Cak Nun di Mata Mas Danarto

Danarto, adalah seorang sastrawan misterius yang saya kenal sejak lulus SMA. Setelah beberapa kali membaca buku yang juga dibaca Mbah Nun, “Nagasasra Sabukinten”-nya pak SH. Mintardja, lalu saya membaca karya-karya sastrawan dari kota kelahiran saya Sragen, pak Koo Ping Hoo. Cukup aneh memang ketika arus sastra waktu itu sedang ramai-ramainya membaca Laskar Pelangi, saya mengikuti arus lama, cerita-cerita silat.

Perjalanan menikmati sastra lama mengantarkan saya pada Cak Nun. Dan yang asing di telinga saya adalah Mas Danarto. Waktu itu saya diejek sesepuh di grup medsos, “Wong Sragen ora kenal Danarto”. Lalu kegelisahan merantau di Ibukota mengantarkan saya pada tulisan-tulisan Cak Nun.

Selang beberapa lama saya akhirnya ikut Maiyahan. Dalam beberapa kesempatan ketika membahas majalah Horison, Cak Nun menyebut kembali nama Danarto sebagai tokoh besar di kalangan sastra Indonesia. Lalu mulai berburulah saya mencari buku beliau. Begitu Ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu yang pertama saya dapat. Berhala adalah buku berikutnya. Buku-buku lain yang menjadi masterpiece beliau seperti Adam Makrifat atau Godlob belum saya dapatkan.

Dari buku itu saya dapatkan kesan meski usia beliau lebih tua, tapi Mas Danarto tidak bisa mengerem kekagumannya pada Cak Nun, simbah kita ini. Sosok muda yang berani sekaligus menampilkan sisi religius sebagai titik tolak membela mereka yang sedang dihimpit hatinya oleh pusaran zaman. Berikut adalah beberapa sempalan dari buku yang merupakan kumpulan dari tulisan Mas Dan di Koran Republika.

Lalu disusul Komunitas KiaiKanjeng Gus Nun yang secara luar biasa mampu menjangkau luas masyarakat kota dan desa, yang tua maupun yang muda dalam suatu strata sosial yang fantastis. Subhanallah…”

…syarat-syarat yang dimiliki komunitas pimpinan Emha itu begitu solid untuk sebuah partai, namun kelihatannya Sang Pemimpin sangat tidak menginginkannya berubah menjadi partai. Ia pernah menyatakan Gue tidak ge-er untuk punya program! (Danarto, 8 September 1994)

Mas Danarto juga kagum dengan metode kepengayoman Cak Nun. Dalam sebuah komunikasi massa bagaimana audiens selalu merasa nyaman, meskipun tak jarang simbah melalukan kritik-kritik yang pedas.

…kenapa Emha bisa begitu bebas mengkritik, begitu didengarkan dan dikritik minta dikritik lagi, lagi dan lagi…” (Danarto, 24 Maret 1996)

Di kala memandang pelik semua permasalahan negeri, Mas Danarto yang sangat sufi itu pun memandang bahwa memang ada Semar-Semar yang terus memberikan angin segar bagi rakyatnya. Selain Cak Nun, Mas Dan juga menaruh harapan pada Cak Nur dan tokoh-tokoh lain.

….Dewasa ini jika kita memang mencari model Semar yang pas–kata Kiai Syukur tak pelak lagi agaknya orang menunjuk Emha, Iwan Fals, Nano Riantiarno, Harry Roesli dan lagi-lagi Nurcholish Madjid” (Danarto, 18 November 1995)

Soal turun ke kalangan akar rumput-pun Mas Danarto melukiskan pengamatannya terhadap Romo Mangun dan Simbah.

Konon, Romo Mangunwijaya sudah mencoba menjebol seluruh sistem yang membelit itu dengan mencoba menyedot air di daerah kerontang Gunung Kidul Yogyakarta, untuk menolong petani gurem itu… Sementara itu Emha Ainun Najib tak lelah-lelahnya beredar terus membangunkan para petani gurem alias wong cilik itu, tetapi batu sandungannya semakin banyak, semakin keras dan fantastis tolak ukurnya” (Danarto, Hama, 02 Juli 1995)

Mas Dan tahu betul apa yang dijalani Romo mangun dan Cak Nun pasti sangat berat. Dan semakin ke sini tantangannya semakin besar. Zaman semakin tidak mengenal welas-asih hingga arus materialisme mencengkeram nadi manusia zaman now.

Belum lagi soal kesederhanaan dan kedermawanan sosial. Mas Dan mencatat rapi hal-hal yang mungkin saya juga tidak akan pernah tahu jika beliau tak menceritakannya. Karena bagi mereka hal-hal tersebut tidak untuk diomongkan apalagi disombongkan.

…Meski Emha Ainun Najib berpenghasilan tiga juta rupiah per bulan, ia cuma makan sekitar lima puluh ribu rupiah saja, yang lainnya ia bagi ke mana-mana….”

Mochtar Lubis lebih memilih hidup menyrempet-nyrempet bahaya asal tetap menjaga hati nuraninya. Kesederhanaan adalah tetap tegak setia pada hati nurani.

Romo Mangunwijaya bahkan bersedia tidur dikolong jembatan demi bersolidaritas dengan rakyatnya. Sungguh beliau-beliau ini adalah pemimpin yang sesungguhnya…..” (Danarto 23 April 1993)

Begitu banyak kekaguman-kekaguman dan sekaligus harapan yang beliau tulis pada sosok Cak Nun, mengingat tokoh-tokoh di atas juga banyak yang ‘sudah mendahului’.

11 April 2018, dalam sebuah kecelakaan yang menimpa beliau sepulang dari pasar, Mas Danarto kondur. Saya sempat sedih karena hanya bertemu lewat aksara dengan seniman dari kota Saya ini. Esoknya pemakaman berlangsung khidmat di dekat pusara Ibunya. Malamnya saya dihubungi oleh Mas Dona, JM asal Sragen yang dapat mandat dari Kadipiro untuk sowan dan mengucapkan belasungkawa ke rumah almarhum. Saya mengantarkan mas Dona ke tempat Mas Danarto.

Tidak ada perayaan apapun. Keluarga hanya mengiyakan pesan-pesan mas Danarto bahwa tidak perlu merayakan apapun. Bahkan perayaan kematian semacam tahlilan atau apa. Mas Danarto memang sangat mencintai kesunyian seperti dunianya yang benar-benar jauh dari apa yang distandarkan masyarakat modern.

Dan 23 Juli 2018 yang lalu di Yogyakarta, Cak Nun ikut merayakan 100-Hari Kepergian Mas Danarto. Semoga terus menjadi keberkahan untuk kita semua, dan Semoga Mas Danarto mendapatkan tempat terbaik di sisi Sang Khalik.

Sragen, Juli 2018

**semua catatan di atas diterbitkan di kolom di Koran Republika, dan disusun menjadi buku: Begitu Ya Begitu Tapi mBok Jangan Begitu.