Ber-Bhineka Tunggal Ika dengan Efisien

Catatan Sinau Bareng HUT ke-187 Banjarnegara, 25 Agustus 2018

Lembayung senja menggelayut ayu di atas alun-alun Banjarnegara se-ayu dawet ayu khas Banjarnegara. Penjaja dawet ayu yang berjajar rapi di tepian alun-alun menambah syahdunya jingga suasana senja menjelang akan digelarnya Sinau Bareng di penghujung pekan kemarin.

Saya menikmati suasana indah itu dengan memilih duduk di pojokan. Memerhatikan dari kejauah KiaiKanjeng yang sedang mengecek sound. Tampak anak-anak dan orang dewasa berdiri mengerumuni panggung, sepertinya tak ingin melewatkan walau sekadar rangkaian musik soundcheck, suguhan KiaiKanjeng kala itu.

Satu dua orang berpeci Merah Putih ciri khas Jamaah Maiyah nampak berseliweran. Sedari awal sekali mereka datang, padahal Sinau Bareng masih akan dimulai beberapa jam yang akan datang. Namun begitulah, demi menebus rindu berjumpa dengan Mbah Nun, banyak diantara jamaah yang memilih mengatur waktu dan pekerjaan mereka sedemikian rupa, demi bisa hadir lebih awal sehingga dapat melibatkan diri dalam Sinau Bareng dengan tumakninah.

Sinau Bareng yang digelar malam hari itu merupakan rangkaian kegiatan yang tidak terpisah dari perayaan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara yang ke-187. Bulan Agustus yang bulan festival ini begitu meriah karena selain masyarakat Banjarnegara memeringati Hari Kemerdekaan RI Ke-73 juga merayakan hari jadi daerahnya.

Bulan Agustus bagi Bangsa Indonesia adalah bulan festival. Berbagai jenis acara dari karnaval hingga lomba-lomba di bulan ini dilakukan di mana-mana, dari tingkat nasional, propinsi, kabupaten, kecamatan, desa, hingga  RW & RT.

Warga masyarakat menghias tempat tinggalnya masing-masing. Pemandangan penuh kemeriahan pun dapat kita saksikan di mana-mana. Meski tak bisa dipungkiri di beberapa titik pelaksanaan kegiatan masih tidak terhindarkan akan timbulnya efek kemacetan. Hal itu terjadi apabila pengelolaan lalu lintas oleh panitia kegiatan tidak direncanakan dengan maksimal.

Namun, malam hari itu ketika Sinau Bareng digelar di Alun-Alun Banjarnegara ketika saya menyempatkan berkeliling-keliling sekitar lokasi, saya tidak melihat adanya kemacetan yang berarti timbul. Padahal, Alun-Alun yang menjadi lokasi kegiatan ini berada di jalan utama yang menghubungkan kota Purwokerto dan Semarang yang nyaris tidak pernah sepi. Ini tentu berkat pengelolaan lalu lintas yang disiapkan dengan baik oleh aparat, serta tentu saja berkat tertibnya masyarakat yang hadir malam hari itu.

Alun-Alun Banjarnegara dicirii oleh banyaknya bakul Dawet Ayu. Ikon kuliner khas kota ini yang sudah terkenal sedari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Suasana merakyat masih bisa saya rasakan di tempat ini. Di saat ada banyak alun-alun kota dimetropolitanisasi sedemikian rupa dengan melarang masyarakat berjualan, di sini tidak demikian. Masih leluasa para pedagang kecil menjajakan dagangan dan memarkir gerobaknya.

Meski penjual tumpah ruah, tetapi bukan berarti Alun-Alun menjadikan semrawut adanya, di antara mereka sudah ada kesepakatan mengenai tata tertib termasuk pengaturan lokasi berjualan, sehingga Alun-Alun pun tetap nyaman dimanfaatkan untuk menggelar kegiatan. Termasuk untuk digelarnya kegiatan Sinau Bareng malam hari itu.

Ba’da Isya, jamaah sudah mulai berkerumun. ‘Halo-halo’ dari halaman Pendopo Kabupaten mengumumkan bahwa di halaman pendopo sudah disediakan santapan gratis hingga lima ribu porsi bagi jamaah. Jamaah yang baru datang kemudian menuju lokasi santapan gratis, jamaah yang sudah duduk sebagian beranjak dan sebagian lainnya tetap tidak bergeming. Usai bersantap, mereka kemudian kembali ke seputaran panggung.

Sinau Bareng pun dimulai dengan beberapa nomor awal yang dibawakan oleh KiaiKanjeng. Mbah Nun kemudian bergabung dan memberikan mukadimah, lalu bersama-sama jamaah diajak menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya dan lagu Syukur.

Buku dan Merchandise