Dari Mocopat Syafaat ke Gambang Syafaat

Awal keberangkatan saya ke Maiyah adalah simpul Mocopat Syafaat. Ibarat pergi ke kencan buta, akhirnya saya bertemu dengan soso yang selama ini hanya saya jumpai di tulisan. Seorang Emha Ainun Nadjib yang sedari saya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar sudah saya dengar menggemakan shalawat lewat album Menyorong Rembulan di seisi rumahku. Hampir tiap hari saya dengarkan kaset itu sampai akhirnya rusak, menyerah pada putaran takdir.

Itulah tahun pertama bermaiyah di tengah berbagai keputusasaan pada keadaan. Krisis pencarian jati diri usia 20-an lantaran realita jauh dari prasangka. Lebaran baru terasa salah kaprah kali itu. Sepanjang jalan malam takbiran kujelajahi dengan air mata menetes, trenyuh. Betapa manusia berada dalam kesiasiaan perbuatan. Bekerja keras banting tulang hanya untuk membakarnya dalam waktu singkat melalui kembang api. 

Tradisi sudah bergeser dari petasan dengan bumi “bummm” bak artileri berganti “dooor” di langit. Murah dengan mengandalkan kemandirian kreativitas dan ketekunan menggulung kertas diganti kepraktisan tinggal beli di lapak-lapak pinggir jalan. Kuasa akal lawan kuasa kepemilikan uang. Dulu berbagi dentuman di bumi hasilkan sobekan kertas berserakan di kanan kiri jalan dilanjutkan meledakkan langit dengan efek samping polusi udara.

Pergeseran budaya yang lagi-lagi tanpa disadari hadirnya. Berangkat Mocopat Syafaat saya tempuh waktu 2 jam berkuda besi dengan kawan karib sedari SMA di boncengan. Sampai di lokasi masih awal, tempat duduk masih banyak tersedia. Kuganti kostum yang semula berfungsi pelindung diri dari angin ke bentuk formal, kaos ke kemeja. Kukira lumrahnya pengajian atau forum diskusi, kesopanan diutamakan. Rupanya atmosfer egaliter sangat terasa begitu jamaah sesaki tempat dan jalanan.

Kelar beres-beres segera menghirup aroma Maiyah. Termasuk di warung angkringan sebelah teras TKIT Alhamdulillah yang saat itu tengah dikelilingi KiaiKanjeng dan Pak Toto Raharjo. Ingin menyapa tapi masih sangat pemula, minder muncul duluan. Dengan kawan akhirnya makan seadanya, ngopi seperlunya, sebelum kembali duduk di sekitar panggung. Agak terkejut ketika Mbah Nun rawuh dan saya sempatkan ke belakang, rupanya banyak yang tertidur. “Ini pengajian kok banyak yang cuma numpang tidur”, begitu gumamku.

Kemudian hari barulah saya tahu konsep berkah menghadiri acara keilmuan yang mendekatkan pada Gusti Allah. Plus, saat ngantuk dan lelah usai tempuh sekian jam perjalanan yang tak tertahan. Setelah acara bubar, saya dan kawan langsung bablas karena kebetulan saya harus balik ke perantauan siang harinya. Pukul 3 membelah selatan Jogja bukanlah perkara mudah dengan mata setengah terpejam. Pilihan mampir di Warung Angkringan daerah Wates jadi pilihan untuk hangatkan badan dan usir kantuk. Usai azan Subuh berkumandang, lantaran sering hampir “ngliyep”, kupaksa mampir sejenak di masjid terdekat untuk tidur barang sebentar.

Kami isi kesunyian dini hari dengan diskusi lanjutan. Terutama soal hari raya yang jadi momentum pengeruk untung materi. Tak ubahnya Natal dengan gelaran konsumerisme berlebih. Idul Fitri suguhkan fenomena yang sama. Puasa tapi belanja konsumsi meroket berkali lipat. Pemerataan zakat belum sempurna karena masih banyak yang membutuhkan misal terjerat utang rentenir berkepanjangan. Ironi untuk sebuah hari yang seharusnya jadi puncak hari-hari rekonsiliasi, perdamaian dengan yang dibenci.

Maiyahan pertama kali itu buatku kecanduan meski untuk hadir ke acara ini masih tetap baru sekali sampai saat ini. Aneh, sebab kala itu masih sering berseliweran di Jogja. Tuntutan keduniawian menghipnotis sampai akhirnya lupa Maiyah dan baru ingat ketika sudah menetap di Kota Lumpia. Itu pun setelah sekian tahun tersesat dulu di banyak lingkaran pergaulan tanpa kedewasaan berpikir dan kedaulatan tafsir atas keadaan. 

Untunglah Bulan Syawal tahun ini ada yang berbeda di dalam benakku. Simpulan sekian tahun silam di Mocopat Syafaat agak berani kumodifikasi sendiri. Konsumsi selama Ramadan bisa dijadikan alat berbagi rasa syukur dan latihan batin selama tidak ditunggangi niat jelek. Bahkan ujian sesungguhnya ada pada ketika takbir mulai terdengar di mana-mana. Itulah awal puasa 11 bulan selanjutnya setelah dipaksa terbiasa menahan sebulan lamanya.

Ya, Cinta Lama Bertemu Kembali, itulah kisahku dengan Maiyah. Dari Mocopat Syafaat yang diperjalankan untuk hadir sekali dengan kini di Gambang Syafaat yang entah sudah berapa kali. Dari sebelumnya jamaah yang unyu-unyu hanya duduk menyimak dan kini berani sedikit suguhkan rangkuman di live-tweet untuk berbagi kebahagiaan. Pasif jadi aktif agar lebih terekam dalam diri. Tak sekadar guyon tapi dapat wariskan pengetahuan-pengalaman untuk anak-cucuku. Tentu semoga mereka bisa bermaiyah pada waktunya. Amin.