Di Lapangan Hijau, Harapan itu Masih Terjaga

Dulu, saya sempat membenci strategi bertahan yang diterapkan sebuah tim sepakbola ketika bertanding di level turnamen internasional. Bagi orang yang awam sepakbola, sepakbola pasif, bertahan dan menumpuk pemain di area pertahanan sendiri adalah skema yang membosankan. Bagi penikmat sepakbola modern kebanyakan, pertandingan yang menghibur adalah pertandingan yang menghasilkan banyak gol. Sehingga, ketika salah satu kesebelasan yang sedang diunggulkan untuk menang, namun pada akhirnya harus kalah hanya karena berhadapan dengan kesebelasan yang menerapkan strategi bertahan, tentu akan sangat memuakkan. Apalagi kalau kalah taruhan.

Kebanyakan kita tentu berharap, tensi pertandingan seperti Perancis vs Argentina tersaji di setiap pertandingan. Kedua kesebelasan bermain terbuka dan saling menyerang, ditambah banyak peluang dan juga gol yang tercipta. Andai saja kekuatan seluruh kesebelasan merata, mungkin akan kita nikmati pertandingan serupa. 

Alangkah bodohnya jika Rusia meladeni permainan terbuka Spanyol. Anak asuh Cherchesov memilih untuk bersabar menumpuk 9 pemain di area pertahanan sendiri. Banteng-banteng Spanyol sengaja dibiarkan menguasai bola, bahkan sempat mencapai 90% prosentase penguasaannya. Para kamerad Sbornaya dengan telaten membatasi ruang gerak pemain La Furia Roja ketika memasuki area kotak pinalti. Fernando Hierro pun dibuat frustrasi di pinggir lapangan menyaksikan anak asuhnya mengalami kebuntuan.

Penonton netral tersenyum lebar ketika menyaksikan kegagalan para jugador Spanyol gagal mengeksekusi tendangan 12 pas di babak adu pinalti. Piala Dunia 2018 ini memang sulit diprediksi. Kegagalan tim-tim unggulan secara tidak langsung membuka peluang bagi kesebelasan kuda hitam untuk muncul ke permukaan. Kegagalan negara tradisi juara dunia melangkah lebih jauh di turnamen ini memunculkan sebuah prediksi bahwa akan ada juara baru tahun ini. 

Kesuksesan Cristiano Ronaldo dalam beberapa tahun terakhir bersama Real Madrid, juga ketika mengantarkan Portugal menjuarai Piala Eropa 2 tahun lalu, nyatanya tak berlanjut di Piala Dunia kali ini. Lebih tragis lagi bagi Lionel Messi, salah satu dari dua pemain terbaik dunia saat ini tak mampu mengantarkan Le Abiceleste berjaya di turnamen akbar sepakbola sejagad ini. Argentina harus kandas di hadapan Perancis di babak 16 besar.

Kegigihan tim-tim yang tidak diunggulkan dalam turnamen kali ini justru lebih menarik untuk disaksikan. Bagaimana Meksiko membungkan Jerman. Kejutan Islandia yang mampu mengimbangi Argentina. Juga pertandingan sarat tensi politik Serbia berhadapan dengan Swiss. Iran dan Maroko yang mampu menyulitkan Portugal dan Spanyol, adalah sederet pertandingan yang mengejutkan penikmat sepakbola di Piala Dunia kali ini.

Ketika Panama hanya mencetak 1 gol ketika mereka dibantai Inggris setengah lusin, Anda menyaksikan betapa bahagianya para fans mereka di tribun penonton merayakan gol semata wayang tim terlemah di turnamen kali ini. Bahkan di pertandingan pertama, seorang pundit lokal Panama tampak meneteskan air mata ketika lagu kebangsaan mereka diperdengarkan di Fhist Stadium, Shoci. Meskipun pada pertandingan itu mereka kalah 3 gol tanpa balas dari Belgia, lolos ke Piala Dunia 2018 merupakan sebuah kebanggaan. Maka, 1 gol yang dicetak oleh Felipe Baloy ke gawang Inggris adalah gol yang akan dikenang oleh rakyat Panama. 

Di Piala Dunia, kita menyaksikan bagaimana sebuah kesebelasan dari sebuah negara mengemban misi yang begitu berat untuk mengharumkan nama baik negara mereka di lapangan hijau. Bendera yang dikibarkan dan lagu kebangsaan yang diperdengarkan sebelum pertandingan dimulai adalah sebuah peristiwa suci yang sangat bersejarah. Apalagi jika mampu menjadi negara yang menjuarai turnamen sepakbola terbesar di dunia ini.

Ribuan kilo jaraknya dari Rusia, kita hanya mampu meramaikan euforia Piala Dunia seperti biasanya. Dan setiap menonton pertandingan di Piala Dunia, selalu terselip harapan, kapan kesebelasan Indonesia bisa tampil di turnamen empat tahunan itu. Harapan, harus selalu tetap ada, sekecil apapun itu.

Harapan itu kini kembali muncul seiring dengan penampilan Tim Nasional U-19 Indonesia yang sedang bertanding di turnamen AFF U-19. Kebetulan, tahun ini Indonesia kembali menjadi tuan rumah turnamen sepakbola U-19 lagi. Empat tahun lalu, di kota yang sama yaitu Sidoarjo, Tim Nasional U-19 Indonesia berhasil menjuarai turnamen ini. Semoga saja tahun ini juga demikian. Aamiin.

Betapa bangganya kita melihat anak-anak muda terpilih itu bertanding di Gelora Delta Sidoarjo selama babak penyisihan kemarin. Semangat juang mereka begitu tinggi, mereka sadar bahwa yang sedang mereka perjuangkan adalah nama baik bangsa dan negara mereka. Lambang Garuda yang tersemat di dada mereka bukan lambang sembarangan. Perjuangan sepanjang 90 menit di lapangan adalah sebuah perjuangan sakral. Sepakbola memang terlalu kecil untuk dijadikan media yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa yang akhir-akhir ini memecah persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia.

Sepakbola tentu tidak akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini. Tetapi satu hal yang sangat nyata adalah sepakbola telah mampu mempersatukan kita. Menyaksikan kegigihan Witan Sulaiman, Todd Ferre, Nurhidayat hingga Muhammad Riyandi berjibaku di lapangan hijau adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Keterampilan mereka dalam menggiring bola, membangun strategi untuk membongkar pertahanan lawan, menumbuhkan keyakinan bahwa bangsa ini mampu untuk melahirkan sebuah generasi sepakbola di masa depan yang berkualitas.

Anda semua menyaksikan bagaimana kesabaran dan ketelatenan anak-anak U-19 ini membongkar pertahanan Vietnam akhir pekan lalu. Bahkan ketika menurunkan beberapa pemain lapis kedua di pertandingan terakhir babak penyisihan melawan Thailand, kegigihan mereka untuk mencetak gol ke gawang Thailand sangat luar biasa. Menang atau kalah dalam sebuah pertandingan sepakbola adalah keghaiban. Jumlah gol yang dicetak oleh seorang pemain juga merupakan hal yang tak bisa dipastikan. Tentu tak ada gunanya sebuah turnamen jika sebelum pertandingan dimainkan sudah bisa dipastikan kesebalasan yang mana yang akan menjadi juara.

Dari anak-anak muda U-19 ini, kita bukan hanya sedang belajar tentang sepakbola. Dari mereka kita juga tidak sekadar melihat sebuah semangat nasionalisme yang menggelora melalui sepakbola. Tapi lebih dari itu, optimisme dalam diri kita kembali tumbuh, bahwa masa depan bangsa Indonesia sudah kembali berada di jalur yang benar. Jika kemudian kembali keluar dari jalur yang seharusnya, bukankah sudah biasa terjadi? Bangsa ini terlatih untuk tetap tangguh dalam setiap kejatuhan. Mental bangsa ini sudah terlatih untuk bangkit kembali ketika jatuh.

Dulu, saya sempat membenci strategi bertahan yang diterapkan sebuah tim sepakbola ketika bertanding di level turnamen internasional. Bagi orang yang awam sepakbola, sepakbola pasif, bertahan dan menumpuk pemain di area pertahanan sendiri adalah skema yang membosankan. Bagi penikmat sepakbola modern…