Di Tinambung Bershalawat Pagi

Catatan Perjalanan Manaraturrahmah, 9 April 2018

Foto: Adin

Mohon izin melaporkan. Saya sudah berada di Tinambung pagi ini. Tentu tidak sendirian. Saya berada di dalam rombongan KiaiKanjeng. Setelah menempuh perjalanan malam dari Makassar sepanjang 355 km, kami dijadwalkan mampir di Tinambung. Saudara kita Teater Flamboyan dan Jamaah Maiyah Mandar sudah menunggu kami. 

Tepat ketika bis berhenti di pusat keramaian pasar Tinambung, dari dalam bis, saya melihat Bang Hamzah Ismail, Bang Eppo, Pak Amru, Pak Latappa, Haji Manaf, dll sampai yang  muda-muda semua berdiri menyambut satu persatu bapak-bapak KiaiKanjeng turun. Begitu sampai di bawah, mereka menyalami dan memeluk setiap pasukan KiaiKanjeng. Saya terharu setiap kali menyaksikan ekspresi kedalaman persaudaraan terpancarkan.  

Foto: Adin

Ternyata kami berhenti di rumah salah seorang dari mereka. Abu Bakar namanya, seseorang yang dulu kisahnya saya tulis di Rihlah Sosiologi untuk Kiai Muzammil. Seseorang yang berteriak, “Cak… tolong Cak!”. Dia masih hidup, dan bisa kita crosscheck. Kami dibimbing masuk ke dalam rumah, yang di dalamnya sudah tergelar piring-piring dengan beragam makanan. Menu utamanya adalah nasi kuning dengan bumbu tahu telur dan ikan. Selebihnya berbagai makanan khas Mandar menggoda selera makan saya. Tapi, saya harus mengendalikan diri. Untung salah satu ibu tuan rumah paham. Diambilnya plastik, dibungkus jajan-jajan itu, dititipkan ke Mbak Yuli, buat bekal melanjutkan perjalanan. 

Memang rombongan masih harus menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya menuju Mamuju untuk agenda pertama Perjalanan Manaraturrahmah ini, malam nanti. Di rumah Abu Bakar ini, kami dipersilakan menyantap sarapan pagi senikmat-nikmatnya. Sembari bersamaan dengan itu, terdengar oleh saya obrolan-obrolan penuh keakraban, sesekali derai tawa terdengar. 

Foto: Adin

Setelah dirasa cukup, rombongan pun bersegera pamit. Tapi gimana caranya pamit. Oleh KiaiKanjeng, Pak Nevi diminta menyampaikan dulu sepatah dua patah kata. Semua duduk lebih rapat, guna mendengarkan sambutan salah satu pendiri dan sesepuh KiaiKanjeng. Rasa terima kasih disampaikan bahwa teman-teman Teater Flamboyan dan JM Mandar sudah menjamu KiaiKanjeng pagi ini. Berharap, jamuan ini melambangkan bahwa persaudaraan dan silaturahmi kita akan selalu abadi. “Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih,” pungkas Pak Nevi. Harap dicatat, memang Pak Nevi layak mewakili KiaiKanjeng, karena beliaulah orang yang paling awal menemani Mbah Nun menapakkan jejak persahabatan di bumi Mandar ini. 

Bang Hamzah kemudian membalas sambutan Pak Nevi. Sesudah mengucapkan salam, terhentilah Ia beberapa saat. Saya pandang wajahnya dari jarak dekat. Tak kuasa Ia menahan haru atas kehadiran tamu-tamu yang mulia ini. Dari kedalaman hatinya, Bang Hamzah menyampaikan harapan dan doa, bahwa lantaran perjumpaan pagi ini, semoga Allah selalu memberikan bimbingan kepada rekan-rekan Mandar khususnya kepada lapis generasi mudanya. Saya lihat memang misalnya ada satu di antara mereka yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Mungkin dia izin sejenak dari sekolah buat ikut menyambut Pakde-Pakde KiaiKanjeng. Sebuah permohonan doa untuk regenerasi, yang siapapun di antara kita yang berpikir kelanjutan perjuangan dan kebaikan di masa depan membutuhkannya. 

Foto: Adin

Dan, puncak pertemuan itu adalah berdiri bersama, lalu membenamkan diri dalam kekhuyukan shalawat. Mbak Nia diminta memimpin melantunkan Shalatun Minallah Wa Alfa Salam. Suasana khusuyuk beberapa saat sebelum pamitan terasa  meneguhkan bahwa persaudaraan ini sungguh berada di bawah naungan menara kasih sayang-Nya serta syafaat Kekasih-Nya, Muhammad Saw. Manaraturrahmah di bumi Mandar pagi ini telah bermula.

Tinambung, 9 April 2018

Mohon izin melaporkan. Saya sudah berada di Tinambung pagi ini. Tentu tidak sendirian. Saya berada di dalam rombongan KiaiKanjeng. Setelah menempuh perjalanan malam dari Makassar sepanjang 355 km, kami dijadwalkan mampir di Tinambung. Saudara kita Teater Flamboyan dan Jamaah Maiyah Mandar sudah…