbang Indonesia. Bukan Indonesia yang menyumbang kita. Kita yang tergabung dalam acara Sinau Bareng berusaha sedikit demi sedikit “ndandani” Indonesia.

Tentu yang dimaksud Mbah Nun dengan Indonesia tidak sekadar gugusan wilayah yang diberkahi gunung dan laut. Di dalam Indonesia ada kumpulan manusia yang membangun kehidupan dalam lingkup kecil dan besar. Banser dan Kokam yang merupakan divisi keamanan dari dua organisasi Islam di Indonesia adalah lingkup besar. Dan untuk memperbaiki Indonesia tidak cukup mengurusi yang besar saja. Yang kecil-kecil juga diurusi. Ruang keluarga juga harus diperhatikan. Maka, presentasi dari kelompok suami-istri ini terasa penting. Karena ini perwakilan suara Indonesia dari lingkup privat: rumah tangga.

Meskipun tinggal dalam satu rumah seringkali seorang suami tidak memahami perasaan istri, begitu juga sebaliknya. Di atas panggung seorang perempuan yang berperan sebagai suami menyampaikan,”Saya sebagai suami ingin istri saya kalau saya pulang kerja menyambutku dengan senyum. Kalau suami bekerja, istri mendoakan agar rezeki berkah.” Keinginan suami dijawab oleh istri dengan harapan-harapan kepada suami yang hampir sama. “Sebagai seorang istri saya harap suami saya memahami apa keinginan saya, pulang kerja tidak “mampir-mampir”, dan bersedia mendengarkan ide-ide saya biar suami tidak otoriter.”

Baik suami maupun istri, mereka semua memiliki keinginan yang sama, yakni kesadaran untuk menghargai perasaan satu sama lain, mengenal lebih dalam perasaan satu sama lain, dan sadar akan kewajiban masing-masing.

Pelajaran bagaimana memahami Indonesia sekaligus bagaimana cara memperbaikinya disuguhkan secara gamblang oleh Mbah Nun pada malam ini. Seolah Mbah Nun secara tersirat menyampaikan kepada jamaah bahwa salah satu cara memahami dan memperbaiki Indonesia bisa dicicil dengan mendengarkan pendapat para anggota ormas, mendengarkan perasaan setiap anggota keluarga, dan mengetahui pendapat orang luar negeri tentang Indonesia dan pendapat orang Indonesia tentang luar negeri.

Kebetulan pada malam ini Sinau Bareng kedatangan seorang guru di Sekolah Semesta yang berasal dari Turki tapi sudah 18 tahun tinggal di Indonesia. Menurutnya, jika ia diminta berperan menjadi orang Indonesia dan mengomentari Indonesia, tidak ada yang dikatakan selain kekaguman melihat “Tukang becak bisa lebih sukses dari bos, karena hanya tukang becak yang bisa tidur enak di mana-mana. Sedang orang sukses justru sebaliknya.” Dan, tentu saja orang Indonesia itu banyak uniknya. Misalnya “sering lupa tapi ramah”, “tetap kaya meski segala barang-barang mahal”.

Pemerintah sebagai perwakilan negara mesti mendengarkan pernyataan dari orang asing yang sedang “pura-pura” menjadi Indonesia ini. Dan, memang pada malam itu tidak ada unsur pemerintah di atas panggung. Yang ada hanya seorang anak muda sarungan dan kaosan yang didaulat Mbah Nun untuk berperan sebagai Bupati. Sepertinya peran ini tidak menyusahkan si anak muda itu. Dengan lancar di atas panggung Bupati gadungan itu berkata, “Saya himbau-himbau kepada rakyat-rakyat saya untuk tetap menjaga kondisi hati. Jangan mudah terprovokasi. Sebab saya analisis masyarakat-masyarakat milenial gampang terprovokasi. Jangan mudah share-share berita tidak jelas.” Serentak jamaah yang di depan panggung yang bertindak sebagai rakyat serentak menjawab: inggih.

Keberadaan “Bupati” di atas panggung itu tidak hanya untuk menyampaikan pidato pendek di depan rakyatnya. Beliau juga membuka sesi untuk mendengarkan aspirasi dari rakyatnya. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh rakyatnya yang berprofesi sebagai guru honorer yang kebetulan duduk di depan panggung. Kata si guru, kapan Bapak Bupati merealisasikan janjinya akan memberi gaji guru honorer minimal satu juta sebulan. Pertanyaan ini dipahami oleh Bupati. Kata Bupati, beliau tidak ingat semua janjinya. Sebab, ada 14 janji yang beliau sampaikan saat kampanye. “Masak baru satu bulan dilantik sudah menjalankan semua janjinya,” kata si Bupati.

Mbah Nun langsung ikut nimbrung. “Pak Bupati, pada malam ini Anda benar-benar harus merasa menjadi Bupati. Jadi, kalau Anda ditanya janji, Anda harus memastikan kepada rakyat Anda malam ini juga bahwa Bupati sekarang ini tidak termasuk tiga ciri orang munafik.” Pertama, berkata bohong; kedua tidak menepati janji; ketiga tidak amanah menjalankan jabatan.

Empat kelompok yang terdiri delapan orang memerankan di luar dirinya. Mereka dipaksa dalam jangka waktu yang singkat untuk belajar tampil sebagai pribadi di luar dirinya. Menurut Mbah Nun, “Kenapa saya bolak-balik. Karena ini cara berempati. Kalau kita ingin mengetahui perasaan tukang becak ya harus berempati pada tukang becak. Menilai tukang becak gampang, tapi berempati itu susah. Ini namanya dialektika empati.”