Bersyukur “Petik Laut” Bersama Mbah Nun

Liputan Sinau Bareng "Petik Laut" dan Syukuran Nelayan, Malang, 26 September 2018

Yalal Wathan dibawakan oleh KiaiKanjeng dengan sepoi-sepoi tapi tetap penuh gairah. Bukan gairah perang, tapi gairah akan cinta terhadap tanah air. Tanah air tidak selalu negara, kan? Mbah Nun menjelaskan sedikit bahwa lagu ini dibuat bukan untuk golongan tertentu saja, sebagaimana tanah air tidak melulu hanya berisi satu-dua golongan. Tanah air menampung segalanya. Indonesia mesti bisa menjembar, menjadi ruang bagi semua yang ada di dalamnya seradikal dan sebandel gimanapun.

Seorang pemuda ikut bernyanyi semangat di panggung. Setelah lagu selesai dinyanyikan, Mbah Nun menggali dari pemuda tersebut. Bagaimana pemahaman dan peresapannya atas lagu itu. Mas ini mengaku baru setahun kenal lagu tersebut dan sangat menyenanginya. Lagu ini memang sedikit agak tergeser beberapa tahun dan dekade yang lalu, sempat hampir tak terdengar selain di kalangan tertentu. Tapi apakah pengaruh internet atau ada variabel lain, setahun dua tahun belakangan memang dia dipopulerkan kembali dengan lebih nyaring dan kencang.

Pak Jijit sempat mengajak untuk mengingat kembali lagu yang pernah akrab di era TVRI dulu, lagu berjudul “Nelayan”. Saat di rumah saya tanya sama istri saya apa tahu lagu itu, katanya tahu. Saya kok ndak pernah dengar. Mungkin ada masanya di pedalaman Sulawesi dulu, beberapa siaran internasional masuk tanpa terawasi sehingga saya lebih banyak dididik sama Cartoon Network daripada TVRI. Masa kecil saya lebih Flinstones daripada Si Unyil.

Kemesraan selalu punya caranya untuk tetap berada pada hati manusia. Ada penelitian yang pernah dijadikan bahan pembuatan film berjudul “Crash” (2004). Itu fenomena ketika di perkotaan Amerika ketika terjadi peningkatan jumlah kecelakaan kecil-kecilan di era 1990-an akhir sampai awal 2000-an. Kecelakaan yang tidak memakan korban luka sampai mati tapi bikin orang berantem. Rupaya ketika diteliti lebih jauh, ada fenomena di mana manusia merasa sangat kesepaian di sana sehingga mereka tanpa sadar merasa lebih baik sedikit serempetan mobil, keluar dan berantem. Daripada tidak ketemu manusia sama sekali.

Kemesraan juga hadir lewat dolanan-dolanan bocah, lagu-lagu masa kecil yang mengingatkan para hadirin akan kenangan pada masa lalu. Bagaimanapun ada suasana-suasana kebocahan, ketika kita masih polos memandang dunia. Terluka sekadar kulit, tak sampai masuk ke hati. Berantem hari ini besoknya main lagi. Mas Doni, Pak Jijit dan Mbah Geol, eh Pak Nevi mengajak hadirin bergembira dengan permainan dan lagu-lagu era bocah.

Kepolosan-kepolosan semacam ini kita tidak boleh lupa, di tengah berbagai narasi permusuhan antar golongan pada dekade belakangan. Di mana bahkan narasi cinta kasih, perdamaian, ayat suci bahkan Bhinneka Tunggal Ika sekalipun menjadi alasan untuk menghantam yang berbeda, bukan sebagai tantangan untuk merangkul yang sulit bergaul.

Perbedaan kan untuk diakui bukan untuk dienyahkan. Mbah Nun selalu berpesan agar kita mengucapkan salam sesuai kepercayaan kita masing-masing. Ini bedanya dengan wacana keberagaman yang menyeragamkan. Justru kita mesti mengaku berbeda agar kita bisa berlatih menghargai perbedaan. Kalau semua orang mengucap salam dengan meniru-niru yang bukan dirinya, kita semakin tidak siap berbeda.

Kita masih punya kemesraaan-kemesraan yang selalu bertahan di antara kita dan itu lebih banyak awet di desa-desa. Sinau Bareng adalah upaya bersama menjaga kemesraan-kemesraan yang masih tersisa di pelosok-pelosok.

Acara berakhir menjelang Maghrib. Dari penjuru arah mata angin terdengar masjid-masjid telah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur`an dan shalawat sebelum adzan. Mbah Nun mengajak hadirin untuk memungkasi perjumpaan. Demikan acara berakhir dengan semesra-mesranya, dengan musyawarah dan mufakat yang perlu jiwa seluas lautan.

Buku Cak Nun