Bicara Indonesia, Jadilah Manusia Ruang

Catatan Majelis Maiyah Kenduri Cinta, 14 September 2018

Plaza Taman Ismail Marzuki Jakarta selalu penuh sesak ketika Kenduri Cinta dilangsungkan. Dalam beberapa bulan terakhir bahkan saat jam masih menunjukkan pukul 21:00 WIB pun sudah banyak jamaah yang datang. Seperti yang tampak pada Kenduri Cinta edisi September semalam yang mengangkat tema “INDOAUTONESIA”, pada saat beberapa penggiat Kenduri Cinta sedang melantunkan Wirid Tahlukah, sudah banyak jamaah yang duduk menempati terpal yang sudah digelar sejak sore hari.

Ketika membaca tema Kenduri Cinta kali ini, salah satu fokus utama jamaah adalah kata “auto” yang diletakkan di antara kata indo dan nesia. Di sesi awal, beberapa jamaah memberikan respons bahwa pemilihan tema kali ini erat kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0 yang sedang digaungkan di seluruh negara. Tidak dipungkiri, teknologi hari ini begitu pesat perkembangannya, sudah banyak sumber daya manusia yang perannya digantikan oleh mesin-mesin dan robot-robot yang canggih.

Namun sebenarnya, titik berat dari tema Kenduri Cinta malam tadi bukanlah tentang kecanggihan teknologi yang akan menggantikan manusia di Indonesia untuk mengurus negara. Sama sekali bukan demikian. Judul ini sebenarnya adalah judul satir untuk membicarakan Indonesia hari ini. Adalah sebuah keniscayaan bahwa di Maiyah kita tidak mungkin tidak membicarakan Indonesia. Secara sadar, kita di Maiyah sudah melatih dan memposisikan diri bahwa kita bukan bagian dari Indonesia, melainkan Indonesia adalah bagian dari diri kita. Sehingga, posisi kita terhadap Indonesia adalah memberi, bukan meminta, bukan menagih, bukan menuntut. Namun justru sebisa mungkin kita memberikan sumbangsih kepada Indonesia.

Kerinduan jamaah Kenduri Cinta akan kehadiran Cak Nun di Taman Ismail Marzuki menjadi salah satu sumber penyemangat tersendiri. Jamaah seperti mendapati sosok Bapak yang ngemong dalam diri Cak Nun. Layaknya anak kepada Bapaknya, tidak sedikit dari jamaah yang secara terang-terangan mengungkapkan keluh kesah hidup mereka kepada Cak Nun, seperti dinihari tadi di akhir acara, ketika salam-salaman, banyak jamaah yang memeluk Cak Nun, menangis haru, mengungkapkan kesulitan hidup yang mereka hadapi. Hanya dengan mencium tangan Cak Nun atau juga ada yang memeluk Cak Nun, raut wajah mereka seketika menjadi cerah, seolah-olah tekanan hidup yang mereka hadapi telah pergi.

Pemandangan seperti ini selalu terlihat pada setiap Maiyahan berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Maka, ketika di menit-menit awal, Cak Nun menyampaikan beberapa poin penting sebagai pengingat untuk kita semua, bahwa pondasi yang kita bangun bersama di Maiyah adalah tauhid yang mutlak. Bahwa yang primer adalah Allah Swt, jika pun harus ada sosok lain yang juga primer, maka sosok itu adalah Rasulullah Saw. Berkali-kali Cak Nun menekankan hal ini di setiap Maiyahan, agar jamaah maiyah tidak terjebak pada kultus individu terhadap sosok Cak Nun tentunya.

“Anda harus waspada kepada saya”, Cak Nun menekankan kalimat ini di awal. Cak Nun kemudian mengingatkan bahwa Al-Qur`an adalah sebuah kebenaran yang mutlak, tidak ada keraguan di dalamnya. Laa Roiba Fiih. Dan dalam diri manusia, hati nurani adalah bagian tubuh yang sangat mudah untuk kompatibel dengan Al-Qur`an, maka dengan pijakan ini, Cak Nun juga menyarankan bahwa jika ada kalimat atau informasi yang disampaikan oleh Cak Nun dan itu kompatibel dengan hati nurani kita, boleh lah kita setuju dengan informasi tersebut. “Kalau sama Al-Qur`an, Anda membabi buta saja. Pokoknya percaya saja”, tegas Cak Nun.

Cak Nun bahkan menjelaskan bahwa tidak seluruh informasi yang disampaikan di Maiyah adalah informasi yang matang. Ibarat makanan, ada yang perlu digoreng terlebih dahulu, ada yang peru digodok terlebih dahulu sebelum dikunyah dan ditelan. Jika menggunakan terminologi Khalifah Ali bin Abi Thalib; Undhur maa qoola wa laa tandhur man qoola, lihatlah, perhatikan, dengarkan apa yang diucapkan, jangan melihat siapa yang mengucapkan.

Namun demikian, seperti yang juga beberapa kali dibahas di Maiyahan, ada 3 kemungkinan lain dari terminologi ini; Lihatlah, perhatikan siapa yang mengatakan, jangan melihat apa yang dikatakan. Ada pula kemungkinan; lihatlah dan perhatikan siapa yang menyampaikan dan apa konteks yang disampaikan. Namun, ada juga kemungkinan sebuah fenomena yang sudah sangat jelas, sehingga yang berlaku adalah jangan melihat siapa yang mengatakan dan jangan pula memperhatikan apa yang disampaikan.

Sebuah bekal awal dari Cak Nun untuk mengantarkan tema Kenduri Cinta malam tadi. Secara teratur, Cak Nun juga me-review ulang khasanah ilmu Maiyah dalam beberapa bulan terakhir seperti fenomena 3C (Cekak, Ciut, Cethek) dalam masyarakat kita hari ini, finite game dan infinite game, hingga term sudut pandang-jarak pandang-cara pandang-resolusi pandang. 

Salah satu bekal kita mengapa kita mampu untuk berlama-lama duduk menekun di Maiyahan adalah karena hati kita semuanya tulus dan ikhlas menyimak, mendengarkan, memperhatikan apa saja dan siapa saja yang tampil di podium. Estetika keindahan sebuah alunan musik tidak terutama terletak pada aransemen yang dimainkan, melainkan pada keikhlasan semua pihak, sehingga cinta yang tercurahkan menghasilakn sebuah keindahan dan kebahagiaan untuk semua pihak. Air yang mengalir, sejatinya bukanlah sesuatu hal yang otomatis terjadi, namun kondisi itu merupakan sebuah sunnatullah. Begitu juga dengan detak jantung manusia, aliran darah dalam tubuh manusia, pohon yang tumbuh, daun yang berguguran, angina yang berhembus, ombak yang berdesir seluruhnya merupakan sunnatullah.

Cak Nun kemudian berbelok sedikit merespons kondisi masyarakat Indonesia. Digambarkan oleh Cak Nun bahwa saat ini kita semua berada di tengah-tengah sebuah jembatan yang sangat tipis, sedikit saja kita salah presisi akibat hembusan angin, kita akan dituduh-tuduh Pro Jokowi atau Pro Prabowo. Bagi Cak Nun, jalan yang paling aman adalah jalan yang berada di bawah jembatan, namun jika kita memilih jalan itu risiko yang kita dapatkan adalah bahwa kita tidak akan dilihat oleh manusia yang lainnya.

Cak Nun kemudian menjelaskan term manusia ruang lebih komprehensif. Merefleksikan pada perjalanan hidupnya, Cak Nun menjelaskan bahwa selama ini beliau menjadi manusia ruang bagi semua pihak, sehingga Cak Nun diterima oleh siapa saja, karena Cak Nun memiliki presisi, selama yang datang itu tidak berbuat buruk maka tidak ada alasan untuk menolak kedatangannya, apalagi memutus tali silaturahminya.

Kembali menyinggung PILPRES 2019, Cak Nun menggambarkan bahwa Indonesia ini adalah sebuah bangunan yang sangat besar, sementara PILPRES 2019 hanyalah sebuah garis kecil, sehingga sangat mustahil garis yang kecil itu kemudian mempersempit bangunan besar bernama Indonesia. Maka di Maiyah kita mengejawantahkan apa yang sudah diajarkan oleh Cak Nun kepada kita, bahwa Maiyah adalah ruang bagi semua pihak maka kita sebagai orang maiyah adalah manusia ruang yang harus memiliki kemampuan untuk menampung siapa saja. “Karena Anda semua berjiwa ruang, maka kita di Kenduri Cinta merasakan keindahan”, tegas Cak Nun.

Salah satu asas yang selalu digembar-gemborkan dalam Pemilihan Umum adalah Rahasia. Namun, yang terjadi hari ini sudah tidak ada lagi rahasia dalam Pemilihan Umum. Pilihan setiap orang atas hak bersuara justru diumbar-umbar di ruang publik, esensi dari rahasia itu sendiri akhirnya hilang dengan sendirinya, maka yang kita lihat hari ini adalah benturan demi benturan, saling adu kebenaran, bahkan hingga tahap yang paling parah; memaksakan kebenaran kepada orang lain.

“Kamu pilih Jokowi monggo, kamu pilih Prabowo monggo. Memilih siapa, urusannya ada di dalam bilik TPS, hanya kamu dan Allah yang mengetahuinya. Di dalam bilik TPS itulah kenikmatan menyimpan rahasia pilihanmu, kenapa sekarang justru diumbar di medsos?”, Cak Nun menyayangkan perilaku manusia hari ini yang semakin tidak mampu menjaga auratnya masing-masing. Aurat bukan hanya sekadar anggota tubuh yang tidak boleh dilihat oleh orang lain yang bukan mahramnya, aurat juga memiliki banyak gradasi dan dimensi. Ada aurat yang berbentuk fisik ada juga yang non-fisik. Sementara manusia hari ini semakin tidak mampu mengidentifikasi mana yang aurat dan mana yang bukan.

Malam tadi, Cak Nun juga sedikit menceritakan tentang rencana pementasan sebuah naskah drama teater “Sengkuni 2019” yang direncanakan akan dipentaskan pada bulan Januari 2019 di Taman Budaya Yogyakarta. Selama ini, kita semua kecelik dengan sosok Sengkuni. Cak Nun menjelaskan dengan detail seperti apa sosok Sengkuni itu sebenarnya. Ada faktor penderitaan yang dialami oleh Sengkuni sehingga ia berlaku seperti apa yang kita ketahui tentang perilaku sengkuni. Namun demikian, semua itu ada sebabnya. Hari ini, banyak sekali orang menuduh orang lain sebagai Sengkuni, sementara ada juga orang yang merasa memang dia adalah Sengkuni abad ini, sementara tidak ada alasan yang masuk akal yang menjadi landasan kuat bahwa dia berhak memerankan sosok Sengkuni di kehidupan hari ini. Yang ada justru banyak sekali orang yang memaksakan diri menjadi Sengkuni.

Sungguh, suasana Sinau Bareng di Maiyah adalah sebuah kerinduan yang terus berulang, tak terkecuali di Kenduri Cinta ini. Kerinduan untuk berjumpa dengan para sahabat sesama jamaah maiyah, juga kerinduan untuk bertatap muka dengan Cak Nun, guru kita semua di Maiyah. Dan sebagai orang maiyah, kita pun harus memahami batas, bahwa sebuah perjumpaan yang terjadi akan dibatasi dengan perpisahan, agar kerinduan untuk bertemu kembali terus terjaga. Kenduri Cinta edisi September 2018 pun dipuncaki dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Muzammil, dan kemudian Cak Nun memberi kesempatan kepada seluruh jamaah menuntaskan rindu dengan bersalaman.

Buku Cak Nun