Desa Purwa

Mukadimah Suluk Surakartan April 2018

Bertahun-tahun lamanya bangsa ini mengalami ketertindasan. Sejak zaman kolonialisme, bangsa-bangsa di Nusantara mengalami tekanan demi tekanan yang sangat kompleks. Bukan oleh para penjajah dari negeri asing semata-mata, tetapi lebih karena sebagian anak bangsa memilih mengabdi kepada para penjajah sehingga bangsa ini berperang satu sama lain.

Begitu kuatnya tekanan yang dialami, anak-cucu di kemudian hari perlahan-lahan kehilangan pijakan akan nenek moyangnya. Mereka yang memilih mengabdi kepada para penjajah asing, memilih untuk mengagumi kehebatan para penjajahnya. Sedangkan mereka yang melawan para penjajah asing beserta para anteknya, yang tak lain adalah saudaranya sebangsa, dibinasakan hingga tak mampu mewariskan banyak hal tentang cerita leluhurnya.

Keadaan ini terus berlangsung hingga akhirnya bangsa-bangsa di Nusantara ini mendirikan negara yang bernama Indonesia. Sebuah negara yang namanya mengambil kata dari khazanah bahasa Belanda, yakni Netherland-Indische atau Hindia Belanda. Ibarat orang melahirkan, bangsa-bangsa yang merupakan ibu dari negara Indonesia ini membiarkan anaknya yang masih bayi diberi nama oleh Pak RT-nya.

Ketika Indonesia tumbuh sebagai negara, nyatalah bahwa ia berjalan tidak mengikuti garis leluhurnya. Ia seperti anak yang kehilangan arah karena tidak mengetahui orang tuanya. Pemerintahnya lebih suka berutang dan menggadaikan aset untuk jaminannya. Para elitnya lebih suka mengejar keuntungan untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Pendidikannya membebek pada peradaban Barat. Dan masih banyak lagi hal aneh dari anak yang bernama Indonesia ini.

Anak-anak bangsa, semakin hari semakin lupa sebenarnya seperti apa nenek moyangnya dahulu. Mereka mengira bahwa peradaban Indonesia dimulai sejak 1945 saja. Mereka mengira prosesnya baru dimulai ketika Sumpah Pemuda tahun 1928. Padahal, bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan Nusantara, telah ada jauh beribu tahun silam. Mereka telah melahirkan peradaban yang sangat maju silih berganti. Sehingga, sebenarnya Indonesia ibarat anak bungsu yang mengalami gangguan mental dan spiritual. Anak-anak bangsanya menjadi minder, mudah kagum pada yang serba asing, serta bermental emprit ketika berhadapan dengan dunia.

Bangsa ini perlu belajar kembali tentang leluhurnya. Para cerdik cendekia di seluruh dunia saat ini terus meneliti tentang Nusantara. Hampir-hampir mereka menemukan kesimpulan yang sama dan mengejutkan, bahwa di kepulauan Nusantara inilah pernah ada peradaban tua yang dulu menjadi penguasa dunia. Yang mengajari bangsa-bangsa lain menjadi lebih beradab dan mengenal teknologi tingkat tinggi. Entah namanya Atlantis, Paradise, Taman Eden, atau apa pun, banyak ilmuwan yang meyakini bahwa Nusantara dahulu pernah menjadi pusat peradaban dunia. Itulah sesungguhnya leluhur bangsa Nusantara.

Bagaimanakah kehidupan leluhur bangsa yang sangat tua ini? Mereka hidup dengan membentuk desa. Desa yang dimaksudkan di sini adalah sebuah sistem kehidupan kompleks yang diikuti kepatuhan masyarakatnya pada nilai-nilai mulia berdasarkan kesadarannya sebagai bagian dari kehidupan ini yang semuanya tunduk dalam aturan Tuhan. Desa bukan sekadar wilayah dengan berbagai nama seperti yang tercatat secara administratif di kantor-kantor pemerintahan negara ini.

Di forum Maiyah bulan ini, kita akan menggali nilai-nilai yang masih bisa kita kenali dari kedigdayaan leluhur bangsa ini. Meski demikian, selalu ada ruang untuk diperdebatkan di sini. Mungkin saja keyakinan akan kedigdayaan leluhur bangsa ini bisa saja dibantah. Tapi jika kita menelusuri sisa-sisa keistimewaan-keistimewaan yang masih bisa kita jumpai dari diri kita dan masyarakat kita, niscaya kita akan mencoba memeganginya lagi.

Bertahun-tahun lamanya bangsa ini mengalami ketertindasan. Sejak zaman kolonialisme, bangsa-bangsa di Nusantara mengalami tekanan demi tekanan yang sangat kompleks. Bukan oleh para penjajah dari negeri asing semata-mata, tetapi lebih karena sebagian anak bangsa memilih mengabdi kepada para penjajah…