Bukan Cinta Artifisial untuk Menghadapi Zaman Serba Artifisial

Reportase Sinau Bareng FPOTB, Malang 27 September 2018

Dewasa ini, sudah tak asing lagi bahasan mengenai kecerdasan buatan atau yang biasa disebut dengan artificial intelligence. Sebagaimana sering digembor-gemborkan, ke depan, sebagian besar pekerjaan manusia akan digantikan oleh peran alat-alat teknologi super canggih. Bahkan, ada yang bilang bahwa sekarang sudah ada mesin yang bisa mendiagnosis penyakit tumor, dan keakuratannya pun jauh lebih baik dibandingkan diagnosis para dokter.

Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya jika mesin-mesin ini terus berkembang dan tak terkendalikan. Hidup kita akan penuh dengan mesin. Di sisi lain, ini memang akan memudahkan pekerjaan manusia. Akan tetapi, jika kita tidak berhati-hati, akan ada yang hilang dari kemanusiaan kita. Hal-hal yang mendasar dari manusia, bisa jadi akan turut terkikis seiring dengan kehadiran mesin-mesin yang kecerdasannya serba diadakan dan dibuat oleh para manusia itu sendiri.

Karena Kita Punya Cinta

Melihat acara Sinau Bareng semalam di kecamatan Dau, Malang, seolah ini adalah penyeimbang dari zaman yang serba artifisial itu tadi. Mesin-mesin itu boleh saja bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh para manusia. Mesin-mesin itu boleh saja merenggut peran-peran para manusia. Tapi, ada satu yang tak akan pernah mereka punya dan tak bisa mereka rebut dari kita. Adalah cinta yang tak dipunyai oleh mereka. Mesin-mesin hanya melakukan sesuatu sesuai perintah manusia, tapi mesin-mesin itu tak bisa memahami apa maksudnya.

Kolaborasi warga dengan Mbah Nun dan Pakde-Pakde KiaiKanjeng yang penuh dengan nada-nada cinta menyapa setiap hati yang hadir di sana. Ada jamaah yang mencoba melantunkan puji-pujian yang biasa dilantunkan di mushala-mushala khas kampung sana. Saya baru mendengar puji-pujian seperti itu untuk pertama kalinya di sana. Di antara lirik puji-pujian itu, ada satu kalimat yang sontak menancap dan membekas di memori saya. “Duh Gusti, saya minta hujan.” Tentunya, kalimatnya tidak persis seperti itu. Karena puji-pujiannya dilafalkan dalam bahasa Jawa seperti yang biasa kita dengar di mushala-mushala kampung pada umumnya. Ini bukan tentang kalimatnya, atau apa yang si pelantun pujian pinta kepada Tuhannya. Akan tetapi, entah, saya melihat adanya kemesraan dan kemurnian dalam bait yang beliau lantunkan itu tadi. Kalau Anda ingin turut merasakannya, barangkali bisa dicoba untuk hadir di kampung sana pada saat adzan memasuki waktu ibadah shalat lima waktu. Semoga saja, Anda juga bisa beruntung merasakan kemurnian dan kemesraan cinta melalui lantunan senandung pujian seperti saya rasakan malam itu.

Selain di awal acara dan sepanjang acara Sinau Bareng, kemesraan antar jamaah juga saya rasakan ketika acara telah usai. Semua jamaah bergerombol antre untuk menuju jalan pulangnya masing-masing. Di antara jalan-jalan untuk keluar lokasi Sinau Bareng itu, ada jalanan yang turun seperti jeglongan. Dan di antara kerumunan jamaah itu, ada suara yang saling mengingatkan satu sama lain, “Awas… awass…” Mungkin ini sekilas tampak biasa saja. Akan tetapi, kalau terhadap hal-hal yang kecil dan sederhana saja mereka bisa saling peduli, bagaimana dengan hal-hal yang jauh lebih besar lagi? Dan bukankah kepedulian itu juga bagian dari perwujudan cinta?

Kemesraan-kemesraan ini, bisa jadi juga karena atmosfer kota Malang yang penuh cinta. Sebagaimana yang telah diceritakan Mbah Nun, bahwa dulu, Malang ini menjadi barometer musik rock di Indonesia. Kalau grup musik itu ‘laku’ di Malang, bisa dipastikan grup musik itu juga akan bisa terkenal di dunia permusikan Indonesia.

Menurut Mbah Nun, ini tak lain juga karena karakter orang Malang waktu itu yang berani mengkritik. Tentunya bukan mengkritik untuk menjatuhkan, melainkan mengkritik untuk kebaikan. Kalau berkaca pada konsep sesrawungan yang telah disampaikan Mbah Nun, orang-orang yang sudah berani mengkritik, sudah berani membicarakan kebenaran, berarti orang-orang itu sudah sangat dekat dan berada dalam naungan cinta dan kemesraan.

“Kalau kita masih ada jarak dengan seseorang, kita masih belum begitu dekat dengan seseorang, sebaiknya yang kita keluarkan adalah kebijaksanaan. Ketika kita sudah mulai berdekatan, kita sudah mulai hidup sesrawungan dan berdekatan, kita baru bisa menggunakan kebaikan. Dan ketika kita sudah sangat dekat dan akrab dengan seseorang, kita baru boleh membicarakan kebenaran.” Kurang lebih begitulah yang Mbah Nun sampaikan tadi malam. Kita tidak boleh sembarangan mengeluarkan kebenaran. Kebenaran hanya boleh kita bicarakan saat kita sudah sangat intim dengan seseorang.

Memanglimai Diri

Tadi malam juga ada salah satu tokoh masyarakat yang turut duduk di atas panggung membeberkan kenangannya akan sosok Mbah Nun. Beliau mengaku kalau dulu, sewaktu masih menjabat sebagai anggota Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, beliau sering mengundang Mbah Nun. Beliau mengenang bagaimana sabarnya Mbah Nun waktu itu. Mbah Nun yang waktu itu masih keliling naik sepeda motor dan ban sepeda motornya meletus turut menjadi bagian dari kenangan yang beliau ceritakan. “Tapi, kalau melihat dulu dan sekarang, masih sama. Awet muda. Ini yang perlu kita tanyakan kepada beliau, apa rahasianya.”

Pertanyaan yang dilontarkan dalam guyonan itu pun terjawab juga melalui jawaban Mbah Nun akan pertanyaan salah seorang jamaah mengenai praktik kepanglimaan diri. “Saya mengusahakan masalah-masalah kecil saya atasi sendiri.” Begitu di antara poin yang Mbah Nun sampaikan guna belajar memanglimai diri sendiri. Mengendalikan diri sendiri dari hal-hal yang kecil dulu. Kita perlu belajar untuk membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.

“Atasi dirimu dari dalam dirimu sendiri dulu. Baru kalau sudah mentok, minta bantuan ke luar. Jangan mudah meminta bantuan dari luar.” Kalau kita sedang sakit misalnya, coba kita ajak komunikasi segala apa yang ada dalam tubuh kita. Selagi masih bisa bertahan, usahakan jangan tergantung dengan zat-zat ataupun benda dari luar.

Tidak bergantung pada dunia luar ini juga bisa menjadi bagian dari kuda-kuda kita untuk menghadapi zaman yang serba artifisial itu tadi. Biarkan saja mesin-mesin itu terus dikembangkan dan diproduksi, yang jelas, kita tetap perlu belajar untuk tidak tergantung pada itu semua. Saya pun jadi ingat akan apa yang pernah dokter Christyaji sampaikan pada satu kesempatan Maiyah ReLegi, bahwa pada dasarnya tujuan teknologi adalah memang untuk memudahkan pekerjaan manusia. Akan tetapi, kalau tanpa alat-alat itu saja kita sudah bisa mengatasinya sendiri, siapa sebenarnya yang jauh lebih canggih? Yang ‘bekerja’ tanpa alat atau apa orang-orang yang masih membutuhkan alat di luar diri untuk sekadar membantu menyederhanakan dan menyelesaikan pekerjaannya? Sedangkan kalau berkaca pada kisah mbah-mbah kita di Nusantara ini, beliau-beliau adalah orang-orang yang piawai menyederhanakan segala kerumitan meski tanpa adanya alat bantuan.

Selain cinta, yang tidak dipunyai mesin-mesin itu adalah akal untuk berkreativitas. Sinau Bareng seperti ini, selain menyuguhkan atmosfer penuh cinta juga mendorong kita untuk terus belajar mengolah akal pikiran kita sebebas-bebasnya. Tak pernah Mbah Nun mencekoki atau mendikte jamaah dengan paham ini atau itu. Mbah Nun hanya berusaha memancing dan memantik jamaah untuk berpikir dan mencari sendiri. Dan ini yang kita butuhkan untuk menghadapi zaman yang serba artifisial ini.

Pekerjaan-pekerjaan manusia bisa saja digantikan oleh peran mesin-mesin buatan manusia. Akan tetapi, sejauh ini, pekerjaan-pekerjaan yang bisa digantikan oleh mesin-mesin itu hanyalah pekerjaan mekanik saja. Tidak demikian halnya dengan pekerjaan yang menyangkut kreativitas manusia.

Mbah Nun juga berpesan agar kita terus belajar untuk memperbaiki diri. Agar kita terus belajar melakukan perbaikan dalam diri. Yang pertama perlu kita lakukan adalah membereskan urusan kita dengan Tuhan. Aqidah kita sudah harus jelas. Baru kemudian kita belajar memproduksi dan memperbaiki kebaikan-kebaikan. Dan dalam usaha-usaha ini, kita memerlukan peran akal yang terus dirawat dan dijaga. Yang terpenting adalah, pikiran kita harus jujur. Sebagaimana sering Mbah Nun sampaikan, kita sudah harus belajar mulai jujur sejak dalam pikiran.

Semoga saja Sinau Bareng-Sinau Bareng seperti ini akan tetap ada. Agar kita pun bisa belajar dengan merdeka mengkreasikan pemikiran kita, dan tentunya tetap dengan atmosfer guyub rukun yang penuh cinta. Barangkali, olahan-olahan kita dalam dan dari Sinau Bareng-Sinau Bareng ini bisa sangat bermanfaat untuk kehidupan anak cucu kita nantinya. Setidaknya, ini menjadi bagian dari usaha kita, agar nantinya, anak cucu kita juga masih bisa merasakan bagian dari kasih sayang Semesta dan hidup di negeri yang benar-benar cipratan surga, dan bukan lagi tanah surga katanya.

Buku Cak Nun