Berandalan Ber-Maiyah

#65TahunCakNun

“Selamat ulang tahun, Mbaaaah!” Pekik beberapa kawan berbadan sangar kemarin sore saat buka bersama. Pria-pria bertato sekujur tubuh itu terharu gurunya bertambah usia. Setelah Mbah Nun injak 63 tahun, raut muka khawatir sering nampak pada sebagian abdi negara itu. Walau enggan baca tulisan gurunya karena sering berujung mumet, mereka pilih simak Youtube, potongan berkonteks di Instagram, dan hadir langsung di maiyahan.

Mohon bersabar, anggaplah ujian jika bertemu sosok bergaya berandal di simpul. Bisa jadi mereka merasa ‘ditanting‘ Mbah Nun dari jurang maksiat. Bersyukur ternyata walau masih butuh alkohol, wanita, dan tato di tiap jengkal raga, masih boleh shalat. Hal yang dituding tidak bakal diterima Gusti Allah menurut para dai jika masih setia bermaksiat. Hanya Mbah Nun yang bolehkan, hingga akhirnya di bulan puasa ini mereka berani untuk total tahan kebiasaan.

Maiyah bagi mereka seperti udara segar di hutan perawan. Tiap lepas dari tugas, sumpek dengan aktivitas yang menurut orang dianggap dosa, mereka ‘ndingkluk‘ bermaiyah. Kadang sembari menggenggam botol beraroma tajam ditemani kepulan asap. Ekpresi tawa sampai terisak datang silih berganti tergantung konten video Mbah Nun yang ditonton. Sebagai balas budi, ketika Sinau Bareng di ruang terbuka, mereka akan sangat awas mengamati situasi-kondisi di sekitar mursyidnya.

Untunglah atasan para sedulur ini juga kenal Mbah Nun sedari aktif melakukan ‘pengawasan melekat’ era Orde Baru. Seolah regenerasi mata-telinga, pedang bermata dua. Timba ilmu sekaligus berkabar. Tanpa merasa tersinggung, mereka malah tergelak hebat saat Mbah Nun membahas kelompok mereka. Apapun ikhlas dilakukan asal pengenal segitiga cinta Allah-Rasulullah-Hamba itu nyaman dan aman berkeliling Indonesia.

Apakah hanya di Maiyah mereka betah berlama-lama duduk, bahkan berdiri? Kukatakan, ya! Mereka bercerita telah survei ke banyak pengajian. Hasilnya sering muncul ketidaknyamanan di tengah kumpulan manusia berbaju koko dan jilbab lebar. Bahkan sering ditolak barisan pengamanan karena dianggap perusuh. Bukannya marah, mereka cengengesan sambil lalu. Sadar bahwa kepekatan dosa seolah menorehkan tanda di jidat mereka.

Gentho alias berandalan ini sangat berterima kasih pada Mbah Nun telah tunjukkan jalan kembali jadi manusia. Kerasnya hati bisa melembut seiring menertawakan kebodohan diri dan sesali belum keluar dari kubangan ‘molimo’. Bergaya hidup maiyah dan tinggal dalam atmosfer maiyah ajari mereka untuk tobat perlahan. ‘Nyicil hijrah’, istilah mereka.

“Selamat ulang tahun, Mbaaaah!” Pekik beberapa kawan berbadan sangar kemarin sore saat buka bersama. Pria-pria bertato sekujur tubuh itu terharu gurunya bertambah usia. Setelah Mbah Nun injak 63 tahun, raut muka khawatir sering nampak pada sebagian abdi negara itu. Walau enggan baca tulisan gurunya…