Dari Wild Wild World Hingga Anugerah Terindah

Reportase Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng di Mancasan Lor, 14 Mei 2018

Sinau Bareng, jelas bukan pengajian di mana kaum awam harus menelan apa-apa yang telah digodog oleh agamawan yang berbicara. Di mana sang agamawan juga sudah membawa bahan masakan. Jadi Mbah Nun mempraktekkan “memasak di tempat”, kalau boleh dibilang begitu. Maksudnya, bahan yang ada langsung diolah.

Mbah Nun mengolah bahan, misal dengan contoh lagu yang disajikan tadi. Bukankah sang biduan tidak perlu menjelaskan pada khalayak, chord apa yang dipakai. Seberapa tinggi-rendah nada, kecepatan tempo dan lainnya yang berkaitan dengan penggodokan di dapur? Hidup seperti itu pula. Olahan kebenaran kita simpan untuk diri kita. Hasilnya yang ditampakkan perlu punya ukuran presisi kebaikan dan berpuncak pada keindahan.

Pada awal paragraf tulisan ini, saya sempat menyinggung sedikit soal genre film. Rupanya, Mas Dian Kurosawa, owner rental tempat saya bekerja dulu juga ada di lokasi Sinau Bareng malam itu. Mungkin itu kenapa aura filmis juga melambari kesadaran saya pada Sinau Bareng kali ini. Nama “Kurosawa” di belakang nama Mas Dian adalah dari Akira Kurosawa, sutradara legendaris Jepang. Anda bisa punya sutradara favorit semacam Tarantino, Woody Allen, Spielberg, Sorderbergh, Bunuel, Ingmar Bergman, Fellini, Majid Majidi, atau siapa saja dari seluruh dunia. Selera pribadi saya sih Kubrick dan Mokhmalbaft. Tapi kalau anda dengan beraninya membandingkan sutradara itu dengan Kurosawa di depan Mas Dian, anda harus siap berhadapan dengan perdebatan panjang fisabilillah. Dan, saya belum pernah lihat ada yang menang melawan Mas Dian debat soal film.

Konsep murid-mursyid mungkin memang semestinya adalah spesifik per bidang. Untuk urusan perjalanan kepada tuhan, itu personal. Jangan minta diantar sama siapa-siapa selain gondelan Kanjeng Nabi Rasulullah Muhammad Saw. Nah dalam film, saya memang bermursyid pada Mas Dian. Jadi kalau urusan film saya percaya dawuhnya mursyid saya.

Urusan lain, ada jarak. Perintah untuk menenggak kim hoa pada malam tahun baru, adalah perintah yang mesti saya bantah. Karena saya ndak bisa minum alkohol. Tapi rupanya Mas Dian waktu itu cuma ngetes mental saya saja. Lumayan ndredeg lho, masih terngiang sampai sekarang padahal itu lebih dari lima tahun lalu.

Rental film tempat saya kerja dulu ini, rental legendaris lah rujukan para aktivis dan pecinta film anti-mainstream pada masanya. Juga sistemnya seperti Sinau Bareng. Mas Dian menolak memakai software pencari judul film. Konsepnya yang datang perlu ngobrol dan nanya ke petugas yang sedang shift (kalau anda dapati yang shift siang-siang orangnya gondrong malas, nonton film seringnya film era hitam-putih, sambil ngopi, ngerokok dengan setumpuk gorengan, itu kayaknya saya itu) dan diskusi. Debat juga boleh. Sering malah.

Dari dulu saya merasa rental ini “Maiyah banget”. Tapi saya ndak berani nanya ke Mas Dian sang owner. Bahkan saya mengira Mas Dian ini ateis karena suka bilang “Hollywood itu tuhan”. Sampai ketika malam itu saya tahu lewat FB bahwa Mas Dian ada di lokasi Sinau Bareng, saya tanya lewat WA dan jawaban beliau, ”Kamu nggak pernah tahu kan kalo aku punya hampir seluruh bukunya Cak Nun? Layaknya kitab kuning versi zaman now tuh buku buku…”

Ya Allah, para penempuh jalan sunyi ini benar-benar bisa menyimpan versi kebenarannya rapat-rapat. Bertahun-tahun saya kenal Mas Dian dan saya baru tahu kalau beliau akrab dengan wacana Maiyah. Dan diolah dengan gaya khas Mas Dian sendiri yang rock n roll. Dan kalau didengar orang yang kurang akrab mungkin berkesan saru, begini kata Mas Dian: “Bagiku selalu sama tiap melihat dan mendengar ceramah atau membaca buku buku Cak Nun. Aku jadi terangsang dalam menekuni agamaku. Harapanku bisa mencapai orgasme dalam beribadah. Puncaknya hanya satu bro. Ya ayyuhalladzina amanu. Cuma itu. Semoga lewat media Cak Nun aku bisa mendapatkannya. Amin…”

Dengan itu, terjawab satu pertanyaan yang saya simpan sudah bertahun-tahun lamanya. Maiyah, Sinau Bareng ini juga mungkin adalah tabungan shadaqah yang kodenya baru akan kita dapati pada masa yang entah kapan. Mencoba-coba menabung pertanyaan, mungkin baik seperti tanya yang diajukan oleh Drs. H. Husaini Idris, SH. Beliau berada di pangggung juga mewakili shohibul hajat.

Pertanyaan soal latar belakang Maiyah, visi dan misi. Namun Pak Husaini ini sangat paham bahwa Maiyah berbeda dari pengajian dan kumpulan lain. Di mana dalam pengajian lain yang ditunggu adalah ajaran baku, dogma dari “Sang Pengomong”. Benar juga, pikir saya sekarang kebanyakan “Sang Pengomong”. Dan kita kekurangan sosok “Sang Pamomong”.

Ada juga pertanyaan beliau pada tataran praksis. Misal soal fenomena riba dan bank Syariat. Sedang kita tidak berdaya mengubah keadaan.

Oleh Mbah Nun pertanyaan-pertanyaan tersebut ditanggapi dengan serius dan tidak spaneng. Namun fenomena Maiyah, tidak semua bisa diutarakan. Saran Mbah Nun adalah agar kita coba nyicil mencatat apa-apa, dan pada wilayah mana saja Maiyah berbeda dari fenomena kumpulan lainnya.

Mata saya tiba-tiba buram. Ketika saya mencoba menuliskan satu kalimat Mbah Nun, “Suatu saat kerajaan akan hilang, suatu saat negara akan hilang. Tinggal simpul-simpul Maiyah, di mana tidak ada presiden karena semua adalah presiden. Tidak ada kiai. Yang ada ke-Kiai-an”. Rupanya, entah kenapa air mata saya menitik mendengar kalimat ini.

Buku Cak Nun