Di TVRI Tidak Ada Putri Yang Tertukar

Reportase Sinau Bareng CNKK dalam HUT ke-53 TVRI Yogya, 9 Agustus 2018

Bukan itu saja, KH Hasyim Asy’ari bagi yang NU dan KH Ahmad Dahlan bagi yang Muhammadiyah pun juga jarang digali detail hidupnya. Begitu kita mau baca biografi beliau-beliau, tahu-tahu sudah tua, perjalanan masa mudanya hanya bertebaran dari oral ke oral tanpa verifikasi. Kalau kisah-kisah mitos banyak, dan itu sekadar sesuai selera saja. Tapi yang benar-benar data, nah itu selalu kita kesampingkan. Padahal, urusan belajar sejarah adalah menemukan kelebihan serta kekurangjangkepan di masa lalu agar bisa kita perbaiki di era kita. Kalau semua tokoh dikenang sempurna, lantas kok bisa jadi seperti ini bangsanya? Di situ kita bisa lihat ketidaksediaan kita membongkar kemapanan versi sejarah yang kita anut, kita tidak siap dengan kebenaran tapi selalu bersikap seolah paling benar.

Pada akhir 1800-an Hindia-Belanda memasuki era ekonomi liberal, terutama pasca perang Diponegoro. Pembukaan Terusan Suez pada era yang berdekatan juga mempengaruhi. Wajah dunia sedang berubah. Berapa banyak kita pelajari investor yang masuk ke sini saat itu? Berapa banyak perusahaan yang disangka pondok pesantren? Kenapa pemerintah Hindia-Belanda perlu mencap gelar “Haji” untuk person yang diberi legitimasi pengajaran agama dan gelar apa yang disematkan bagi para pemilik lahan perkebunan yang disewa investor dari (kebanyakan) Eropa?

Dan berapa banyak tokoh kultural yang dipahlawankan justru adalah orang yang hidupnya bergantung dari pinjaman dana swasta oleh pemerintah Hindia-Belanda? Berapa besar anggaran pemerintah Hindia untuk menyemarakkan ritual-ritual di makam orang keramat? Perang apa saja yang urusannya soal kedaulatan dan perang apa yang urusannya soal persoalan lahan antar investor?

Organisasi apa saja yang berdiri atas restu pemerintah Hindia-Belanda pada era “kemesraan” disekitar 1900-1930? Sesiapa saja putra mahkota para raja yang pernah berkuasa di Nuswantara?

Mari kita mendetailkan semua ini. Maukah kita? Atau kita lebih memilih memelototi sinetron “Putri Yang Tertukar”? TVRI, tentu tidak menayangkan sinetron macam ini, sebab urusannya sekali lagi seperti kata Mbah Nun, berbeda. Generasi Maiyah urusannya pada keluasan dan begitu luas hal-hal yang menantang untuk kita selidik-selidiki di masa lalu sehingga mungkin akan menyibak sedikit tirai misteri di depan.

TVRI ini, menurut Mbah Nun juga adalah korban dari ketidakjelasan pola pikir terutama pemangku perintah alias pemerintah. Misal dicontohkan oleh Mbah Nun, hanya karena dulunya TVRI di bawah kementerian penerangan yang dianggap sebagai corong Orba, lantas ketika Reformasi bergulir tanpa tedeng aling-aling departemennya dibubarkan. Tentu itu tidak salah, hanya kurang jangkep perhitungan bahwa ada hal-hal yang terlanjur lahir dan besar, terlanjur banyak yang hidup dari situ. Toh kalau memang mau menghabisi semua “anak haram zaman” sebaiknya memang semuanya saja dari ormas hingga bentuk konstitusi, pemerintahan bahkan negara.

Tapi ini juga kita tidak, jadi kita nanggung di berbagai hal. Sehingga hasilnya sejak itu “TVRI jadi luntang-lantung ra karuan” karena saya pernah mengalami hidup di TVRI selama tiga bulan (walau sekadar pelatihan kamerawan yang saya juga sudah lupa semua teknisnya, sekalian minta tolong bagi pembaca yang kenal, sampaikan salam untuk Pak Banteng di sana, mentor kamerawan segala zaman) di Senayan dulu. Saya rasa ini mewakili banyak sekali keresahan sesepuh-sesepuh yang mengabdikan diri di TVRI.

Pada awal kemunculan tv swasta, hampir semua tenaga teknis berasal dari pendidikan dasar di TVRI. Artinya, setelah disia-siakan oleh zaman, oleh pemerintahan, oleh negara. TVRI juga tetap tidak habis-habis bershodaqoh, ini perlu saya cantumkan dalam reportase agar seperti saran Mbah Nun soal sejarah di atas, kita tidak lupa hal semacam ini.

“Kalau ada pisau dipakai melukai orang, Anda salahkan pisaunya atau orang yang memakainya?,” sekali lagi Mbah Nun menantang logika dasar, tentu salah orangnya. Itulah keluputan logika pada era pembubaran Departemen Penerangan dulu. Jauh sebelumnya, pernah terjadi juga misal pembubaran Masyumi pada era Soekarno. Kalau kita baca sepintas, tampaknya kekecewaan dari ketidakjangkepan macam itu yang melahirkan sosok-sosok keras seperti Syekh Abu Bakar Ba’asyir.

Kita sedang menuai segala ketidakjangkepan zaman pada era ini, yang ditanam dari bibit perpecahan generasi-generasi sebelum kita dan tampaknya belum ada tanda-tanda di kahyangan pemerintahan negeri seberang untuk mengutuhkan kembali. Anak-anak zaman yang lahir tanpa pernikahan logika, anak-anak haram para bangsawan dan para raja berbagai ordo mengobarkan pertikaian di mana-mana, suto kurowo, yang lahir dari rahim peperangan dan persantetan ideologi, putra-putri yang tertukar masih akan terus lahir bila kita tidak kembali mengutuhkan diri. Sinau Bareng adalah usaha kembali menjangkep setelah berabad-abad kita dipenggal-penggal menjadi sepertiga-sepertiga.

Buku dan Merchandise