Bershalawat adalah Jalan Menuju Keabadian

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Sundoluhur, Kayen, Pati, 3 Juli 2018

Kita teruskan menikmati laporan dari rekan kita Yunan Setiawan.

“Mbah Nun tidak sendirian di panggung. Ada Kiai Muzammil dan Habib Anis yang mendampingi. Kepada Kiai Muzzamil, Mbah Nun meminta agar anak-anak muda di depan nanti diajak sinau tentang keabadian.”

“Dari depan panggung pemandangan kerumunan orang semakin jelas. Sebuah rumah tingkat dua terlihat balkonnya penuh dengan orang. Di sisi kiri panggung, segerombolan anak muda terlihat sampai memanjat dinding pagar. Kemudian, dalam hitungan seratus meter dari panggung jamaah duduk lesehan, panggung terlihat jauh. Maka, sebagian jamaah mengikhlas diri berdiri menyimak acara melalui layar proyektor.”

Kian kemari, memang Sinau Bareng makin didominasi oleh anak-anak remaja atau anak-anak muda. Fenomena ini ternyata dan nyatanya sangat menghadirkan harapan-harapan baru. Maka Mbah Nun berpesan malam ini, “Saya minta kepada anak-anak muda untuk berani menjadi beda dengan pemimpin sekarang.”

Meski demikian, selain generasi muda, siapapun boleh hadir di Sinau Bareng. Dan kita sudah melihat banyak anak kecil turut serta orangtuanya atau bahkan sengaja dipertumbuhkan dirinya lewat diajak menghadiri Sinau Bareng ini. Demikian pun dengan mbah-mbah. Banyak di antara mereka yang hadir dan menyimak Sinau Bareng, bahkan rela dengan naik mobil terbuka atau jalan kaki. Khusus kepada anak-anak muda itu, Mbah Nun meminta mereka menyebutkan masalah-masalah hidup yang mereka alami, dari soal jodoh di dalam hati hingga lain-lainnya. Lalu, Mbah Nun membawa anak-anak muda itu membaca surat Al-Fatihah dan ayat Kursi bersama-sama. Hajatnya, semoga semua permasalahan itu dibukakan jalan kemudahan oleh Allah.

Sekarang saya mau fokus dulu kepada keabadian yang sedari awal Mbah Mun lihat muncul sebagai latar belakang rohaniah di balik anak-anak muda yang meng-create Sinau Bareng ini maupun yang hadir. Ada hal baru disampaikan Mbah Nun tentang keabadian ini. Selama ini sudah dibahas bahwa hidup kita ini abadi, karena kematian bukanlah akhir kita. Perjalanan masih panjang, dan hidup kita akan abadi karena ada kholidina fiha abadan di sebut dalam al-Qur’an. Kematian hanyalah transisi. Dalam bahasa Mbah Nun, kita tak bisa mengelak dari keabadian.

Tetapi bagaimana cara buat sampai ke keabadian itu? Malam ini Mbah Nun menjawab pertanyaan itu: bershalawatlah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Kenapa harus bershalawat? Beragam jawaban muncul dari sebaran padat anak-anak muda itu. Mbah Nun punya pendapat tersendiri ihwal sebab mengapa kita harus bershalawat: “Kanjeng Nabi punya hak bilang kepada Allah untuk memintakan ampun bagi umatnya. Karena Kanjeng Nabi adalah kekasih Allah. Dan, Allah tidak tega kalau tidak mengabulkan pemohonan kekasih-Nya.”

Kalau kita sebagai umatnya diampuni oleh Allah berkat syafaat Kanjeng Nabi, maka selanjutnya kita akan masuk surga, dan itu berarti masuk ke dalam keabadian. Clear. Juga, keterkaitan antara shalawat dan keabadian ini sekaligus menambah daftar pemahaman akan sisi-sisi shalawat yang dulu terhimpun dalam buku kecil berjudul Cinta Segitiga. Buku yang menghimpun butir-butir penghayatan atas shalawat yang disampaikan Mbah Nun pada sekitar 1999-2000. Segitiga Cinta antara Allah, Kanjeng Nabi Muhammad, dan Umat Manusia sendiri adalah salah satu asas dan ilmu dalam Maiyah memahami semesta spiritual hidup ini.

Itu dulu, besok kita simak reportase selengkapnya dari Mas Yunan Setiawan. (Helmi M)

Kita teruskan menikmati laporan dari rekan kita Yunan Setiawan. “Mbah Nun tidak sendirian di panggung. Ada Kiai Muzammil dan Habib Anis yang mendampingi. Kepada Kiai Muzzamil, Mbah Nun meminta agar anak-anak muda di depan nanti diajak sinau tentang keabadian.” “Dari depan panggung pemandangan…

Topik

Bangbang Wetan21Cammanallah14Cermin59Esai1390Gambang Syafaat22Hari Santri10Informasi22Jepretan50Juguran Syafaat21Kenduri Cinta67KiaiKanjeng12Letto3Mocopat Syafaat39Musik13Novia Kolopaking5Padhangmbulan41Puisi161Relegi6Reportase619Teater9Wedang Uwuh73