Demokrasi, Komunikasi Publik, dan Sinau Bareng

Di kita, demokrasi lebih banyak masuk ke pori-pori pikiran kita melalui proses pemilu. Dari pemilihan bupati, gubernur, anggota dewan, hingga presiden. Demokrasi muncul ke depan mata kita sebagai proses rekrutmen politik, proses menjaring orang-orang buat mengisi kursi-kursi. Sampai-sampai dulu dipopulerkan dengan istilah pesta demokrasi. Dengan kelebihan dan kekurangannya (proses maupun hasilnya), metode demokrasi ini masih memberi peluang bagi orang-orang yang kurang berhistoritas politik buat ikut berkontestasi, dan “mencerdaskannya” diam-diam dalam hal mengkapitalisasi apa saja yang penting mendorong sampainya dia ke kursi yang dituju. Mengerek elektabilitas, begitu bahasa kerennya.

Tanpa menafikan salah satu feature hasil demokrasi modern ini, seperti terpilihnya anak-anak muda yang baik dan cerdas pada posisi pilkada kabupaten maupun provinsi, sebenarnya kita masih tergelayuti satu pertanyaan. Apakah demokrasi hanya proses rekrutmen politik belaka? Apa yang merupakan hal mula dan dasar dalam imajinasi tentang demokrasi, sebelum demokrasi adalah proses yang berkaitan dengan kekuasaan politik. Kalau kita lacak sebentar ke perbincangan filsafat Barat modern, kita mungkin mendapatkan satu jawaban yang tak terduga, karena ternyata kita tak sadar kita punya yang fenomena dasar itu, tapi tak mau mengolah dan mengistiqamahinya, dan malahan merasa seakan-seakan kita sudah melesat jauh dalam berdemokrasi hanya lantaran mempraktikkan demokrasi prosedural di atas itu.

“Demokrasi politik tidak dimulai dengan pemungutan suara untuk membentuk pemerintahan; ia dimulai dengan pilihan-pilihan tentang jenis komunitas dan negara macam apa yang rakyat inginkan. Bentuk paling dasar dari politik adalah percakapan (omong-omong) mengenai pilihan-pilihan ini dan apa yang benar-benar ada dalam kepentingan publik. Diskursus publik yang sungguh-sungguh adalah penyemaian dan mataair bagi politik yang demokratis, sebab publik (the public) adalah satu-satunya lembaga yang sah yang dapat menentukan kepentingan-kepentingan publik. Kualitas demokrasi bergantung pada kualitas obrolan atau perbincangan publik ini. Mengubah kualitas dialog publik adalah permulaan mengubah politik.” Demikian itu saya kutip penuh apa yang dikatakan David Mathews dalam bukunya berjudul Politics for People: Finding a Responsible Public Voive.

Jadi, omong-omong, ngobrol, komunikasi, diskusi, saling mendengarkan, dan bertukar pandangan adalah hal-hal yang bersifat mula-mula dalam sebuah demokrasi. Jikalau kita langsung njujug ke kontestasi pemilu tanpa disertai kultur komunikasi yang matang, khawatirnya nanti kalau sudah berada di kursi, yang duduk si situ kurang pandai ngobrol, kurang pandai berkomunikasi, dan kurang kaya bahasa dan kurang luas jiwa menghadapi ragam dan macam-macamnya publik. Komunikasi publik dengan begitu sebenarnya masih merupakan satu PR tersendiri dalam demokrasi di kita ini, dan kayaknya yang sedang menjadi kekayaan justru sebaliknya: incar-incaran mencari kesalahan, menunggu orang ngomong lalu dicari celah salahnya dan dirayakan di ruang publik.

***

Sampai sebelum yang tadi malam di MAN I Magelang, tujuh hari berturut-turut Cak Nun dan KiaiKanjeng ber-Sinau Bareng di Ponorogo, Madiun, Magetan, Surabaya (dua tempat), dan Malang (dua tempat juga), plus satu acara Cak Nun sendirian di kampus UMM Malang. Pada masing-masing tempat itu beda-beda topik, keperluan, dan audiens-nya, tapi tampak oleh saya itu sebuah maraton demokrasi dan komunikasi publik. Mari meluangkan waktu sejenak untuk belajar ihwal komunikasi ini kepada Cak Nun dengan membayangkan kalau kita berada pada posisi Cak Nun.

Kalau umpama kita presentasi sebagai pembicara dalam sebuah seminar dengan audiens hanya beberapa puluh orang, atau sedikit ratusan, barangkali tidak terlalu sulit. Tetapi kalau berhadapan dengan orang selapangan itu, tentu beda suasana dan tantangannya. Apalagi orang-orang itu beragam latar belakangnya. Tidak mudah membangun komunikasi, dalam arti obrolan atau diskusi yang jenak dan enak. Seseorang di medsos mengeluhkan sebuah tayangan talkshow di televisi, di mana setiap narasumbernya hanya mau omong sendiri dan tak mau menyimak narsum lainnya. Saat yang satu bicara, lainnya asik dengan gadget masing-masing. Mungkin mendengar, tapi pasti bukan mendengarkan. (Inikah dampak negatif keterikatan kita pada gadget ditinjau dari sudut demokrasi?).

Salah satu tantangan tampak saat Sinau Bareng di Magetan, yang seharian diguyur hujan lebat, saat acara berlangsung tiba-tiba listrik padam. Bagaimana komunikasi selanjutnya dengan hadirin yang banyak itu? Apa mereka tidak lantas pergi meninggalkan acara satu per satu? Ternyata tidak, dan komunikasi dengan back-up toa seadanya tetap berlangsung. Perhatian mereka tidak berkurang, malah makin meningkat justru dalam keterbatasan. Mereka tetap bisa bahu-membahu batinnya untuk tetap istiqamah tidak meninggalkan komunikasi publik ini. Cak Nun tetap bisa menyampaikan apa-apa yang menjadi tema diskusi, bahkan kekompakan KiaiKanjeng dengan mereka juga tidak berkurang, permainan berbasis musik ala KiaiKanjeng tetap dapat dijalankan dengan penuh keasikan. Dibutuhkan metode dan ketenangan tingkat tinggi buat menghadapi situasi semacam itu. Andai saja David Mathews pernah membayangkan bahwa dalam sebuah komunikasi publik bisa terjadi listrik padam atau tiba-tiba hujan datang.

Kadangkala komunikasi tidak semata-mata urusan gagasan atau pesan, tetapi soal bagaimana hati disapa, disentuh. Contohnya ya di Lapas Madiun. Baca liputannya di caknun.com bagaimana Cak Nun menyapa dan membesarkan hati para penghuni Lapas. Saya sendiri sekian tahun silam juga pernah ikut Cak Nun pagi-pagi acara di Lapas Kediri. Saya masih ingat Cak Nun menyambung hati dengan mereka dengan kelakar cerdas, “Sampeyan enak di sini, temboknya tinggi, tebal, dan kokoh. Banjir kayaknya nggak mungkin masuk ke sini. Teralis-teralis kamar Anda besar-besar dan kuat, nggak mungkin ada maling bisa masuk ke kamar Sampeyan. Sampeyan aman di sini.” Dan seisi Lapas tertawa lebar, mentertawakan situasi, dan mendapat kesadaran akan hidup yang mesti lincah perspektif. Dalam hal-hal seperti ini, kadangkala saya membayangkan ustadz-ustadz muda kita ada baiknya belajar kepada Cak Nun, belajar bagaimana memiliki sensibilitas terhadap hati orang-orang yang ada di hadapannya. Bahwa berkomunikasi atau berceramah bukan soal menyampaikan ‘materi’, apalagi dalam metode searah, tetapi lebih dari itu mampu menyentuh dan mengayomi hati audiens dan masyarakat. Pada saat hendak meninggalkan Lapas Kediri itu, seluruh tahanan yang berkumpul di Masjid Lapas itu berdiri rapat semua, memandang kepada Cak Nun, dengan sorot mata tak mau ditinggal.

Pada setiap Sinau Bareng, termasuk dalam maraton seminggu penuh kemarin, Cak Nun selalu mendistribusikan obrolan. Para narasumber diberi jatah masing-masing buat berbicara, pun nanti jamaah mendapat kesempatan merespons, menyampaikan pikiran, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Jika terdapat pandangan yang berbeda di antara satu sama lain, Cak Nun selalu mengingatkan bahwa hal itu wajar saja, yang terpenting setiap kita jangan bernafsu memaksakan kebenaran pendapat kita kepada orang lain dan memastikan bahwa output perilaku kita adalah akhlak yang baik kepada orang lain.

Dengan jiwa yang lapang dan halus, bukan tidak mungkin kebijaksanaan yang dimiliki setiap orang dalam berkomunikasi akan membantu memunculkan secara tak terduga titik-titik temu dan jalan keluar atas suatu soal. Maka, kita sama-sama tahu bahwa Sinau Bareng ini lebih mengutamakan mencari persamaan dan kebijaksanaan, bukan memberi ruang bagi orang yang mau ngotot-ngototan dengan pendapatnya sendiri. Saya membayangkan public talk yang disebut David Mathews lebih dekat kepada praktik komunikasi seperti yang diberi contoh dalam Sinau Bareng ini.

Praktik-praktik yang berlangsung dalam Sinau Bareng di bawah moderasi Cak Nun menyodorkan contoh langsung tentang komunikasi publik itu. Berbagai komponen dan sifat publik ada di situ. Ada rakyat, ada pemerintah, ada pelaku-pelaku bidang kehidupan, ada topik yang didiskusikan, ada persoalan yang coba dipecahkan bersama. Ada tempat yang memang representatif mewakili apa yang disebut ruang publik seperti lapangan dan alun-alun. Sementara itu, dalam proses komunikasinya sendiri tercipta alur tukar pandangan yang terpandu dengan baik, bahkan untuk membantu komunikasi publik ini Cak Nun memperkaya dan melengkapi prosesnya dengan workshop berpikir dan workshop berbasis musik. Hal-hal kreatif yang sebenarnya mungkin tidak dibayangkan dalam ilmu atau wacana politik murni. Tapi, Cak Nun sedari dulu sepertinya melihat celah yang dapat diisi dengan memanfaatkan kreativitas budaya yang barangkali seperti kita saksikan bersama berkompatibilitas dengan keluasan dan satu sisi kebutuhan batin manusia. Cak Nun ndudul hati manusia, nggak semata-mata mengandalkan kognisinya.

Jika kita bersepakat dengan pandangan David Mathews yang saya kutip di atas tadi, kita dapat menyadari bahwa rangkaian sangat panjang Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng adalah sebuah proses mengerjakan PR demokrasi yang sayangnya tak ada dari petugas-petugas demokrasi yang mau menjalankannya. Semua lebih terpesona kepada demokrasi prosedural yang berfokus pada pengisian kursi-kursi kekuasaan. Padahal obrolan-obrolan yang berkualitas dan cerdas adalah dasar dari terbentuknya sebuah demokrasi dan awal dari perubahan politik. Dan, Cak Nun menambahkan lebih kaya lagi dimensi-dimensi dalam komunikasi publik itu (kearifan, kebijaksanaan, berbagi mendengar, santun tapi egaliter, egaliter tapi tetap menjunjung akhlak, berorientasi solusi, dan mencipta kebersamaan).

Ruang-ruang publik yang ada benar-benar dimanfaatkan secara maksimal dan optimal oleh Sinau Bareng untuk membangun dasar-dasar demokrasi, sementara yang di sana sibuk berkontestasi, dan kita melihat politik kita dibangun tidak dengan terlebih dahulu memadaikan kemmapuan diskusi, obrolan, dan komunikasi, sementara semua itu dasar sifatnya. Akan lebih memprihatinkan lagi, bila komunikasi publik kita hari-hari ini justru telah mengarah pada produksi kata-kata yang kasar. Duh, defisit demokrasi dan kemunduran komunikasi publik.