Dari Menturo Menyorong Rembulan Menuju Pasca Negara

Reportase Padhangmbulan "Menyorong Rembulan", 28 Mei 2018

Apa yang sungguh-sungguh sedang dirayakan oleh entah berapa ribu orang yang membludak pada malan 28 Mei 2018M ini? Tentu masih dalam suasana peringatan usia ke-65 tahun Mbah Nun pada hari sebelumnya. Tanggal 28 ini juga, tepatnya adalah hari lahir Cak Mif. 67 tahun sekarang usia beliau dan tak kurang-kurang daya juang serta jihad-ijtihad beliau, Mbah Nun sendiri membuat tulisan khusus mengenai Cak Mif.

Tapi apa? Apa yang benar-benar membuncah-buncah bahagia sampai pendaran cahaya sumringah itu terasa ke berbagai penjuru? Saya menyaksikan dari beranda lantai dua warung kopi yang tepat menghadap panggung. Sejak setelah tarawih, saya tidak bisa lagi kemana-mana. Sebab jalanan, halaman, sampai ke kejauhan sana, lautan manusia bergumpal-gumpal, bergelombang tanpa henti, bercahaya dan bercahaya.

Bukan, bukan jumlah ribuan orang yang memenuhi wilayah majelis Padangmbulan di Menturo ini yang menakjubkan. Kalau hanya soal jumlah massa di negeri ini tak perlu takjub. Kebakaran atau kecelakaan, pengajjan, dangdutan, kampanye politik cekeremes saja ramai yang nonton. Mengumpulkan ribuan orang di negeri ini bukan soal besar. Tapi jumlah sebanyak itu, pertama tanpa ada pengamanan khusus, dan kedua stamina mereka untuk bertahan. Dan paling utama mereka bukan massa ‘jinak’ yang diseragamkan pikirannya. Ini tipe sekumpulan manusia bengal yang bisa menyorak suruh turun seorang pemuda bandel yang coba menaiki pagar agar view-nya ke panggung lebih jelas. Tapi aman. Ini mereka benar-benar anarkis berakhlaq.

Menturo dari Beranda, Jaket dan Seruling Alm. Pak Is ikut Menyaksikan

Sayangnya saya, Mas Adin fotografer dan beberapa petugas pembeber kloso dari Padhangmbulan tidak bisa mempersilahkan banyak orang untuk ikut di beranda lantai dua warung kopi ini. Beberapa orang mungkin harus saya sampaikan permintaan maaf karena kami larang naik. Ini bukannya apa. Sederhana saja. Untuk ke beranda ini kan anda harus melewati ruang istirahat pemain teater Perdikan yang malam itu juga akan tampil di panggung mempersembahkan pentas “KELAHIRAN”. Tidak semua orang nyaman ruang istirahatnya dimasuki oleh orang lain.

Ada bersama saya juga Mas Pur dari Yogya. Beliau sudah cukup dipercaya oleh teman-teman Perdikan. Mas Pur banyak membagikan kisahnya pada saya mengenai persentuhannya dengan almarhum Pak Is. Seruling pemberian almarhum juga beliau tunjukkan. Termasuk jaket yang beliau kenakan adalah pemberian almarhum. Celakanya, Mas Pur duluan kenal saya. Sedang saya agak lupa. Ternyata kami pernah bertemu saat Ihtifal Maiyah.

Saya perhatikan jaket agak kekecilan Mas Pur yang pemberian almarhum Pak Is itu. Seruling bambu tersandar di dinding dekat pintu. Tampaknya jaket dan seruling itu ingin menyaksikan betul-betul pemandangan ke panggung. Untuk Pak Is, Al-Fatihah.

Sedang di panggung, semburat kemesraan dimulakan dengan hentakan shalawat dari KiaiKanjeng. Banyak sekali peristiwa: kemesraan, tanya, cinta, pentas Kelahiran, Cak Markesot, Cak Fuad, Cak Mif, Mbah Nun sekeluarga. Semoga saya bisa merangkum yang bisa saya tangkap.