Desa Purwa

Mukadimah SabaMaiya Agustus 2018

Ada romantisme yang lucu ketika mendengar ungkapan “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo” atau dalam istilah di kitab suci “Baldatun Toyyibatun”. Itu semacam serenade; senandung kecintaan pada suasana, aroma, tatanan beserta segala macam nilai-nilai historis yang melekat pada Nusantara (dulu).

Dalam sejarahnya, Nusantara sarat akan kekayaan alam, subur, tentram, guyub rukun, dan begitu terkenalnya. Sekarang semua itu hanya bisa dinikmati lewat sastra-sastra kuno, bukti peninggalan, atau cerita turun-temurun dari pendahulu hingga sampailah kepada manusia-manusia masa kini. Kita yang sedang menikmati, tanpa kembali kepada sejarah, mengapa dulu nusantara bisa se-masyhur itu hingga banyak ilmuwan yang meneliti dan berujung pada sebuah kesimpulan besar bahwa nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia.

Jika menelisik kembali sejarah, puncak kejayaan Nusantara berada pada sekitar abad 14 M, di mana saat itu Nusantara berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit dengan keadaan negara yang kemashuranya tercatat di berbagai naskah-naskah kuno, dan bahkan sisa-sisa kemegahan Majapahit masih bisa kita temui saat ini. Namun, lama kelamaan kejayaan itu memudar dengan munculnya perang saudara dan pemberontakan di daerah-daerah yang menjadi faktor utama runtuhnya Majapahit.

Indonesia, sebagai nusantara masa kini, sepertinya enggan belajar dari sejarah, bahwa perang saudara dapat mengkibatkan kemunduran. Itu baru Nusantara era Majapahit, bagaimana dengam peradaban sebelumnya?

Jika ditelusur lagi, wilayah Indonesia saat ini tidak seluas Nusantara dulu. Namun tak kunjung juga kita menemukan kejayaan menyerupai kejayaan Nusantara pada zaman leluhur kita. Padahal sudah berapa tahun Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya?

Lalu munculah pertanyaan-pertanyaan semacam; “Konsep seperti apakah yang dahulu diterapkan dalam pengelolaan tatanan dari yang di atas sampai yang di bawah, sehingga Nusantara jaman dulu menjadi pusat peradaban dunia?”

Desa sebagai satu tatanan di bawah pasti ikut andil besar dalam peradaban Nusantara, sehingga perlu kita pelajari seperti apa konsep Desa jaman dulu. Kemudian, masih relevankah jika diterapkan pada saat ini? Atau justru konsep Desa jaman dululah yang bisa menjadi satu solusi carut marutnya keadaan Nusantara masa kini.

Ada romantisme yang lucu ketika mendengar ungkapan “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo” atau dalam istilah di kitab suci “Baldatun Toyyibatun”. Itu semacam serenade; senandung kecintaan pada suasana, aroma, tatanan beserta segala macam nilai-nilai historis yang melekat pada Nusantara…