Berdiri di Pojokan

Mukadimah Suluk Surakartan Juli 2018

Di tengah situasi yang sedang kacau seperti sekarang, seringkah kita mengalami kegalauan? Pikiran kita menjadi buneg dan diliputi ketidakseimbangan. Perasaan kita teraduk-aduk dalam dinamika emosi yang aneh dan tidak terkendali dengan baik. Kita pun dibuat bingung dengan segala kesimpang siuran, mulai dari kesimpangsiuran informasi, bahkan kesimpangsiuran iman.

Di tengah situasi seperti itu, perlu kiranya mulai mengambil langkah taktis untuk keselamatan hidup kita dan generasi masa depan. Realita yang ada di sekitar kita tidak lepas dari kehendak-Nya, terlepas itu kita pahami sebagai sesuatu yang baik maupun buruk. Fungsinya adalah untuk menguji kita seberapa mampu untuk survive sehingga tidak hancur lebur dalam realita yang rusak.

Anggap saja realita itu berada dalam sebuah kotak besar. Maka kita perlu menyingkir ke pojokan-pojokannya sementara. Untuk apa? Untuk melihat dengan jernih apa yang sesungguhnya kita hadapi. Kita bisa melihat apa yang di tengah-tengah dan apa yang ada di tepiannya. Jika kita berada dalam realita terus menerus tanpa adanya usaha “menyingkir” sementara untuk melihat dengan kemurnian, kita hanya akan mbulet dalam berbagai kerumitan.

Serumit apa pun realita itu, ia tetaplah bagian dari kelengkapan hidup kita. Ia akan bersama dengan kita dan kita tidak punya pilihan kecuali harus survive. Bahwa mungkin kita juga suatu saat bisa mengusahakan perubahan atas keadaan yang rusak parah ini, tapi yang paling utama adalah kita tetap bertahan agar tidak hancur. Karena jika kita ikut hancur, bagaimana peradaban baru yang kita impikan itu akan terbentuk.

Maka dari itu, benih-benih nilai Maiyah yang sudah disebar di tengah-tengah kita ini, sebenarnya bukanlah sedangkal ideologi yang selama ini kita kenal. Nilai-nilai yang kita peroleh dari Maiyah sebenarnya adalah percikan cinta Tuhan agar kita pegangi dalam rangka bertahan di tengah proses peradaban yang sedang menuju kehancuran ini. Agar apa? Agar kita tidak ikut hancur.

Ketika kita tetap sanggup bertahan dengan nilai-nilai ini, insya Allah kita akan bisa melahirkan generasi di masa depan yang dijanjikan. Yaitu generasi yang senantiasa mencintai Tuhannya, dan Tuhan pun mencintai mereka.

Di tengah situasi yang sedang kacau seperti sekarang, seringkah kita mengalami kegalauan? Pikiran kita menjadi buneg dan diliputi ketidakseimbangan. Perasaan kita teraduk-aduk dalam dinamika emosi yang aneh dan tidak terkendali dengan baik. Kita pun dibuat bingung dengan segala kesimpang siuran…