Dewan Keamanan Maiyah dan Eksperimentasi Strategi Keamanan Multidimensi

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (9)

Wah, agak panjang ini. Di DK-M, sistem religi adalah nilai utama yang kemudian diterjemahkan menjadi “Solusi Segitiga Cinta Maiyah” (Tuhan-Muhammad-Manusia) sebagai antitesis dari Solusi Bulatan yang dianut mayoritas penduduk bumi.

Sistem organisasi kemasyarakatan juga sangat tegas dengan menolak segala bentuk pelembagaan dan pengorganisasian. Yaitu apa yang kemudian disepakati dengan penyebutan “organisme Maiyah” (bukan organisasi Maiyah, apalagi sekedar ormas).

Sistem pengetahuan yang dikembangkan juga tidak menganut metode “akademis”. Melainkan filosofi Jawa kuno yang berbunyi “Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku” yang lebih mengutamakan filsafat empiricism daripada konseptualisasi dan tradisi menurut…mengacu…berdasarkan…).

Sistem mata pencaharian hidup yang dikampanyekan bukan prosperity, kemakmuran, dan kesejahteraan atas dasar prinsip ekonomi supply and demand, saving, interest, dan capital. Tetapi yang mereka namakan dengan “Tauhid Penghidupan”.

Sistem teknologi dan perlengkapan hidup-nya juga unik karena menekankan teknologi pengenalan dan pendalaman diri, teknologi ke dalam, inner peace and inner power (IPIP) sebelum benar-benar siap mengelola teknologi di luar diri (outer technologies).

Bahasa, sebagaimana sudah disinggung di atas, adalah bahasa simbolik, bahasa kemesraan, bahasa sesrawungan, dan bahasa dekonstruktif yang selalau mengajak semua orang berpikir dan mengaktivasi fungsi akal sehat seoptimal mungkin. Kesenian, yaitu gamelan dan alat-alat musik lain, teater, drama, puisi adalah senjata utama DK-M (bukan bedil, meriam, dan missile) yang tidak hanya memungkinkan universalitas komunikasi lintas budaya, lintas agama, lintas generasi, bahkan lintas dimensi kehidupan, tetapi juga media paling efektif untuk menyentuh alam rasa manusia yang sama sekali tak pernah disentuh oleh DK-PBB.

Kesembilan, misi pengamanan dan perdamaian yang dilakukan DK-M tidak hanya yang sifatnya kuratif atau interventif sebagaimana yang dianut DK-PBB. Tetapi juga preventif dan partisipatif. Lihatlah misalnya setting panggung-panggung Maiyahan atau Sinau Bareng, yang nyaris sejajar dengan ribuan jamaah di depannya, tanpa pengamanan dan tanpa pagar pengaman (bandingkan dengan pasukan misi perdamaian DK-PPB di setiap negara yang berkonflik). Jika pun ada pasukan Banser di beberapa daerah yang berinisiatif mengamankan, itu bonus saja dari mereka. Itu pun banyak dari mereka yang sengaja maju ke depan agar bisa bersalaman atau selfie dengan Cak Nun. Manajemen pengutamaan prinsip trust dan equality (bukan patron-client) menjadi dasar dari misi ini.

Kesepuluh, dan ini poin terakhir sementara yang bisa saya observasi dan refleksikan berdasarkan sesrawungan saya dengan “organisme” ini, adalah fokus atau area of work. Fokus dari DK-PBB masih bersifat “sepertiga”, sementara DK-M sudah mencoba fokus pada pengamanan nilai-nilai “tiga pertiga” kemanusiaannya. Manusianya secara utuh yang memiliki tiga unsur utama (fisik-akal-hati nurani, atau benar-baik-indah, atau yang tadi saya singgung nyawa-harta-martabat, dan “kodrati triangle” manusia yang lain (bukan karena agamanya, bangsanya, atau yang remeh temeh zodiaknya apa).

Jadi, karena narasinya sudah cukup panjang, dan ancaman keamanan adalah masalah utama kemanusiaan. Saya simpulkan saja dari kalimat sederhana yang ditulis pada sobekan kertas oleh teman homeless saya Maurice Young di Indianapolis dan ia berikan kepada saya sebelum saya pulang kampung dari negeri inisiator DK-PBB tahun 2014: “Can we solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them?”.

Saya tegaskan lagi, the same kind of thinking sejak 72 tahun yang lalu DK-PBB didirikan, dan kita berharap dunia aman dan damai??? Ya salaam….

Buku Cak Nun