Bukan Mencalonkan Diri, Tapi Memang Pantas Diri

Kali ini izinkan saya mengajak teman-teman untuk mengenal secuil kisah tentang kampung halaman tempat saya dulu dilahirkan. Sebentar, apakah ada yang kurang berkenan? Kalau ada, silakan tekan tanda back pada layar telepon pintar teman-teman. Namun bila tidak ada, mari kita mulai penelusurannya.

Tuhan menakdirkan saya lahir di sebuah kampung kecil yang terletak di ujung barat laut Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Boyolali. Dusun tempat kelahiran saya cukup terpencil. Dikitari sawah, sungai dan perbukitan. Dusun tersebut bernama Selogono. Selo berarti watu (batu), sedangkan gono artinya gajah. Kenapa dinamakan Selogono, sebab di sana dahulu terdapat banyak bebatuan berukuran besar seukuran gajah. Informasi tersebut saya dapatkan dari para sesepuh, tokoh dan simbah-simbah kami secara turun temurun. Konon, batu-batu besar tersebut oleh warga dikepruki, dipalu, dilinggis menjadi ukuran yang lebih kecil lalu dibagikan rata ke seluruh warga untuk kemudian dijadikan bahan pondasi rumah-rumah mereka.

Dusun Selogono berada di wilayah Kelurahan Girimargo, Kecamatan Miri, Kab. Sragen. Kelurahan Girimargo sendiri memiliki 15 dusun atau padukuhan. Yang mana setiap dusun rata-rata dihuni oleh 100 KK. Jika per KK katakanlah mempunyai 5 anggota keluarga, maka secara hitungan kasar Kelurahan Girimargo mempunyai jumlah penduduk sekitar 15 x 100 x 5 = 7.500 orang. Angka yang cukup besar.

***

Pada bulan Desember 2017 lalu Desa Girimargo menghelat pesta demokrasi. Yakni pemilihan kepala desa/lurah periode 2018 – 2024. Mungkin lebih tepatnya bukan pesta kali ya. Kalau pesta itu kesannya mewah, meriah, hura-hura, bersenang-senang. Nah yang terjadi kemarin tidak demikian. Semua berlangsung sederhana. Biasa-biasa saja dan apa adanya. Tidak ada poster wajah calon di tembok-tembok. Tidak ada baliho besar yang dipampang di pinggir jalan. Tidak ada atribut dan sorak-sorai kampanye. Dan juga tidak ada istilah tim sukses apalagi “serangan fajar”. Satu-satunya yang ada hanya spanduk yang dibentangkan di beberapa titik, yang berisikan himbauan atau informasi tentang hari, tempat dan waktu pemilihan Kades digelar.

Saat hari-H tiba, warga satu persatu bergantian mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Lalu mencoblos menggunakan hak pilihnya. Setelah itu pulang. Dah selesai. Tidak ada suasana riuh rendah di sana. Semua berjalan lancar dan wajar.

Satu yang menjadi catatan penting. Bahwa selama dua periode ini Desa Girimargo hanya memiliki calon tunggal kepala desa. Tidak ada pertarungan di sana. Tidak ada adu strategi dan visi-misi. Tidak ada istilah menang-kalah. Lha wong cuma satu yang maju. Ya pasti dia yang menang.

Padahal kalau dipikir-pikir sebenarnya menjadi lurah sekarang itu penak. Selain mendapat jatah tanah (bengkok), ia juga digaji. Dan nominal gajinya cukup tinggi. Tapi kenapa, kenapa di desa saya Girimargo tidak ada yang berambisi untuk duduk di kursi itu? Hari gini siapa sih yang tidak pengin punya kedudukan. Tidak pengin punya duit banyak, pangkat, popularitas, nama baik, dll. Kenapa orang-orang di kampung saya tetap memilih hidup seadanya, nglaras, sak madyo, ndak neko-neko, cukup narimo ing pandum. Kondisi ini jelas kontras, bertolak belakang dengan gaya hidup orang-orang modern di zaman sekarang.

Melihat ‘kejanggalan’ ini saya coba menelusuri, mengamati, meneliti, merekam, dan mencatat. Kenapa para warga tak satu pun ada yang minat maju untuk menjadi Kepala Desa. Cukup mencengangkan. Ada beberapa fakta menarik yang berhasil saya temukan. Kenapa sudah dua periode ini Desa Girimargo hanya ada satu calon tunggal Kepala Desa? Apa tidak ada yang berhasrat untuk menjadi yang nomor satu di negeri Girimargo ini? Apa tidak ada yang pengin punya tanah luas, uang banyak, kehormatan dan kedudukan? Apa tidak ada lagi kaum cerdik-pandai di kampung ini sehingga calonnya itu-itu lagi?

Sebagian besar warga pun menyatakan: menjadi lurah itu berat. “Abot mas sanggané”, kata warga. Lurah itu pemimpin, ngemong orang banyak. Jadi pemimpin itu harus jujur, adil, tidak membeda-bedakan warganya. Pemimpin mesti memiliki sikap hamengku (melindungi), hamangku (mengayomi), hamengkoni (memberi teladan). Dasar dari semua sikap tersebut adalah iman. Percaya bahwa menjadi pemimpin itu amanah Tuhan. Diawasi Tuhan. Kelak dimintai pertanggungjawaban. Kudu ati-ati, dan tidak boleh sembarangan. Amanah harus diemban sebaik-baiknya.

“Dan kami-kami ini wong bodo. Rasa-rasanya ndak mampu kalau disuruh untuk “nyunggi wakul”. Daripada wakul ngglempang, mending kami serahkan kepada yang lebih pantas dan mampu menyungginya. Jadi intinya kami semua ikhlas dan puas kalau pak Lurah yang sekarang mimpin desa ini selama beliau mampu dan Gusti Allah kasih restu.”

***

Alhamdulillah, saya pun mengenal baik pribadi pak Lurah. Hampir seluruh warga tahu perihal garis nasab berikut track record beliau. Kursi kepala desa yang beliau duduki selama dua periode berturut ini tidak serta merta beliau dapatkan. Sebelumnya beliau telah lama menjabat sebagai ketua RT, ketua takmir masjid, modin, penghulu (naib) nikah sampai Allah memberikan amanah kepada beliau untuk menjadi lurah. Hebatnya lagi, beliau pak Samino (Lurah Girimargo) tidak pernah mencalonkan diri untuk menjadi lurah/kepala desa. Melainkan beliau dicalonkan, ditunjuk warga, disumanggakaké oleh masyarakat, tokoh dan segenap perangkat desa.

Peristiwa ini mengingatkan saya tentang wejangan Cak Fuad di forum Padhangmbulan beberapa bulan lalu. Bahwa menjadi seorang pemimpin itu tidak dengan cara mencalonkan diri. Tapi dirinya memang benar-benar pantas. Tidak menjual diri dengan cara kampanye, promosi gila-gilaan, pencitraan, tebar pesona dan obral janji sana-sini. Menurut Cak Fuad, Rasulullah Saw memang tidak melarang kita untuk menjadi pemimpin, tetapi melarang kita meminta jadi pemimpin. Ini jelas beda konteks dan motifnya. Anjuran tersebut didasari sebuah hadist sahih dari Bukhari Muslim.

حديث عبد الرحمن بن سمرة رضي الله عنه قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا عبدالرحمن بن سمرة، لا تسأل الإمارة؛ فإنك إن أُوتِيتَهَا عن مسألة وُكِلْتَ إليها، وإن أوتيتها من غير مسألة أُعِنْتَ عليها.

Wahai Abdurrahman, jangan minta jadi pemimpin. Kalau kamu jadi pemimpin karena permintaan atau keinginanmu, maka semua urusan menjadi urusanmu sendiri (Allah tidak mau tahu). Tapi kalau kamu jadi pemimpin bukan atas permintannmu atau keinginanmu, Allah akan membantumu.

Jika niat kita menjadi pemimpin atas dasar keinginan pribadi tanpa melibatkan Allah, sudah pasti salah. Kalau awalnya saja sudah salah pasti selanjutnya akan bubrah. Jangan ditawar lagi. Tetapi kalau kita maju sebagai pemimpin bersebab ‘ditunjuk’ dan mohon restu sama Allah dan umat, maka InsyaAllah Gusti Allah bakal cawe-cawe. Ikut tumandang gawe.

Belajar menjadi pemimpin sejatinya dapat kita tempuh melalui ilustrasi sederhana. Pengalaman yang mungkin setiap hari kita jumpai. Semisal kita hendak shalat di Musholla dan terdapat lima orang di sana. Apakah pantas kalau salah satu dari kita mengajukan diri menjadi imam?

“Biar saya saja yang jadi imamnya.” Masak kita bilang gitu. Ya ndak etis lah. Malu. Wagu tur saru. Yang layak jadi imam shalat adalah satu orang yang ditunjuk, dipercaya, diyakini oleh keempat orang lainnya bahwa orang tersebut dirasa mampu dan bisa menjadi imam yang baik.

Layaknya dulu Baginda Muhammad Saw yang menjadi pemimpin karena dipilih, diangkat, dipercayai oleh umat. Sebab umat tahu dan mafhum akan kualitas dan kapasitas diri beliau. Muhammad adalah pribadi yang mulia, shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. Maka beliau sangat cocok dan memenuhi persyaratan lahir-batin untuk menjadi seorang pemimpin.

***

Alhamdulillah, pemilihan kepala desa di tempat saya kemarin berhasil digelar dan berlangsung lancar. Adem-ayem, jauh dari ketegangan, provokasi, olok-olok dan aroma persaingan. Semua lilo legowo, mangayu-bagyo pak Samino menjadi lurah Desa Girimargo.

Benar mereka wong ndeso, bodo, tak berpendidikan tinggi. Namun mereka punya harga diri. Biso rumongso bukan rumongso biso. Tidak menonjol-nonjolkan diri demi mendapatkan posisi, materi maupun karier pribadi. Diam-diam, metode dalam memilih pemimpin yang diajarkan Rasulullah dan Al-Qur`an telah berhasil mereka praktikkan.

Jauh-jauh hari Mbah Nun pun telah sampaikan. “Indonesia bagian dari desa saya.” Artinya, desa adalah “orangtua”-nya Indonesia. Desa merupakan ibu, induk, madrasah bagi negara yang bernama Indonesia. Maka Indonesia wajib meng-ibu, ‘menyusu’, sinau kepada desa agar becus mengurus rumah tangganya. Seperti halnya memilih seorang pemimpin negara, kota, wilayah atau daerah (Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, dlsb). Indonesia mesti belajar pada kearifan desa dan manusianya.

2018-2019 adalah tahun politik. Siapa yang ingin menjadi pemimpin baiknya jangan mencalonkan diri. Tetapi jadilah diri yang memang pantas jadi pemimpin. Biar suara rakyat-suara Tuhan yang menentukan nanti.

Kali ini izinkan saya mengajak teman-teman untuk mengenal secuil kisah tentang kampung halaman tempat saya dulu dilahirkan. Sebentar, apakah ada yang…