Berusaha Mewujudkan Cita-Cita

Semenjak saya belajar di SD hingga sesudah lulus SMA, rasanya kalau membicarakan tentang cita-cita itu agak mengecewakan hati saya sendiri. Saya dulu pernah mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang TNI, tetapi cita-cita itu tidak pernah terwujud. Padahal dari SD hingga SMA, saya merasa sudah rajin dalam urusan belajar, disiplin, rapi dan tepat waktu. Dalam hal terlambat masuk sekolah saja jarang terjadi pada diri saya apalagi tidak masuk sekolah atau membolos.  Kalau tidak karena sakit, saya selalu masuk sekolah tanpa alasan apapun.

Iya kalau sekolah saya di kota mungkin bisa jadi saya sering membolos atau beralasan tidak masuk sekolah, bisa bermain ke mana-mana. Orang-orang sekitar kita tidak akan pernah ada yang tahu kalau saya lagi membolos tidak masuk sekolah. Tetapi saya kan hidup di Desa bukan di kota, dan sekolahan saya juga dekat dari rumah hanya berjarak beberapa kilometer saja. Tidak ada gunanya kalau membolos karena cuma ingin bermain saja. Itu sudah pasti akan ada orang yang tahu dan melaporkan kepada orang tua saya. Atau guru saya akan mendengar dan melihat sendiri saat saya bolos. Akhirnya nanti malah membuat malu saya sendiri.

Saat saya kelas 2 SMA, saya sudah mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mungkin kalau di STM jurusannya mekanik otomotif, perkakas dan lain-lain yang menarik. Tetapi di SMA saya cuma ada dua jurusan yaitu IPA dan IPS. Ada alasannya kenapa saya setelah lulus SMP lalu saya meneruskan ke SMA bukan STM. Kembali lagi ke cita-cita saya tadi ingin menjadi seorang TNI, tepatnya TNI Angkatan Udara. Kata saudara saya anggota TNI, kalau mau masuk TNI AU harus orang yang ber-IQ pintar, maka saai itu saya berkesimpulan harus masuk SMA.

Persiapan memang harus matang karena syarat dan ketentuan pasti berlaku. Menurut saudara-saudara saya kalau ingin menjadi anggota TNI AU, semuanya harus disiapkan sejak dini. Apalagi yang akan masuk menjadi seorang Prajurit Bintara TNI AU, orang tersebut harus pintar, tidak akan diterima kalau IQ-nya rendah. Semua akan terlihat setelah menjalani semua tes yang diempuh. Dari tes kesehatan, jasmani, psikologi, postur tubuh, gangguan jiwa dan lain-lainya. Tidak ada kecurangan dari pihak panitia, semua murni hasil tes yang mereka tempuh.  Seandainya tidak murni hasil tes yang mereka jalani saat masuk, akan sangat berpengaruh saat menjalani pendidikan nantinya. Mungkin bagi yang lulus STM bisa mendaftar diri menjadi seorang Prajurit Tamtama TNI AU dan yang bagi yang lulus SMP hanya bisa mendaftarkan diri di Prajurit Tamtama TNI AD. Mendapat informasi seperti itu, maka saat di SMA saya tambah rajin dalam berbagai hal.

Setelah lulus SMA akhirnya saya benar-benar ingin menggapai cita-cita saya itu. Saya mendaftarkan diri menjadi Prajurit Bintara TNI AU. Pada saat itu yang mendaftarkan diri juga banyak, sudah pasti saingan saya juga banyak. Setiap hari belajar entah itu psikologi, sejarah, dan juga olahraga. Semangat pun tetap harus dijaga, seleksi tes demi tes berikutnya saya hadapi sampai lolos terus hingga akhirnya saya dan teman lainya dikirim ke panitia pusat pendidikan TNI AU. Di sana bertemu dengan seluruh calon Bintara TNI AU se-Indonesia tahun 2010.

Tidak ada yang tidak berusaha dulu kalau mau sukses. Kesuksesan adalah sebab-akibat dari usaha kita sendiri kalau ingin mewujudkan cita-cita. Banyak juga yang mempunyai cita-cita tetapi tidak terwujud sampai sekarang seperti saya ini. Usaha demi usaha semaksimal mungkin juga sudah saya lakoni, tentunya juga dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Mengabulkan Doa kita yaitu Allah Ta’ala. Tetapi atas takdir nasib saya, Allah berkehendak lain. Capaian cita-cita saya sampai mendaftarkan diri sebanyak enam kali, Alhamdulillah belum pernah terwujud sama sekali.

Kalau sekedar cita-cita menjadi presiden, pengusaha sukses, tokoh berprestasi, orang kaya dan yang semacam-macam itu, sangat mudah mencapainya. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana siapa saja dianggap pantas menjadi apa saja. Di zaman di mana ukuran yang berlaku adalah kepentingan pihak yang berkuasa, yang menguasai modal dan perangkat-perangkat sejarah.

Tetapi yang begitu-begitu itu namanya bukan cita-cita, melainkan ambisi. Jelasnya, ambisi pribadi. Kita punya seratus piring nasi hari ini dan jutaan piring nasi untuk makan sampai ke masa depan, sementara orang lain hari ini belum pasti akan bisa makan sepiring nasi — itu bukanlah pencapaian cita-cita.

Itu sukses karier pribadi. Dan karier pribadi itu memalukan di tengah sesama makhluk di jagat raya, apalagi di hadapan Maha Pencipta dan Pemilik Sejati segala sesuatu. —Daur 56Tak Ada Cita-Cita Yang Tercapai.

Bagi saya tidak masalah cita-cita itu tidak terwujud. Kita sebagai hamba Allah hanya sebatas menjalani kehidupan ini. Punya cita-cita juga tidak masalah seandainya ingin diwujudkan. Bagi yang tidak terwujud cita-citanya bisa mencari pekerjaan lain seperti saya setelah gagal berkali-kali mendaftar ke TNI AU. Yang penting tidak mudah putus asa, berjuang terus sampai kita tidak tahu bahwa kita terus berjuang. Pasrahkan semua kepada Allah, Dia Yang Maha Menentukan semua ini. Memintalah hanya kepada-Nya Yang Maha Mengabulkan doa kita semua.

Bahkan seandainya pun sukses yang dicapai tidak hanya berlaku pribadi, melainkan berlaku se-Negara atau se-Dunia, tetapi terbatas pada kemakmuran, sandang pangan beres, transportasi lancar, papannya gedung-gedung pencakar langit, sampai pun bisa berkomunikasi dengan teman di kutub utara memakai jari-jari sambil buang air besar, ditambah merebaknya balon-balon maya di atas kepulauan Nusantara — itu bukan pencapaian cita-cita. Itu teknologi dan peradaban yang tidak berlaku lagi begitu jantung manusia berhenti berdetak.

Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut, yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.

Dan peradaban ummat manusia, meskipun mereka berbekal Kitab-kitab Suci maupun khazanah-khazanah post-post-post-modernisme, yang batas pengetahuannya menyimpulkan bahwa yang disebut kehidupan adalah yang di dunia, dan yang di luarnya atau sesudahnya disebut kematian – maka merekalah makhluk yang paling gagal, atau minimal yang terendah pencapaian ilmu dan lelakunya. —Daur 56Tak Ada Cita-Cita Yang Tercapai.

Zaman dahulu apa ada beribu-ribu orang-orang yang lahir sebelum kita yang mempunyai cita-cita, bahkan zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw? Saya rasa beliau juga tidak punya cita-cita. Yang dilakukan Beliau hanya dakwah menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia ini.

Karena cita-cita pribadi itu sangat mudah tercapai, apalagi bagi beliau yang segala sesuatunya dijamin oleh Tuhan. Tetapi Kanjeng Nabi tidak pernah mengakui kepentingan pribadi itu sebagai atau menjadi cita-cita. Yang rasional untuk disebut cita-cita adalah akhlak mulia ummat manusia yang menghasilkan keadilan di bidang apapun di antara mereka. Dan beliau menangis tiap malam karena tahu persis bahwa cita-cita itu tidak akan pernah tercapai selama kehidupan di dunia”. —Daur 56Tak Ada Cita-Cita Yang Tercapai.

Memang apa yang disampaikan Mbah Nun di Daur itu semua benar-benar terjadi pada diri. Setiap orang memang punya cita-cita sendiri. Kita bisa hari ini bercita-cita menjadi apa, dan di lain waktu bisa menggantinya dengan cita-cita yang lain. Kita juga bisa berencana hari ini berusaha mewujudkan cita-cita kita tetapi terwujudnya semua itu kehendak Allah Ta’ala. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Amin.

Semenjak saya belajar di SD hingga sesudah lulus SMA, rasanya kalau membicarakan tentang cita-cita itu agak mengecewakan hati saya sendiri. Saya dulu…