Benin-Benih Peradaban Akhlaq Al-Ngoko Karimah

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Trimulyo, Bantul, 3 Oktober 2018

Rindu belum benar-benar lunas terbayar, kalau melihat ekspresi para warga ketika sekitar pukul 23.30 WIB nomor Duh Gusti melantun syahdu, menandai Sinau Bareng di Lapangan Trimulyo, Bantul, 3 Oktober 2018 M, malam itu dicukupkan. Memang malam ini, acara dicukupkan lebih awal dari lumrahnya Sinau Bareng atau Maiyahan. Ada kesan bahwa Maiyahan itu selalu berlangsung hingga lewat larut malam. Sebenarnya tidak ada ketentuan seperti itu juga.

Yang perlu kita pahami bersama, tergelarnya kegiatan hingga berjam-jam di mana-mana, sesungguhnya adalah bentuk shodaqoh dari Mbah Nun dan KiaiKanjeng pada manusia-manusia di sekeliling. Dan yang hadir pun sebenarnya sedang bershodaqoh waktu, tenaga dan pikirannya untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat serta berbagai hal lainnya. Namanya shodaqoh tak ada kewajiban di dalamnya, semua atas dasar i’tiqad nandur kebaikan, halal bi halal, ridlo bi ridlo.

Dicukupkannya Sinau Bareng pada jam segitu kali ini, karena ada ketentuan keamanan. Saya juga kurang paham apakah itu berlaku nasional ataukah hanya lokal daerah Bantul ini. Konon karena menjelang tahun politik 2019. Wah, apakah itu berarti Maiyah tunduk pada kekuasaan negara? Tergantung sudut pandang, tapi saya memahaminya ini bukan ketertundukkan. Ini adalah bentuk shodaqoh yang lain lagi.

Bisa saja kita bersikap rebel dan mempersetankan segala peraturan, kayak anarcho-anarcho belia tapi kita belajar lebih matang. Sekadar berontak sih gampang, setiap darah muda ingin berontak. Tapi berontak yang berotak dan tetap berakhlaq, nah itu baru menantang. Hanya bolehlah kita beri satu titik perhatian, rupanya sesuatu yang disebut pesta demokrasi itu berjalan dengan kurang menggembirakan manusia, sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan pada taraf yang cukup ekstrem. Tapi sudahlah.

Pada menjelang penghujung malam itu, Sinau Bareng tentu dibuka juga sesi tanya-jawab. Mbah Nun memang menegaskan untuk fokus pada bahasan soal adab, etika, dan akhlaq. Namun pertanyaan-pertanyaan yang muncul beragam pula jadinya.

“Saya mau nanya, tapi sebelumnya boleh minta rokoknya Cak?” rokok disambar, disulut, dihisap dalam baru kemudian, “Jadi begini Cak…” Pertanyaannya soal etika.

Saya coba garis bawahi satu pertanyaan yang agak akhir, seorang mahasiswa yang merasa persatuan di dalam kampusnya terusik dengan berbagai kepentingan organisasi-organisasi yang berbeda ragam warnanya. Kenapa saya garis bawahi ini? Mungkin karena saya pernah jadi mahasiswa. Dan jadinya miris juga, persoalan yang sama dulu pernah saya saksikan bertahun-tahun lalu di kampus rupanya masih saja ada. Hanya saya tidak begitu punya rasa romantis untuk mahasiswa bersatu sih, hanya gelagat bahwa organisasi mahasiswa sejak 80-an memang sudah mandek.

Sejak dulu di kampus saya merasakan juga, atmosfer keorganisasian yang memang jauh dari kata sehat. Saya rasa Mas yang bertanya soal ini bisa belajar justru bukan saja dari jawaban-jawaban yang Mbah Nun berikan, juga soal cerita-cerita pengalaman Mbah Nun saat dipaksa jadi ketuas OSIS dengan sekretarisnya Pak Busyro Muqoddas. Tapi Mas penanya ini punya kesempatan, melihat bahwa ada hal yang berlangsung di mana orang merasa bersedia datang karena sesuatu itu terasa relevan bagi hidupnya. Ya, Mas penanya itu bisa menyaksikannya dari Sinau Bareng, malam ini pun juga.

Coba lihat seorang ibu bertanya soal hubungan rumah tangga, konsep pengabdian pada pasangan dan pada orang tua. Juga coba saksikan, seorang tiba-tiba cuma mau ngomong di panggung bahwa bapaknya sedang stroke. Sinau Bareng, bukan pengajian-pengajian dengan jumlah massa fans kiai bejibun. Sinau Bareng bagi saya adalah contoh konkret di mana manusia merasa tersentuh secara pribadi. Tersentuh.

Tersentuh ini juga kadang tertampar dan terhantam kalau menemukan kesilapan dan kekurangjangkepan pikir, namanya juga belajar. Dari situ juga kita bisa pahami apakah pemuda yang menyambar rokok Mbah Nun tadi kurang ajar atau memang terlalu merasa akrab dan dekat.

Buku Cak Nun