Bertafakkur Menyambung Hati Guyub Rukun dengan Ideologi Gembira

Liputan Sinau Bareng CNKK dalam HUT ke-72 Desa Sukoharjo, 16 Desember 2018

Shalawat Badar melantun, ketika KiaiKanjeng telah berada di panggung. Mbah Nun menuju ke panggung bersama para sesepuh dan pengurus desa dalam Sinau Bareng di lapangan Klidon kali ini. Mbah Nun menyampaikan bahwa ini adalah dalam rangka milad desa Sukoharjo ke-72 dan baru dua kali dirayakan. “Alhamdulillah kita dapat kesempatan untuk bertafakkur. Yang sangat tinggi nilainya di depan Allah SWT.”

Dilanjutkan oleh Mbah Nun dengan doa, harapan dan kesiapan, “Mugo-mugo ora udan. Upomo udan berarti ada rezeki dalam bentuk yang berbeda.” Memang sejak pagi wilayah jalan Kaliurang ini dihitung eh diguyur hujan berbagai jenis. Dari deras hingga gerimis. Malam ini juga, masih ada sisa tetes-tetesan yang jatuh.

Lagu Indonesia Raya dilantunkan dengan aransemen khas KiaiKanjeng. Aransemen dan nada yang membuat nasionalisme tidak terasa sempit seperti yang banyak beredar. Lantunan nasionalisme yang penuh penerimaan. Kemudian lantunan nasionalisme itu dipermak dan diperlembut pula oleh Salawat Nariyah.

“Malam ini judulnya, temanya adalah guyub rukun. Guyub rukun disebut, berarti ada keadaan yang membuat kita khawatir ada keadaan yang membuat tidak guyub dan tidak rukun. Nek wes guyub rukun kan wis ora kelingan.” Mbah Nun mencontohkan bila ada kalimat “pemilu damai” berarti ada potensi tidak damai. Saran Mbah Nun, agar di desa banyak kegiatan yang menyambung hati orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Mbah Nun juga sebutkan bahwa orang bisa tersambung hatinya dengan kesedihan dan dengan kesenangan atau kegembiraan, maka ditawarkan pilihan pada hadirin, malam ini pengen sedih atau pengen gembira. Para hadirin menjawab satu koor “Gembiranya…”

Maka Mbah Nun menyambut, “Berarti malam ini ideologinya adalah gembira.” Tentu juga dilengkapi oleh Mbah Nun dengan menancapkan patrap kegembiraan itu. Bahwa dalam kegembiraan bisa ada kesedihan dan dalam kesedihan kita bisa temukan kegembiraan. Tapi kita mencari kegembiraan yang juga Gusti Allah Swt gembira atasnya. Jangan gembira dan senang-senang yang tidak disenangi oleh Gusti Allah.

Kegembiraan muncul sejak awal, ketika Pak Lurah menyampaikan kata-kata sambutan, “Kagem Bopo Kiai Haji Emha Ainun Najib.” Sontak para hadirin tertawa. Pak lurah menoleh, mungkin agak khawatir apakah ada salah kata dalam mengucapkan. Sebenarnya hanya karena kata Kiai Haji, di Sinau Bareng entah kenapa istilah ini menjadi sangat lucu kedengarannya. Pak Lurah bertanya, “Leres Cak Nun?” Mbah Nun menenangkan, tidak ada yang salah. Karena walaupun kata Kiai di sini kesannya jenaka, tapi secara hati kan serius sebagai cara menghormati. Pada masyarakat kita, sementara ini memang gelar Kiai Haji masih berkesan sakral dan penuh penghormatan. Di Sinau Bareng kata tersebut rasanya agak bergeser kesannya, ada lucu-lucunya. Sinau Bareng ini memang menggembirakan, menjadikan gembira dan jenaka segala kata. Memang, ideologinya gembira bukan kebenaran belaka.