Dewan Keamanan Maiyah dan Eksperimentasi Strategi Keamanan Multidimensi

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (9)

Kelima, sebagai manifestasi dari pengamalan nilai demokrasi, setiap tahun DK-PBB melakukan voting dalam rapat plenonya untuk memilih anggota tidak tetap. Dan lucunya, sudah statusnya tidak tetap, jumlahnya pun sangat dibatasi sesuai aspirasi dari kelima anggota tetap.

Di DK-M tidak dikenal istilah voting, karena mereka juga segan menggunakan kosa kata demokrasi. Idiom khas yang mereka percaya sebagai nilai dasar demokrasi adalah musyawarah atau rembugan yang menjadi karakter budaya khas masyarakat lokal berabad-abad, yang oleh Indonesia malah diganti dengan demokrasi ala pencetus DK-PBB.

Saking demokratisnya mekanisme sidang dan pengambilan keputusan di semua level DK-M (bahkan secara struktural tidak ada leveling organisasi dan kelembagaan vertikal, yang ada hanya level nilai dan pemahaman), seluruh anggota tetap DK-M secara berdaulat melaksanakan sidang plenonya sendiri-sendiri setiap bulan sesuai dengan isu krusial yang dihadapi negerinya masing-masing.

Jika dikalkulasi, tema sidangnya hampir selalu mengakomodir urusan internasional yang menyangkut hajat hidup orang banyak di negeri tetangga dan di muka bumi, bukan kepentingan masing-masing negeri lima anggota tetap DK-M. Tak ada SPPD, perjalanan dinas, uang saku, atau biaya akomodasi. Karena yang sering terjadi malahan tombok sana-sini yang melatih semua warganya memahami prihatin bukan sebagai menjalani kesusahan, tetapi manjalani metode tirakat dan manajemen efisiensi yang sangat fungsional.

Keenam, bahasa resmi yang digunakan DK-M juga bukan bahasa yang digunakan oleh anggota tetap layaknya di DK-PBB (Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia, dan Spanyol). Tetapi bahasa simbolik, sanepa, amsal, dan bahasa-bahasa perumpamaan yang menyentuh titik kesadaran terdalam manusia dan memungkinkan seluruh bangsa anggota tetap dan anggota tidak tetap. Bahkan bangsa non-anggota, baik yang kasat mata (bangsa yang bermukim di lima benua, maupun ribuan bangsa-bangsa kecil yang disatukan oleh lima sila) dan bangsa-bangsa yang tak nampak secara fisik (jin, iblis, al-marid, gendruwo, darmogandul, gatholoco) bisa memahami ilmu dan pesan-pesan pengamanan dan perdamaian Maiyah. Metode ini juga mengacu pada teks kitab suci yang menegaskan bahwa sang pembuat kitab suci tidak malu memakai istilah.

Ketujuh, Logo DK-PBB sangat melambangkan hegemony peradaban Barat di tengah-tengah lima lingkaran (lima anggota tetap) yang seolah-olah menguasai seisi bumi. Proyeksi peta bumi yang diambil juga dari kutub utara (kok bukan dari timur atau selatan yang pasti lebih berwarna karena penampakan daratan negeri-negeri di bagain ini tidak mungkin tertutup salju abadi) yang beku abadi seolah lima kekuatan itu abadi membekukan hegemoni itu.

Ranting Zaitun (olive oil) yang dipakai sebagai simbol pengapit perdamaian dunia juga janggal karena sepanjang pengalaman saya menengok empat benua selain Afrika, mayoritas pemakai olive oil ya orang bule (mungkin kita diapusi suruh masak gorengan-gorengan pakai minyak sawit sepanjang hayat sampai hutan di Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi penuh dengan pohon kelapa sawit).

DK-M tidak memiliki simbol paten. Website resmi dan dua lingkar utama perintis Maiyah Padhangmbulan dan Mocopat Syafaat sebagai anggota tetap DK-M juga hanya menggunakan huruf Arab Nun yang dibiarkan multi interpretative sesuai keinginan penafsir (barangkali untuk menghormati Cak Nun atau terinspirasi dari ayat 1 Al Qolam, yang mengawali sebuah kalimat janji dari Tuhan “Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”, atau bisa juga tafsir-tafsir lain yang tidak hegemonis).

Tiga lingkar Maiyah yang lain dan sekitar 60-an simpul-simpul Maiyah yang tersebar se-antero Nusantara hingga Korea Selatan juga dipersilahkan menggunakan simbol, logo, dan slogannya masing-masing sesuai dengan kesepakatan nilai lokal dan spirit pemersatu yang bisa mengikat imagined solidarity (meminjam istilahnya Asef Bayat) warganya (karena harus diingat di sini tentang kodrat manusia sebagai homo symbolicum yang amat hobi dengan bahasa dan komunikasi simbolis.

Kedelapan, pendekatan pengupayaan keamanan dan perdamaian DK-PBB adalah militeristik, ekonomi, dan politis. Sehingga sudah hampir pasti, isu-isu keamananan yang tidak ada kepentingannya dengan tiga aspek tersebut, wabil khusus untuk semakin kuat dan sejahteranya lima anggota tetap, maka veto a dan veto b akan segera dipersiapkan, atau setidaknya abstain dalam proses voting untuk pengambilan keputusan strategis sudah diagendakan (coba telisik kasus Palestina saja).

Sementara, DK-M menggunakan metode budaya tanpa meninggalkan satupun unsur universalnya (ingat tujuh unsur universal categories of culture oleh Antropolog dari Harvard Clyde Kluckhohn?).

Buku Cak Nun