Berterima Kasih, Belajar Menjaga Keindahan Puing-Puing Kehidupan

Kita memang merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada para monyet, yang mau bertahan dan berkorban sebagai monyet, agar kita memperoleh jatah untuk menjadi manusia.” –Mbah Nun

Tak jarang, saat berada di perjalanan dan melihat banyak orang dengan berbagai latarnya yang berbeda-beda, saya pun merasa bersyukur dan berterima kasih kepada mereka yang telah mau dan rela menjadi beda. Untung, orang-orang itu masih mau menjadi apa yang telah digariskan Tuhan padanya. Untung masih ada yang mau menjaga jalannya lalu lintas di perempatan jalan-jalan raya.

Untung masih ada yang mau berjualan es dawet. Hingga kalau-kalau kita kehausan di bawah terik matahari, masih ada yang melayani kita dengan suguhan es dawet tersebut. Beruntung masih ada yang bersedia membuka jasa tambal ban di pinggir jalan. Hingga kalau-kalau sebagian dari kita ada yang kejatah bannya bocor di tengah perjalanan, masih ada yang membantu mengatasi kebocoran ban sepeda kita tersebut.

Saling Melayani

Coba saja kita bayangkan, bagaimana jadinya kalau kita semua menginginkan posisi yang sama. Kita sama-sama mencita-citakan menjadi pembeli, misalnya. Lalu, siapa yang akan menjadi penjual kalau semua ingin menjadi pembeli. Kalaupun nanti pada akhirnya ada satu orang dari luar wilayah kita yang menjajakan dagangannya, pasti kita pun akan berebutan untuk menjadi pembeli dagangan tersebut. Iya kalau misalkan dagangan yang dibawa orang itu bisa mencukupi kita semua. Kalau tidak? Apa malah tidak akan memicu pertengkaran di antara kita.   

Itu masih dengan sesama manusia, belum lagi makhluk-makhluk Tuhan yang lainnya. Tumbuhan, binatang, air, udara, jin, setan, malaikat, dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Baik itu makhluk sesama jenis, beda jenis, sesama dimensi, maupun makhluk-makhluk Tuhan yang berbeda dimensi dengan kita. 

Pengajian selamatan Buka Giling di Pabrik Gula Kebonagung 20 April lalu mengingatkan saya dan juga jamaah lainnya, bahwa memang kita sangat perlu berterima kasih pada makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Ada peran-peran dari banyak pihak atas segala apa yang menimpa kita. Atas segala keberhasilan peran yang kita lakukan, ada peran-peran makhluk di luar diri kita yang turut membantunya.  

Meminjam bahasa Mbah Nun, kita memang sangat perlu berterima kasih pada monyet. Karena monyet mau mengalah, ia bersedia dijadikan monyet, sehingga kita pun bisa berkesempatan menjadi manusia. Monyet di sini hanyalah sosok yang mewakili makhluk-makhluk Tuhan lain selain diri kita. Ia bisa ayam, tumbuhan, kucing ataupun yang lainnya. Ia juga bisa merupakan sesama manusia, bisa Pakdhe Joni, Mbah Man, Budhe Wati, dan yang lainnya. Yang jelas, kita sangat perlu berterima kasih kepada mereka semua.

Berkat kerelaan mereka menjalani peran yang telah diberikan, dunia masih tetap bisa berjalan, kehidupan masih tetap berjalan. Semua masih tetap bisa saling melayani sesuai masing-masing peran yang telah ditetapkan. Coba kita bayangkan, apa jadinya kalau satu saja ada yang tidak mau menjalankan perannya.

Tumbuhan misalnya, ia tak mau tumbuh dan hidup di atas bumi ini. Bagaimana jadinya kalau tak ada lagi tumbuhan yang tumbuh dan hidup? Bagaimana binatang-binatang akan makan, bagaimana cadangan-cadangan air bisa disimpan. Kehidupan pastilah akan berjalan dengan tanpa keseimbangan.

Sungguh betapa sangat beruntungnya kita telah diciptakan dengan segala beda, dengan segala peran yang saling melengkapi dan mengisi atas segala perbedaaanya. Kalau sudah begini, nikmat mana lagi yang bisa kita dustakan dari segala perbedaan ini?

Kesadaran yang Mengamankan

Kalaulah semua yang ada ini memang berasal dari Yang Tunggal dan akan kembali manunggal dengan Yang Tunggal, rasanya sangat tidak mungkin kalau semua itu tidak saling terkait, tidak ada hubungannya satu sama lain. Pasti ada benang-benang yang saling menghubungkan dengan dan antar ini semua.

Ya kayak tumbuhan tadi. Ada dan tiadanya pun akan sangat berpengaruh pada kehidupan makhluk lainnya. Pun juga dengan kita. Apa yang kita lakukan, entah itu baik ataupun buruk, pasti juga akan merembet pada yang lainnya. Baik dan buruknya tindakan kita, pasti akan berpengaruh pada pola hubungan semesta ini juga.

Kalau sudah begini, sekarang pilihan kembali kepada masing-masing kita. Kebaikan kah ataukah justru kehancuran yang kita kehendaki. Jikalau memang kehancuran yang kita inginkan, silakan saja melakukan keburukan sebanyak-banyaknya, sepuas-puasnya. Ya, paling tidak, kalau memang sebagian dari kita ada yang menghendaki kehancuran, silakan saja berhenti dan tidak mau menjadi diri sendiri. Kita tidak mau menjadi dan melakoni peran sebagaimana yang telah ditentukan Tuhan kepada diri kita ini.

Kesadaran seperti inilah sebaiknya yang kita jaga. Kesadaran bahwa alam semesta ini manunggal, semuanya saling terhubung, semua saling berhubungan satu sama lain. Hingga kita pun bisa lebih berhati-hati lagi dalam melangkah. Karena sedikit saja kita melakukan keburukan, akan ada dampaknya dalam pola hubungan semesta ini. Seperti firman Tuhan, sekecil apapun keburukan yang kita lakukan, akan tetap ada balasan atasnya. Pun demikian dengan kebaikan. Sekecil apapun, ia juga akan tetap mengundang balasan.

Mungkin ini pula yang menjadi alasan bahwa orang yang beriman adalah mereka yang selalu berusaha menjaga dan memberikan rasa aman. Karena orang beriman adalah orang yang bertauhid, bersaksi bahwa semua berasal dari Yang Tunggal dan pada akhirnya juga akan manunggal dengan Yang Tunggal. Dan atas kesaksiannya itulah, ia akan berusaha untuk selalu menjaga. Karena ia tahu, sekecil apapun keburukan yang ia lakukan, itu akan sangat berpengaruh pada keluasan semesta. Cepat ataupun lambat. Disadari ataupun tidak.

Hingga pada akhirmya, dengan kesadaran bahwa semua berasal dari Yang Tunggal dan akan manunggal dengan Yang Tunggal, tak ada salahnya juga kita belajar untuk terus berterima kasih, belajar bersyukur atas kerelaan semua perbedaan ini. Karena dengan bersyukur, ini diam-diam akan mengantarkan kita pada ketulusan memberikan pelayanan.

Dan dengan saling melayani, ini juga akan turut menjaga keindahan pola-pola hubungan segala ciptaan Tuhan. Karena bagaimanapun, sekecil apapun yang kita lakukan, pasti juga akan ada ‘jejak’ yang ditinggalkan. Jejak-jejak yang juga akan turut berperan pada keluasan semesta ciptaan Tuhan.  

Kita memang merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada para monyet, yang mau bertahan dan berkorban sebagai monyet, agar kita memperoleh jatah untuk menjadi manusia.” –Mbah Nun