Berusaha Mencari Titik Seimbang Negara

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, 6 Juli 2018

Cuaca Jakarta sore (6/7) sangat cerah. Kendaraaan ramai berlalu-lalang di jalanan. Padat, ramai dan tentu saja macet, seperti Jakarta biasanya. Menuju akhir pekan, tampak ruas-ruas jalan tol dipenuhi kendaraan yang tidak hanya meninggalkan Jakarta namun juga memasuki Jakarta. Mungkin sisa-sisa arus balik Lebaran masih terasa.

Malamnya Kenduri Cinta diselenggarakan. Penggiat Kenduri Cinta sejak siang hari sudah stand by di Pelataran Taman Ismail Marzuki. Setelah Ashar, tampak kru sound system baru saja memasuki area pelataran TIM. Alat-alat sound pun ditata, kemudian di-setting tata suaranya. Level dan backdrop pun sudah tertata.

Untuk bulan Juli 2018 ini, Kenduri Cinta memang dilaksanakan lebih awal dari biasanya. Tidak dilaksanakan di Jumat pekan kedua, melainkan di Jumat pekan pertama. Ada satu dan lain hal sehingga Maiyahan rutin di Jakarta bulan ini harus dimajukan. Namun, yang terpenting bukanlah kapan diselenggarakannya Maiyahan di TIM. Karena yang lebih penting adalah bertemunya kembali kita Generasi Maiyah di Kenduri Cinta, setelah sebulan lamanya kita saling memendam rindu untuk berjumpa. Hanya perjumpaan malam itu tentu saja yang dapat mengobati kerinduan itu.

Panggung telah berdiri ba’da maghrib. Lampu juga sudah menyala. Para penggiat dibantu beberapa jamaah mulai menggelar dan membersihkan terpal karpet. Backdrop dengan tulisan yang jelas “Tak Kunjung Negara” terpasang di sisi belakang panggung. Masih belum ada jamaah yang duduk di karpet, mereka berduyun-duyun shalat Isya terlebih dahulu.

Selepas Isya, sedikit demi sedikit jamaah mulai duduk di karpet paling depan. Mereka sengaja segera menguasai posisi depan. Tentu dengan harapan agar bisa menikmati Maiyahan lebih jenak.

Pukul 20.15, para penggiat telah siap melantunkan Wirid wabal. Dipimpin oleh Sigit, bersama Hendra, Dobby, Bukhori, Adi, dan Afif. Suasana khusyuk menyelimuti Kenduri Cinta malam ini. Jamaah yang sebelumnya mondar-mandir langsung duduk memenuhi bagian depan panggung. Mereka larut dalam lafaz wabal, memejamkan mata sambil lamat-lamat bibir mengikuti bacaan wabal semampunya. Yaa dzal wabal, Yaa dzal ‘adli, Yaa dzal qisthi, Yaa syadiidal iqob.

Tepat pukul 21.00 wabal pun selesai. Sigit didampingi Luqman sebagai moderator menyambut jamaah, dan mempersilahkan Doni untuk memulai sesi prolog. Doni pun mengajak Hendra, Amien Subhan, Pramono dan Adi Pudjo naik ke panggung. Mengawali, Doni menerangkan bahwa tema “Tak Kunjung Negara” yang diambil malam ini sebenarnya tergolong tema yang berat.

Doni menjelaskan tema, memulai dari hubungan sosial antar manusia. Awal manusia diciptakan, lalu saling bertemu, berinteraksi, berkembang biak, lalu lama kelamaan bertambah besar menjadi sebuah koloni. Hal pertama yang dibutuhkan suatu koloni ialah bertahan hidup. Lalu hal kedua, adalah dibutuhkannya pemimpin, tentu pemimpin ini tidak dipilih melalui pemilu seperti sekarang.

Pemimpin dalam masa koloni tersebut adalah seseorang yang diikuti orang lain. Mengapa diikuti? Tentu karena dia lah yang paling ahli, kuat, atau paling bijak diantara yang lain. Seorang pemimpin tersebut mampu mengajak followernya berdiskusi dan menetapkan apa saja kebutuhan untuk kehidupan, keamanan dan kesejahteraannya.

Pemimpin adalah syarat penting lahirnya suatu negara. Doni melanjutkan, mengingat-ingat kata Cak Nun, bahwa jadi pemimpin Indonesia itu tidak mudah. Karena bangsa ini banyak maunya, ragamnya. Menurut Cak Nun harusnya pemimpin Indonesia juga bisa malati.

Selesai “mbeber kloso“, Doni mempersilakan Hendra memaparkan tema. Fungsi negara, syarat negara, tujuan negara itu apa? Hendra mengajak jamaah ikut berpikir. Negara itu harus ada pengakuan, yang pertama tentu dari penduduknya sendiri, yang menghuni dalam wilayah negara tersebut. Banyak pembahasan tentang negara, Hendra mengajak jamaah untuk berfikir masing-masing tentang apa itu negara. Dalam negara ada hukum, UUD, lambang negara, dll, dan itu semua hanya instrumen. Semuanya bersifat nisbi, sementara, bisa diubah-ubah sesuai keadaan.

Berlanjut ke Luqman, ia mengajak untuk sebelum berkata Tak Kunjung Negara, kita harus lebih dulu paham apa itu negara. Negara tidak bisa berdiri seenaknya, harus ada pengakuan pula dari negara lain. Lalu sebenarnya apa tema tak kunjung negara itu penting? Tema ini muncul untuk mengkaji seberapa penting kehadiran negara. Pelan-pelan akan dikupas bersama malam ini.

Amin melanjutkan, negara itu ibarat membangun rumah. Negara ini dibangun atas dasar senasib sepenanggungan. Berdirinya Indonesia ini tidak bisa direncanakan, melainkan atas kehendak Allah. Persoalannya setiap orang punya ekspektasi berbeda-beda tentang negara. Tidak ada SOP khusus bagaimana seharusnya bagaimana membangun negara ini. Tiap ganti pemimpin, ganti pula struktur dan rencana negara.

Ibarat negara adalah rumah, desain rumah terus-menerus diganti, sehingga tak kunjung jadi rumah. Tak kunjung jadi rumah, tak kunjung jadi negara. Problem sebenarnya adalah krisis kepemimpinan. Selanjutnya, Amin nemperluas cara pandang tentang negara, merujuk pada negara dalam dunia pewayangan.

Setelah itu Pramono melanjutkan, memulai menganalisis peran negara sesuai dengan 5 Sila Pancasila. Pramono mundur kebelakang, tentang bagaimana Nabi Muhammad dulu membangun sebuah Negara, di Makkah. Lebih dahulu, dulu beliau membangun infrastruktur, dan selanjutnya membangun komitmen untuk saling bersatu, membangun keamanan, dalam wilayah negara.

Doni menambahkan lagi, harusnya negara mampu menjamin keselamatan namanya, keselamatan hartanya dan keselamatan jiwanya. Asal ketiga syarat itu mampu dilaksanakan, niscaya kesejahteraan bisa dicapai.

Adi Pudjo turut menyumbang wacana, menerangkan bahwa syarat utama negara adalah kesepakatan. Entah berapa orang dulu yang sepakat mendirikan Indonesia ini, yang jelas ada rasa senasib sepenanggungan. Lalu dewasa ini, apakah Anda masih sepakat dengan negara ini? Maiyah ini senantiasa mengingatkan jamaah bahwa dulu ada kesepakatan-kesepakatan yang membangun negara.

Paparan oleh penggiat telah banyak disamapaikan. Doni membuka sesi workshop untuk sharing-sharing bersama jamaah. Memang tema kali ini cukup berat, baik bagi jamaah maupun penggiat. Hafid, jamaah dari Cikarang mengungkapkan pendapatnya. Bahwa bagaimana agar segera bernegara yang tak kunjung ini, adalah bagaimana kita menanamkan keyakinan cinta tanah air sebagian bagian dari iman. Lalu Mahati, jamaah dari Himpunan Mahasiswa Islam membuka sesi pendapatnya dengan ber-api api. Mengkritisi negara ini, yang kacau karena melupakan Sila Pertama.

Selepas tanya jawab, sesi 1 telah selesai. Sebelum berlanjut ke sesi berikutnya, seperti biasa di perlukan penyegaran dengan musik-musik nan enjoy. Otak jamaah sudah sangat berat untuk menampung pembahasan-pembahasan tentang negara ini. Sudah saatnya untuk refresh. Bobby adalah penyanyi yang paling cocok untuk menyegarkan suasana, dengan alunan musiknya yang ringan dan apik.

Cuaca Jakarta sore (6/7) sangat cerah. Kendaraaan ramai berlalu-lalang di jalanan. Padat, ramai dan tentu saja macet, seperti Jakarta biasanya. Menuju akhir pekan, tampak ruas-ruas jalan tol dipenuhi kendaraan yang tidak hanya meninggalkan Jakarta namun juga memasuki Jakarta. Mungkin sisa-sisa arus…