Berjalan Menuju Kiblat

Mentadabburi "Allah Pusat Simpul Maiyah"

Pejalan Maiyah tidak mempedulikan omongan orang lain selama di perjalanan. Tahu tujuan, cari jalan, langsung jalan.

Setelah berdarah-darah tundukkan ego agar tidak senasib Azazil, pekerjaan rumah selanjutnya adalah bersikap sebagai muqawwim atau penegak. “Muqawwimul Maiyah” tidak minder. Meski dicap pecundang, bodoh, dan miskin, tetap bisa optimis. Asalkan sangkaan bahkan tudingan orang lain bukan karena malas dan kurang berjuang. Jika bayang perilaku jahiliyah di masa silam memburu di kekinian, selalu ingat kisah pembunuh 100 orang yang dimaafkan Gusti Allah. Bukan untuk menyepelekan tapi memotivasi.

Gus Aniq menafsirkannya dengan selalu menegakkan seperti dalam “ihdinash-shirotol mustaqim“. Mustaqim dalam artian tegak, bukan lurus sebab berasal dari kata “istiqomah”. Muqawwim adalah yang menegakkan, bangun pondasi dulu. Mustaqim membangun bangunan. Walau dihina tetap “tatag”. 

Ada sahabat zaman nabi hidup suka mabuk di depan nabi demi dihukum pecut Kanjeng Nabi. Padahal sudah ada dalil mabuk berhukum haram. Kalau zaman Sayyidina Abu bakar malah belum ada dalilnya. Melihat perilaku sahabat pemabuk itu tentu saja membuat Sayyidina Umar bin Khattab marah. Tapi para sahabat nabi yang lain menahan, mengatakan bahwa si pemabuk bisa berfungsi menghibur juga dengan wujud cinta yang “nyleneh” itu.

Waspada Sepanjang Perjalanan

Rahmat Gusti Allah begitu luas bahkan jika “molimo” sudah jadi hobi. Selama dalam hati sudah tergerak niat untuk berhijrah, dibuktikan dengan perbuatan, hitungan dimulai lagi dari nol. Jadikan Gusti Allah sebagai yang paling ditakuti marahnya. Latihan tanpa henti sampai mati dalam tujuan ber-Ahsanu Taqwim di jalan “Salikul” akan menuntun menjadi seorang “muqawwimul”. Dalam situasi-kondisi “nggegirisi” atau “ngeri-ngeri tapi sedap” inilah kewaspadaan akan peluang tersesat perlahan terasah.

Kewaspadaan yang tanpa henti sampai mati itulah karakter “Anshorul Maiyah”. Dari kata “anshor”, penolong di era hijrah ke Madinah. Misal saat akan melamar atau dilamar pekerjaan. Dipastikan dengan matang melalui bekal pengalaman maupun pengetahuan sebisanya agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran setan. Misalkan sudah jelas jika mendapat gaji darinya harus rela serah-terima suap, jual-beli riba, sampai mendzalimi makhluk Gusti Allah, tapi malah tutup mata dan nurani. Tandanya ia sudah dibutakan oleh dunia. Maka seorang penolong harus menolong diri dan sekitarnya dari jebakan semacam itu.

Konsep untung adalah menerima sebanyak-banyaknya sesuai prinsip ekonomi ala Revolusi Industri lumrah dijadikan pegangan. Padahal ada konsep yang mengajarkan memberi adalah jalan menerima berkali lipat. Itupun bukan ditujukan menguasai materi dunia tapi semata tunaikan kewajiban berbagi rezeki dari-Nya. Sadar bahwa menumpuk bahkan mengharap dunia merupakan bentuk kehati-hatian agar tidak terjerat berbagai macam utang, entah spiritual atau material.

Setelah isi dompet sebisa mungkin berbuah berkah, yang harus dilakukan adalah menjadi “Muhajirul Maiyah”. Artinya muhajirul adalah yang berhijrah, “transformer”, pengubah. Lihat sampah langsung pungut. Jika di “salikul” cuma lewat, sebagai pengubah punya kewajiban melakukan sesuatu. Untuk melakukan itu tentu didahului dengan tidak berprasangka baik atau buruk secara membabi buta. Antisipasi dari mengejar imajinasi keuntungan yang bisa jadi justru ada di atas jurang kerugian. Anti-virus bagi niat memburu untung di setiap gerak, yang mungkin saja justru jaring laba-laba dengan segala perangkap fatamorgana. 

Mujahidul maiyah artinya orang yang berjuang atau mujahadah. Dalam Jawa jadi konsep tirakat. Mulai dari wirid sampai laku fisik. Dibuka hatinya pada banyak hal yang tak dikira. Dibuka rahasia atau ‘ealah!‘ Bertemu sesuatu tanpa disengaja. Inilah titik di mana semua penderitaan membatasi diri dari berlebihan dalam hal dunia akan jadi pembuka berbagai rahasia. Logika akhirat akan mampu jelaskan berbagai peristiwa di bumi yang seolah tidak ada solusinya. 

Buah dari seorang yang berjuang adalah memahami setiap hal yang terjadi memiliki tujuan. Termasuk tidak sedikit yang spesial hanya untuk seseorang. Ada satu teori yang menyebut bahwa hewan dihadirkan di Bumi untuk ajari manusia yang menjumpainya. Sebagai pengingat bahwa manusia bisa terjerambab dalam sifat hewani seperti monyet yang rakut, pelit, dan lain sebagainya. Meski tetap saja tak ada satu binatangpun yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti manusia. Maka sangat penting seorang pejuang untuk melatih diri agar terhindar dari bakhil atau pelit dan sukhkh atau kikir.

Buku Cak Nun Majalah Sabana