Berjalan Menuju Kiblat

Mentadabburi "Allah Pusat Simpul Maiyah"

Namun, begitu sudah mendapatkan kebijaksanaan semacam itu jangan lantas menjualnya. Keistimewaan berupa hidayah dari Gusti Allah itu jangan ditawarkan untuk diganti dengan rupiah. Misal sudah dianggap layak didengar pendapatnya, lantas jangan pasang tarif untuk sekali konsultasi. Biarkan rezeki berwujud silaturahmi, kasih sayang dengan siapa saja, dan bukan melulu tentang hadiah apalagi label harga. 

Bahkan jika posisi dunia hanya sebatas kuli tidak merasa rendah. Inilah dia si “Hafidhul Maiyah” atau si penjaga sekaligus pelestari. Begitu ketat dalam mengabdikan diri pada Gusti Allah melalui pelayanan pada sesama makhluk-Nya. Menjaga yang diberikan Allah sesuai dengan porsi. Mengalirkan manfaat agar tidak berhenti pada diri sendiri. Tentu saja tanpa mengharap imbalan apa-apa sebab dalam tiap helaan nafas selalu ada titipan bagi sesama juga. Inilah yang lebih mahal di semesta raya karena Gusti Allah percaya pada iman kita.

Rumus benahi diri sendiri baru membahas negara ada dalam “Mustaqimul Maiyah”. Mustaqimul berarti terus menerus menegakkan. Begitu rampung membatasi diri dengan berbagai potensi merusak diri maupun sekitar, kita harus berjuang membantu, merawat, dan tidak bergantung pada negara. Niat jadi abdi negara yang tadinya mungkin demi terjamin pendapatan bulanan dan dana pensiun, digeser ke arah melayani rakyat jelata tanpa bedakan strata sosial ekonomi. 

Bahkan jika karirnya sudah mendunia, segeralah menjadi “Haritsul Maiyah”. Mampu menjaga diri dengan tetap memberi ruang. Lembaga-lembaga dunia tempatnya bernaung sebagai pengabdi maupun pencari sesuai nasi juga diapresiasi, ditemani, tanpa mengharap balasan apa saja. Bergerak secara lokal, regional, nasional, maupun internasional yang penting tetap berfungsi sebagai “Murabbil Maiyah”. Mengayomi dengan menjunjung sejarah dan nasab semua orang sembari merahasiakan diri sendiri.

Menyambut Semburat Fajar

Akhirnya sampailah pada “Muwallidul maiyah”, yang melahirkan. Di ujung zaman yang penuh dengan aroma perebutan, justru menghadirkan manfaat tanpa batas dan imbalan. Jika ada ruang yang diperebutkan, seolah tidak cukup luas semesta ini, kita sediakan diri sebaga ruang. Menampung segala tanpa menuntut hak berupa sewa. Sibuk dalam tunaikan kewajiban menjamu para tamu karena Gusti Allah yang sesungguhnya hadir di tiap pengetuk pintu. Biarlah hanya Yang Mahabaik sebagai pelimpah hak-hak yang tak pernah kita risaukan, bahkan tuntut di jalan-jalan.

Begitu menjadi penanam benih, langkah selanjutnya adalah menjadi “Bannaul Maiyah”, sang pembangun. Ia menumbuhkan benih dengan kewaspadaan tinggi. Setelah bertualang dari dalam diri sampai tataran internasional, yang harus dilakukan selanjutnya adalah memeriksa kembali. Mulai dari ketepatan langkah dalam mengambil keputusan hidup. Disambung kesucian niat-tujuan dan tata kelolanya. Termasuk cara mengatur khilafah diteliti dari konstruksi berpikirnya. Kemudian kehalalan dan ke-thayyib-an integritas keluarga juga masyarakat dilihat dari mental kerja dan moral perjuangannya.

Seterusnya adalah peran “Ruwwadul Maiyah”, yang mendatangkan. Fokus bermuhasabah atau periksa diri dengan pusatkan semua pada Kehendak Gusti Allah seperti tertuang di Quran, dijelaskan Hadis. Ditelusuri pada sebutir nasi yang dimakan, tetes air yang diminum, jejak yang dilangkahkan, sampai tiap keputusan yang diambil dalam pekerjaan sehari-hari. Semua gerak hidupnya harus mendatangkan kebaikan yang bersumber dan ditujukan hanya untuk menjadi Hamba Allah.

Tidak hanya melakukan seorang diri, “Muassisul Maiyah” harus bekerjasama. Seperti saat mengelola sejenis yayasan nirlaba, semuanya seperti penegak. Mengawasi diri dari potensi rakus yang lucu dan dungu. Toh hasil menumpuk materi di dunia tidak akan diangkut ke kehidupan setelahnya. Maka berpegangan di pagar keterbatasan adalah jalan aman dari penghancuran dunia yang bersumber dari kerakusan dan keserakahan. Menyedihkan, tapi demikianlah hukum alam yang Allah gariskan.

Lama-kelamaan jadilah “Fa’ilul Maiyah”, yang melakukan atau sang penindak. Kelak, jiwa akan sampai di gerbang antara surga dan negara. Di titik itu dunia tidak mau disuguhkan ke hadapan Gusti Allah. Entah kekuasaan, kekayaan, kepandaian, dan kebanggaan lainnya hanya jadi bahan tertawaan malaikat. Maka semua kegiatan yang telah dilakukan manusia akan pamerkan diri di hadapan Gusti Allah. Dengan lisan dan tulisan terkunci, perbuatan manusia akan ungkap niat yang sebenarnya. 

Pada akhirnya sampailah pada “Jannatul Maiyah”, sang pencari kebaikan atau surga di manapun. Percuma jika sedari niat tidak ditujukan untuk Gusti Allah saja. Manusia ditelanjangi semua hijab yang dipakai seumur hidup. Gusti Allah mengetahui bersitan dalam benak, maka sia-sia manusia menjelaskan alasan. Hidupnya sudah menjadi bukti siapa yang disembah si manusia, Gusti Allah atau nafsu dalam dirinya sendiri.

Ketika manusia di dunia, siapapun ia, lakukan 15 peran tadi, niscaya ia akan dianggap lebih dari cukup untuk disebut manusia baik. Ada istilah “good Samaritan” di negeri Paman Samiri, atau “Njawani” di Tanah Jawa untuk menyebut manusia yang demikian. Begitu keras pada diri sendiri demi hadirkan manfaat bagi semesta ciptaan Illahi. Tanpa lelah dan tak berhenti untuk istirahat sampai mati. Tak heran jika Gusti Allah gambarkan hidup setelah mati bagi orang yang lulus peran-peran tadi bak plesiran. 

Berat, memang sangat berat menjadi kawanan Salmon yang melawan arus. Demi bertelur di tempat mereka dilahirkan, mengarungi samudera, menyusuri anak sungai, dan mendaki lautan bebatuan yang keras luar biasa. Itulah perjalanan panjang bagi setiap manusia yang harus ditempuh sedari ia mendapat hidayah. Perjalanan berat yang amat panjang dan melelahkan menanti di hadapan. Tapi percayalah pada janji Gusti Allah dan Kanjeng Nabi: ada ketenteraman di sepanjang jalan sampai bersua di balik cakrawala. 

Buku Cak Nun Majalah Sabana