Benih Hoaks Dimiliki oleh Setiap Manusia

Liputan Sinau Bareng CNKK dan Polres Kediri Kota, 20 Agustus 2018

Lapangan Brimob Kediri, malam ini, 20 Agustus 2018, dipadati massa. Mereka tidak hendak melakukan unjuk rasa atau demo.

Sinau Bareng Cak Nun akan digelar. Acara bertajuk “Membangun Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat terhadap Kamtibmas Guna Mencegah Hoax, Ujaran Kebencian, dan Intoleransi di Wilayah Hukum Polres Kediri Kota”–telah dipadati jamaah Maiyah dan warga Kediri bahkan sejak sebelum pukul 19.00 WIB.

Antusiasme masyarakat menghadiri Sinau Bareng serasa tidak pernah pupus. Dua hari sebelumnya, acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng juga digelar di SMK Al Huda Kediri.

Ingin selalu bertemu, bersilaturahmi, bercengkerama dalam lingkaran majelis ilmu menjadi kebutuhan bersama. Yang menggerakkan semua ini adalah mereka dipanggil oleh Cinta-Nya dan mereka memenuhi panggilan itu.

KiaiKanjeng yang setia menemani. Mbah Nun yang nyegoro. Jamaah Maiyah yang nyedulur. Fakta tersebut merupakan antitesis dari mewabahnya hoaks, ujaran kebencian dan intoleransi.

Kita memang layak prihatin, mengingat hoaks bukan sekadar hoaks, ujaran kebencian bukan sekadar ujaran kebencian, dan intoleransi bukan sekadar intoleransi. Polarisasi, dikotomisasi, kutub kiri dan kanan berlangsung sebagai kewajaran yang memecah. Mengkristal dan membatu.

Bagaimana Generasi Z menyikapi semua itu? Malam ini kita Sinau Bareng, dengan meneguhkan ke-NKRI-an kita terlebih dahulu.

“Persatuan antar elemen: pemerintah, polisi, rakyat lebih utama dan harus diutamakan,” ujar Mbah Nun seraya menyapa jamaah.

Mudarat yang dihasilkan oleh hoaks, ujaran kebencian dan intoleransi–sekencang apapun lajunya–jangan sampai memecah persatuan.

Merawat Indonesia adalah kerja jangka panjang. Dan Sinau Bareng malam ini menemukan akurasi audiens-nya karena sebagian besar yang hadir adalah Generasi Z. Siapa mereka? Generasi yang lahir di pertengahan tahun 1990-an.

Menyikapi berita hoaks Mbah Nun menyampaikan lompatan yang mengejutkan. “Al Qur’an selama berabad-abad dianggap hoaks oleh dunia Barat. Muhammadanism adalah produk dari pemikiran bahwa Islam adalah ajaran Muhammad. Bukankah pemikiran itu juga hoaks?” tanya Mbah Nun.

Hadir pula malam ini Mas Sabrang yang akan memberikan perspektif hulu-hilir hoaks.

“Pada dasarnya benih-benih hoaks dimiliki oleh setiap orang,” kata Mas Sabrang. Efeknya juga berlapis-lapis dan beragam–mulai dari efek pribadi, masyarakat hingga wilayah yang lebih luas.

Pertanyaannya, bagaimana kita mengantisipasi semua itu? Salah satu acuan literasinya adalah meneladani sifat dan sikap Nabi Muhammad. Al Amin, yang bisa dipercaya, merupakan jaminan mutu bahwa apa yang dikabarkan Nabi Muhammad tidak mengandung hoaks.

Ternyata hoaks memiliki fakta yang berlapis-lapis. Apa saja itu? Ikuti terus laporannya dari lapangan Brimob Kediri. (Ahmad Saifullah Syahid)

Buku dan Merchandise