Diajak Mikir Bareng, Orang-Orang Pun Betah

Liputan Sinau Bareng CNKK di Padepokan PSHT Madiun, 15 Juli 2018

Ibu pemilik warung tempat saya ngopi di lokasi acara Ngaji Bareng semalam tak henti-hentinya mengutarakan betapa ramainya malam itu di lapangan dekat padepokan Setia Hati Terate.

“Sejak sore, orang sudah sebegini ini,” tidak jelas ibu ini mengajak bicara ke siapa. Dalam dimensi perwarungan, komunikan dan komunikator kadang tidak begitu jelas. Siapa saja boleh ngomong apa, siapa saja boleh menimpali dan siapa saja boleh memilih diam. Saya pilih diam, supaya bisa menyimak. Lagipula, bahasa Jawa saya wagu.

Sebenarnya si ibu ada kagolnya juga, karena miturut ceritanya dia tidak bersegera buka warungnya lebih awal saat dikabari oleh tetangganya “yang jualan ndek kono iku lho.”

Lapangan memang penuh, penuh betul. Itu belum hadirin yang berada di dalam Padepokan sendiri yang untuk masuk memang dibatasi untuk undangan.

Rata-rata anak muda, dengan seragam dan atribut yang merujuk pada simbol-simbol perguruan. Tak jarang juga berpeci seperti yang biasa diidentikkan dengan peci Maiyah. Layar terkembang di sisi-sisi lapangan untuk membantu hadirin di lapangan mengobati kerinduan. Mbah Nun dan KiaiKanjeng belum di panggung, sambutan dari sesepuh perguruan dimanfaatkan untuk menyelaraskan dan mencari solusi dari beberapa problem. Wajarnya dalam sebuah persaudaraan, mesti ada dinamika dan konflik, tapi selama masih ada hasrat paseduluran, solusinya bisa dirembug. Tentu juga beberapa pejabat dan tokoh masyarakat yang hadir lumrahnya diberi tempat sebentar.

“Iki ngko nek Cak Nun biasanya sampai jam loro,” sebenarnya sejak tadi ibu pemilik warung masih berceloteh. Saya kembali menyimak.

“Sampai jam loro? Koyo Gus (menyebut nama seorang Kiai sepertinya) ya bisa sampai malam. Jik nom soale guse iku”

“Hooh, ning nek guse iku ceramah tok, lucu-lucuan. Nek Cak Nun iku ora model ceramah tok. Dialog, dijak mikir bareng wong-wong makanya do betah.”

Dulu saya pikir, terminologi “Sinau Bareng” atau “Ngaji Bareng” sebagai perombakan tradisi komunikasi satu arah, baru bisa dimengerti oleh orang-orang berpendidikan formal. Rupanya melihat ibu pemilik warung ini yang, dengan tanpa merendahkan sama sekali saya perlu katakan, jauh dari kesan berpendidikan formal ternyata sudah memahami esensi Ngaji Bareng. Justru pada manusia berpendidikan dengan rujukan kitab-kitab bertumpuk dengan nama sanad guru berjumlah-jumlah kadang masih saja ada yang mengira KiaiKanjeng adalah sekadar “penyedap rasa pengajian” atau sekadar nilai tambah pengajian. Tapi ibu ini malah benar-benar paham bahwa dalam Ngaji Bareng, memang yang dicari adalah kegembiraan serta mengolah persoalan bersama-sama dengan kebersamaan.

Lapangan penuh manusia dan rasanya padat oleh energi. Ini manusia-manusia, pemuda-pemudi yang penuh daya hidup. SH Terate yang ajaran dasarnya soal persaudaraan, adalah wadah yang menampung energi ini. Negara ini banyak tertolong dengan padepokan-padepokan seperti ini di berbagai tempat karena potensi energi seperti ini memang harus ada celah yang melancarkan pengalirannya. Hal ini belum pernah jadi concern negara modern.

“Saya melihat perguruan silat anda ini, semacam thoriqot,” kata Mbah Nun ketika telah berada di panggung.

Ngaji Bareng, SH Terate malam itu diajak oleh Mbah Nun untuk menemukan “aji” dari ruang-ruang persaudaraan yang telah terbangun selama ini. Maka ajakan Maiyah untuk selalu menjadi manusia yang meruang dan menampung keluasan adalah ajian yang mengaktivasi ajian-ajian kreatif lainnya pada diri masing-masing individu. Individu yang berkumpul karena Setia Hati-nya satu sama lain, individu yang berkumpul dalam jamaah dengan otentisitas capaiannya masing-masing, bukan individu yang dpaksa jadi massa. (MZ Fadil)