Bertato dan Bertindik Ekstrem di Panggung KiaiKanjeng

Jelas bukan tato mahal yang dibuat di studio-studio tato dengan seniman profesional yang berpengalaman membuatkan tato artis-artis ibukota. Jelas bukan tindikan bermodal dengan tingkat keamanan tinggi. Dua pemuda yang kemudian berada di atas panggung Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di pelataran GOR Satria Purwokerto semalam, memiliki semua petanda pada tubuh mereka yang menginfokan bahwa mereka hidup di arena yang sangat maskulin, keras berlimpah pertarungan hidup. Hampir di setiap komunitas manusia, sadar atau tidak selalu ada standar sendiri untuk mendapatkan penerimaan sosial. Dan jelaslah, dua pemuda ini hidup bergumul di arena di mana penerimaan harus diraih dengan keras.

Tato di wajah yang konon sangat menyakitkan pada proses pembuatannya dan beresiko menyerempet syaraf-syaraf penting adalah bukti keberanian. Tato semacam ini, bila anda bukan asli suku pedalaman tertentu dan apalagi di tengah masyarakat modern, selalu memberi pesan ini: aku berani, terima aku atau tidak usah sama sekali! Ini dunia kalian, aku hanya numpang.

Tentu banyak sesepuh ataupun tokoh masyarakat yang mau menerima mereka. Banyak, kita bisa yakin dan percaya itu. Bangsa ini tidak pernah kekurangan tokoh-tokoh berjiwa besar. Hanya satu hal, sebelum diterima, orang mesti merasa nyaman dulu dengan atmosfernya. Bekal penerimaan dari individu dan tokoh memang penting tapi bukan itu saja. Persesuaian atmosfer nanti yang akan menentukan apakah anak-anak zaman ini mau melangkahkan kaki untuk diterima atau tidak. Karena pada dasarnya mereka juga akan mengesankan diri untuk tidak haus penerimaan dunia (yang dianggap) mainstream.

Maka inilah pertanyaanya, atmosfer apakah yang terbangun dan tersaji di ruang batin bernama Sinau Bareng? Apakah karena Mas Donni vokalis KiaiKanjeng juga tatoan? Mungkin ada pengaruhnya. Tapi kita mafhum kan bahwa di antara pelaku pertatoan, sering terjadi pengkastaan juga antara tato bermutu dengan yang tidak. Tato mainstream dengan anti mainstream, tato mahal dengan tato jalanan. Artinya, penanda fisik belum benar-benar menjamin. Mbah Nun tetap bisa mengajak mereka berdialog mesra, walau nampaknya Mbah Nun tidak memiliki kesamaan penanda fisik seperti mereka.

Atau karena disini “Dhewek Seduluran”, dengan keriangan bukan kabotan ilmu, bahagia-bahagia dengan keceriaan masa kecil, bermain Lepetan misalnya? Yang mengingatkan kita pada masa-masa bocah di mana segalanya sangat sederhana, murni dan apa adanya. Masa bocah, di mana manusia menerimamu apa adanya, dengan tawa dan tangis, yang khusyuk dan wajar bukan penerimaan yang diperjuangkan dengan pertarungan demi pertarungan.

Dua bocah ini toh hanyalah melekatkan penanda fisik pada tubuh mereka. Pada atmosfer yang asing di sana, mereka berhadapan dengan dunia di mana semua orang bertato jabatan, harta, kekayaan, ketenaran, serban, NU, blangkon, Muhammadiyah, peci, HTI, aktivisme, kebatinan, nasionalisme, mazhab fiqih, formalitas thariqat, dan berbagai tato serta tindikan lain yang sesungguhnya lebih berdarah-darah proses pentatoannya. Di Sinau Bareng, kita istirahat sejenak dari tato dan tindikan semacam itu, dan menikmati asyiknya jadi manusia yang wajar, yang khusyuk. (MZF)