Bercinta di Kampus, Sementara NKRI Defisit Cinta dan Surplus Kecemasan

Sinau Bareng CNKK “Risalah Cinta untuk Pemuda”, PKKH UGM, 5 November 2018

Tanpa cinta, hukum hanyalah seperti yang disebut Nietzsche “dendam yang dilegalkan”. Kita tidak bisa melanjutkan peradaban dendam-mendendam kembali. Kita tidak bisa melanjutkan koalisi tahsabuhum jami’an wa quluubuhum syatta, tak bisa lagi persatuan didasari atas dasar kesamaan musuh dengan pengerahan massa domba bernafsu serigala. Maka di Sinau Bareng kita tidak menjadi massa, tidak menjadi kumpulan yang mudah dicucuk hidungnya dan diarahkan ke sana kemari oleh para elite ningrat aktivis, agamawan maupun politisi.

Ukuran pemimpin dalam Islam adalah orang yang tidak menawarkan dirinya menjadi pemimpin. Di NKRI memang jarang ada yang menawarkan diri jadi pemimpin, paling sekadar menawarkan diri jadi presiden. Itu juga sudah bikin ribut. Susah meyakini hal semacam itu kalau kita terlanjur berpikir dengan tata cara dan mekanisme NKRI sekarang ini. NKRI yang sedang defisit cinta itulah.

Mbah Nun mencontohkan, seorang ibu akan sangat sedih hatinya bila anaknya sakit “karena ada kehadiran cinta”. Tapi, kita diajak bersimulasi apakah kalau nanti Jokowi jadi presiden lantas Prabowo senang atau sedih. “Sediiiih…” Koor para hadirin. Begitupun sebaliknya. Dan begitupun bisa kita perlebar, apakah golongan-golongan yang sedang bertengkar ini masih ada kekhawatiran dalam hatinya mengenai kondisi lawannya? Apakah ada cinta? Masih hadirkah cinta? Apakah mereka dep-depan itu karena ingin memperingatkan kekeliruan pikir kubu seberangnya, atau karena tidak rela saja kemapanannya tergugat?

Dan tiga kelompok terbentuk malam itu, workshop penuh cinta terjalin terpaut mesra dan tawa. Kognitif ditantang oleh pertanyaan-pertanyaan; Di manakah hulunya cinta? Siapa atau apa yang tidak terkait dengan cinta? Di manakah cinta dalam peta nilai yang dikenal manusia? Dan ada apa saja di antara cinta dan hukum?

Tiga kelompok aktif mengelaborasi. Nah itu Mbak Saidah tadi itu adalah salah satu yang terlibat. Saya tidak menuliskan lebih detail soal ini, karena memang padat bahasannya, mungkin butuh beberapa halaman tambahan lagi. Sebenarnya saya mulai berimajinasi bahwa Mbak Saidah ini bisa juga menuliskan pengalaman-pengalaman terlibat dalam workshop di Sinau Bareng.

Malam ini adalah percintaan yang mesra di kampus biru. Syahdu dan gempita oleh tawa. Kegembiraan di mana-mana terasa. Permainan jamuran yang disajikan Mas Doni, Pak Jijit dan personel KiaiKanjeng menjadi perekat kerinduan. Peradaban kita sedang defisit cinta. Lautan amarah mensamudera saling membinasakan di sana. Golongan-golongan saling memusnahkan dengan niat yang diyakin-yakinkan legitimasi kesucian dan ketulusannya. Tapi bukan kebencian belaka yang membuat orang saling menghancurkan tapi juga (ingat!) kecemasan.

Tawa-tawa di Sinau Bareng adalah hembusan yang menghalau ujaran dan narasi kecemasan yang terus diedarkan tanpa sadar efeknya. Semua golongan sedang menebar kecemasan. Kecemasan akan di-Suriah-kan, kecemasan agamanya dinistakan, kecemasan keutuhan negara terancam. Paling konyol mungkin, cemas diadu domba tapi malah bersikap menyerbu golongan domba sebelahnya. Kita berkumpul di Sinau Bareng, kita tetap waspada tapi kita tidak cemas. Karena kita punya Allah Sang Maha Cinta. Masih terngiang lirik lagunya Under Preasure: “Why can’t we give love one more change?”

Dibandingkan kebencian, kecemasan jauh lebih efektif untuk membuat orang saling memusnahkan. Jangan cemas, nanti jadi berantem. Jadilah kekasih Sang Maha Kekasih yang tak ada kekhawatiran dan kecemasan dalam hati mereka, masa wali Allah cemasnya sama Wahabi? Ndak kelas dong mestinya. Merdekalah, bercintalah, Seperti dalam Sinau Bareng ini.

Buku dan Merchandise