Cak Fuad Dampingi Rombongan Pelestari Bahasa Arab Indonesia

Untuk kali pertama, Indonesia mendapatkan kehormatan menghadiri Pertemuan Koordinasi Para Dekan Fakultas dan Ketua Jurusan Bahasa Arab yang ada di Arab Saudi dan di Indonesia. Pertemuan ini diselenggarakan oleh King Abdullah bin Abdulaziz International Center for The Arabic Language ini dan bertempat di Riyadh, Arab Saudi.

Sesuai judul acara, pertemuan ini dihadiri delegasi dari kedua belah pihak, Indonesia dan Arab Saudi. Kedua negara sama-sama mengirimkan delegasinya sebanyak lima belas orang yang dipercaya.

Dari Indonesia, lima belas orang itu terdiri atas dekan, ketua jurusan, dan penggiat Bahasa Arab yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Rombongan delegasi diketuai oleh Doktor Ahmad Hidayatullah Zarkasyi dari Universitas Darusslam Gontor. Keseluruhan perjalanan dan agenda berlangsung selama sebelas hari, mulai 26 Juli sampai 5 Agustus 2018. Selama perjalanan ini, Cak Fuad dipercaya mendampingi rombongan yang kesemuanya mempunyai dedikasi sungguh-sungguh dalam mengembangkan pengajaran bahasa Al-Qur`an di Indonesia.

Tentu saja undangan ini tidak datang dengan tiba-tiba. Semua berawal dari kerja sama antara King Abdullah bin Abdulaziz International Center for The Arabic Language dengan Indonesia pada tahun 2013. Lebih tepatnya, semenjak diangkatnya Cak Fuad sebagai anggota Dewan Pembina atau The Board of Trustees pada lembaga tersebut dan diikuti dengan penyelenggaraan bulan Bahasa Arab pada 2014 di mama kegiatan-kegiatannya ditujukan untuk mengembangkan pengajaran Bahasa Arab di Indonesia.

Habis masa tugas satu periode, ternyata Cak Fuad masih dipercaya untuk menjadi anggota pembina pada King Abdullah bin Abdulaziz International Center for The Arabic Language ini. Salah satu agenda yang berlangsung pada periode kedua Cak Fuad adalah tahun pertemuan ini. Pertukaran pandangan mengenai masalah-masalah keilmuan dan manajemen di antara pimpinan-pimpinan lembaga Bahasa Arab di kedua negara ini menjadi hal topik utama pertemuan ini. “Kemudian diikuti dengan kerja sama di antara lembaga-lembaga itu dalam pengembangan Bahasa Arab di dua negara, khususnya dalam bidang pengajaran dan penelitian,” begitu Cak Fuad menambahkan.

Acara berjalan dengan kesungguhan yang terpancar dari wajah-wajah para peserta. Mereka ingin memanfaatkan betul pertemuan yang hanya tiga hari, 27–29 Juli 2018 ini dengan sharing upaya pengembangan dan pencarian solusi dalam pengajaran Bahasa Arab. Mulai dari pengenalan universitas-universitas dan lembaga-lembaga di Indonesia serta usaha-usaha yang dilakukan untuk pengembangan Bahasa Arab, upaya-upaya Indonesia dalam pengembangan Bahasa Arab, perencanaan bahasa, manajemen lembaga-lembaga bahasa, sampai tantangan yang dihadapi pengajar Bahasa Arab di Indonesia, dan juga prospek kerja sama dengan lembaga-lembaga di Arab Saudi.

“Rangkaian agenda pertemuan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang harus ditindaklanjuti oleh kedua belah pihak dalam kerja sama yang nyata,” kata Cak Fuad. Lebih lanjut Cak Fuad menegaskan, “Acara ini merupakan kesempatan yang baik, yang kita sendiri belum tahu kapan akan dilaksanakan lagi.”

Silaturahim Jamaah Maiyah Arab Saudi dengan Cak Fuad dan Bu Ud

Berkah Silaturahim

Setelah petemuan selesai, Cak Fuad didampingi sang istri, Bu Ud, beserta kelima belas delegasi dari Indonesia tadi melakukan kunjungan ke berbagai tempat. Di antara tempat yang dikunjungi adalah Universitas Malik Ibnu Saud di Riyadh, Universitas Ummul Qura di Makkah, dan Universitas Islam Madinah. Sebagaimana disampaikan Cak Fuad, kunjungan ke berbagai perguruan tinggi ini menghasilkan peluang-peluang kerja sama antara kedua belah pihak yang akan ditindaklanjuti secara konkret. Kesemuanya dilakukan dalam rangka membantu pengembangan pengajaran Bahasa Arab di Indonesia yang berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM dan pemanfaatan teknologi informasi.

Selain kunjungan ke berbagai perguruan tinggi, rombongan melakukan kunjungan ke beberapa tempat lainnya. Di antaranya, kunjungan budaya ke Diriyah, yang merupakan ibukota Kerajaan Saudi yang pertama. Rombongan ini juga mengunjungi Museum Nasional Arab Saudi dan Muntaja’ah atau tempat-tempat peristirahatan di tengah gurun pasir dan pegunungan.

Selama perjalanan ini, rombongan yang didampingi Cak Fuad tersebut juga berkesempatan menunaikan ibadah umrah pada 31 Juli 2018. Untuk diketahui, melakukan ibadah umrah bersamaan dengan musim haji di bulan Dzulhijjah ini tidaklah mudah. Aturan pemerintah Arab Saudi sangat ketat di musim haji ini. “Tidak boleh masuk ke Makkah selain jamaah haji mulai bulan Dzulqa’dah ini.” Bahkan, cerita Cak Fuad, sampai rombongan dari Indonesia ini berangkat pun belum ada kejelasan mengenai bisa atau tidaknya melaksanakan ibadah umrah. Ini dikarenakan visa yang dimiliki oleh Cak Fuad bersama rombongan memang bukanlah visa haji. Karenanya, Cak Fuad tentu tidak diperbolehkan memasuki kota Makkah. Aturan ketat ini diberlakukan untuk mencegah jamaah haji ilegal.

Tapi Cak Fuad tetap mengupayakan rombongan untuk bisa memasuki Makkah dengan menghubungi KBRI Riyadh. Alhamdulillah, berkat silaturahim ke kedutaan, rombongan Cak Fuad ini pun dibantu untuk bisa sampai melakukan ibadah umrah di Makkah. “Dibantu oleh kedutaan RI, dengan pendampingan dan kendaraan kedutaan, serta surat-surat resmi kedutaan.” Selain itu, izin itu dikuatkan oleh surat undangan dari Universitas Ummul Quro Makkah.

Cak Fuad menuturkan bahwa banyak pihak yang turut membantu hingga bisa sampai melakukan ibadah umrah ini. Duta besar serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Riyadh, Konsulat Jendral RI dan Atase Haji yang ada di Jeddah semuanya turut berperan menjadi tangan panjang Tuhan yang membantu rombongan Cak Fuad ini untuk bisa melakukan ibadah umrah di tengah perjalanan panjangnya.

Rombongan juga berterima kasih kepada jaringan alumni Gontor yang ada di sana. “Jaringan alumni Gontor juga sangat membantu, baik di KBRI maupun di Konjen.” Sehingga, rombongan Cak Fuad pun bisa mendapatkan pendampingan untuk bisa sampai ke Makkah.

Dan yang spesial pula, rombongan Cak Fuad disambut dengan sangat baik oleh dulur-dulur jamaah Maiyah, Mas Thobib dan kawan-kawan, yang ada di sana. Di Madinah, Cak Fuad pun bertemu salah satu Jamaah Maiyah yang menunaikan ibadah haji. “Teman-teman JM sangat membantu dalam keperluan teknis.” Layaknya seorang anak yang ingin melayani orangtuanya.

Mas Thobib menceritakan silaturahim jamaah Maiyah dengan Cak Fuad di lobi Hotel Karam di Thariq Madinah, Jeddah sangat gayeng. Saling guyon antara Mbah dan anak-cucu menjadikan perjumpaan ini hidup. “Urip iki kudu manfaati iso nang liyane,” begitu pesan Cak Fuad kepada mereka. Kurang lebih begitulah yang sedikit bisa menggambarkan bagaimana Cak Fuad bersama rombongan disambut hangat oleh dulur-dulur jamaah Maiyah di sana.

Siapa sangka, Pak Mudzakir, yang saat ini tinggal dan bekerja di Arab Saudi dan juga turut membantu rombongan ini pun ternyata adalah jamaah Maiyah generasi awal PadhangmBulan. Ah, lagi-lagi Tuhan memang selalu begitu. Ia tak pernah kekurangan cara untuk mempertemukan dan mempersatukan yang memang seharusnya bertemu dan bersatu. (HN/JJ)

Untuk kali pertama, Indonesia mendapatkan kehormatan menghadiri Pertemuan Koordinasi Para Dekan Fakultas dan Ketua Jurusan Bahasa Arab yang ada di Arab Saudi dan di Indonesia. Pertemuan ini diselenggarakan oleh King Abdullah bin Abdulaziz International Center for The Arabic Language ini dan…