Contoh Hubungan Erat Antar Dua Etnis

Alhamdulilah dalam perjalanan Safinatun Najah (2011) dan Rihlah Cammanallah (2016) ke bumi Mandar Sulawesi Barat saya diberi kesempatan untuk turut serta. Dua perjalanan ini menghadirkan secara langsung di depan mata saya sendiri imaji tentang Mandar yang sebelumnya hanya saya bentuk-bentuk sendiri (sebagai hasil) sesudah membaca tulisan-tulisan Mbah Nun yang bercerita tentang persentuhannya dengan teman-teman dari Mandar. Bahkan sebelum membaca tulisan Mbah Nun itu, saya tidak mengenal Mandar. Kuper sekali.

Lewat dua perjalanan itu, saya melengkapkan pengetahuan tertulis dengan pengetahuan lapangan, di mana jenis yang terakhir tak hanya melengkapi melainkan memperkaya. Saya mengalami langsung menghirup udara Tinambung, Limboro, Polewali, dll, merasakan suasana kampung-kampung dan rumah-rumah warga, turut bertemu dengan teman-teman di sana terutama di Markas Teater Flamboyan. Berkesempatan pula ziarah di Makam dan Masjid waliyullah Imam “Thohir” Lapeo. Tentunya juga silaturahmi agung di rumah Bunda Cammana. Oh ya, tidak ketinggalan pula ngopi di pagi hari di pasar Tinambung, yang di situ terjaja hasil-hasil bumi tanah Mandar.

Persahabatan Mbah Nun dengan Mandar telah terbangun sejak lama, mungkin sejak awal 80-an atau lebih awal lagi. Dalam persahabatan itu banyak jejak telah ditorehkan Mbah Nun di sana. Menemani proses kreatif Teater Flamboyan yang hingga kini masih beregenerasi. Terseret untuk terjun langsung melerai atau mencegah konflik horisontal di sana. Mendapatkan penghormatan dan persaudaraan dari Raja Mandar. Diyakini oleh masyarakat setempat sebagai titisan Imam Lapeo yang menegakkan menara miring masjid Imam tanda ditegakkanya kembali nilai-nilai keagamaan. Banyak kisah tentang tanah Mandar yang telah dituturkan Mbah Nun lewat tulisan-tulisan lamanya seperti di Slilit Sang Kiai dan Surat Kepada Kanjeng Nabi maupun dalam ceramah-ceramahnya kemudian.

Saat buka-buka dokumentasi lama, saya menemukan liputan koran Minggu Pagi Yogyakarta No. 10 Tahun ke 43 Periode 11-17 Juni 1989 yang memberitakan kegiatan Mbah Nun di Mandar. Liputan itu berjudul “Di Tinambung Mandar, Sulawesi Selatan Emha Dimintai Berkah dan Pengobatan”. Dulu Mandar masih merupakan wilayah Sulawesi Selatan. Saat pemekaran menjadi Sulawesi Barat, Mbah Nun punya kontribusi penting dalam proses ini. Berita Minggu Pagi yang disertai foto Mbah Nun dengan Raja Mandar terakhir itu melaporkan kegiatan Mbah Nun dan sekaligus menggambarkan bagaimana orang-orang di sana memosisikan sosok Mbah Nun.

Saat rangkaian Rihlah Cammanallah itu, saya mendapatkan penuturan langsung dari teman-teman Mandar tentang pengalaman spesifik mereka mengenai Mbah Nun. Sebagian telah saya tuliskan di web caknun.com ini. Walhasil, saya melihat suatu chemistry tersendiri yang terbangun antara mereka dengan Mbah Nun. Dimensinya tidak hanya kultural, melainkan bahkan spiritual. Dan itu unik sekali. Termasuk di antara keunikan itu adalah bagaiamana mereka mampu mewariskan sikap tawadhu dan hormat kepada Mbah Nun pada diri anak dan cucu mereka yang notabene tidak mengalami persentuhan langsung saat ayah dan kakek mereka berproses kreatif bersama Mbah Nun karena mereka belum lahir atau masih kecil. Untungnya, Mbah Nun sering ke sana, sehingga tersedia kesempatan mereka buat bertemu langsung dengan Mbah Nun.

Bagi Mbah Nun, Mandar pun tentu mempunyai tempat tersendiri di dalam pengalaman hidupnya. Hubungan dengan Mandar itu sampai detik ini masih terjalin, terlebih dengan adanya paseduluran Maiyah di mana lingkar persaudaraan itu menjadi diperlebar. Namun, sebenarnya ada satu hal yang sejak Rihlah Cammanallah itu belum terumuskan amat dalam pikiran saya. Kisah atau pengalaman kultural dan spiritual dalam persaudaraan Mbah Nun dengan sahabat-sahabat Mandar sudah sama-sama kita mengerti. Saya melihat ada satu dimensi yang, penting atau nggak penting, rasanya tak boleh luput begitu saja. Saya menyebutnya hubungan erat antar dua etnis. Lho kok tiba-tiba bicara etnis. Sebentar tho.

Terbentuknya negara nasional pada kenyataannya sedikit banyak membuat kita tak lagi punya ingatan yang konstruktif otentik mengenai etnik atau suku seakan negara nasional sebagai fenomena kepolitikan di masa modern memangkas semua itu dan orang dibawa untuk selalu berbicara dalam kerangka nasional atau negara, atau kerangka hidup modern dan job desk profesi-profesi yang dianggap sebagai tangga lebih tinggi dari mobilitas sosial. Tak sepenuhnya salah. Tetapi, kita juga tak boleh lupa bahwa negara dipilari secara faktual oleh kekuatan-kekuatan etnis dan budaya.

Karenanya, kalau bicara membangun kehidupan berbangsa yang baik, tidak bisa tidak perhatian yang memadai harus diberikan kepada bagaimana sikap kita kepada beragamnya etnik yang ada. Dalam konteks global, salah satu contoh esktrem dari benturan konsep negara yang ditimpakan tanpa melihat kenyataan sejarah etnik atau suku bangsa bisa dilihat pada nasib suku Kurdi yang terbelah ke dalam empat negara di Timur Tengah itu. Syukur alhamdulillah, dalam konteks Indonesia, suku-suku, pulau-pulau, ragam budaya terbingkai oleh kesadaran nasional keindonesiaan. Tetapi bagaimana merawat hubungan antar semua kekuatan itu di masa kini?

Saya belum tahu jawaban resminya, tetapi apa yang dilakukan oleh Mbah Nun dengan sahabat-sahabat di Mandar menyodorkan sebuah contoh jawaban atas pertanyaan itu. Sebuah interaksi yang bagus antar dua etnis. Dan itu, berlangsung atas inisiatif grass root, warga, atau rakyat, bukan negara. Jika memakai bahasa Hubungan Internasional, mungkin hubungan itu bisa disebut sebagai hubungan bilateral kultural, praktik softpower diplomacy, atau P to P diplomacy. Andaikan hal yang sama juga bisa diperbanyak dilakukan oleh elemen-elemen antar etnik yang saling menciptakan persaudaraan, persahabatan, dan keeratan-keeratan lainnya, alangkah indahnya.

Kenyataannya negara telah berjalan dengan rasionalitasnya sendiri, tetapi etnik sebagai kekuatan budaya dan antroplogis di dalam kawasan luas sebuah bangsa seperti Indonesia ini sebenarnya juga punya rasionalitasnya sendiri yaitu dorongannya untuk saling berinteraksi di antara etnik-etnik yang ada itu. Dengan pengalaman interaksi yang indah dengan sahabat-sahabat di Mandar itu, Mbah Nun telah memberi example bagaimana secara kultural informal interaksi dan keeratan itu diciptakan, dan itu sudah dimulainya sejak hampir empat puluh tahun silam.

Malahan, dalam perjalanan Safinatun Najah dan Rihlah Cammanallah yang ikut serta ternyata berlatar belakang etnik yang beragam. Tak hanya Jawa, tapi juga Madura, Kalimantan, dll. Jadinya, perjumpaan multietnik. Sekadar cara baca mungkin, tapi bagi saya itu bisa membawa saya pada bermacam-macam layer yang ada pada perjalanan Mbah Nun dan Maiyah.

Yogyakarta, 24 Maret 2018