Bebrayan, Komunalitas Bukan Sekadar Militan

Reportase Sinau Bareng di Desa Sidoluhur, Godean, 19 Oktober 2018

Sudah agak tengah malam di lapangan Sidoluhur, Desa Sidoluhur, Godean. Pak Jijid dan Mas Doni tengah menemani warga yang menghadiri Sinau Bareng dalam rangka merti desa, bermain bersama dengan tembang-tembang dolanan. “Bebrayan Anggayuh Kaluhuran” tema yang dipilih oleh teman-teman pemuda Karang Taruna desa ini untuk dielaborasi bersama, dipelajari dan disinauni bebarengan. Koor kodok ngorek sedang menggaung ketika tetes-tetes air mulai berjatuhan, dan tercurahlah berkah deras, hujan turun pada malam itu.

Peci yang baru saya beli jadi sempat basah, beberapa orang berlarian mencari tempat berteduh, yang lain hanya berdiri memayungi diri sendiri dengan apa yang ada. Alas duduk, jaket atau apapun jadi peneduh yang mesra karena tidak selalu berhasil menghalau curahan air yang semakin deras. Namun mereka bertahan, merapat makin dekat ke arah panggung.

Militan? Saya rasa yang saya saksikan lebih dari militansi, ini adalah komunalitas. Kita perlu bisa membedakan militansi dengan komunalitas, belakangan ini kita kehilangan komunalitas namun militansi justru terpupuk makin keras. Saya melihat komunalitas pada adegan-adegan yang disorot oleh hujan malam itu, ketika beberapa pemuda menyingkir dari tenda tempat mereka berteduh agar serombongan ibu dan anak perempuannya bisa berteduh. Atau beberapa orang yang nampaknya tidak saling kenal menawarkan untuk berteduh, untuk ikut ngiyup di bawah alas duduk. Itu alas duduk yang biasanya dijual murah tiap ada acara-acara pengajian, di Sinau Bareng juga penjual kertas alas duduk seperti ini banyak tapi keberadaannya saya tandai agak terlambat dibandingkan majelis-majelis pengajian lain.

Kalau pada majelis pengajian dan majelis sholawatan, saya sudah menemukan penjual seperti ini sejak lama sekali ketika awal-awal saya di Yogya. Tapi di majelis-majelis Maiyah, baru sekitar 3-4 tahun belakangan ini sepertinya saya dapati dan mulai ramai juga. Secara tidak langsung, seperti ada keyakinan bahwa orang-orang Maiyah ini lebih betah duduk beralaskan tanah, mungkin lho ini mungkin. Ini hujan masih turun. Beberapa orang menawarkan saya juga, tapi saya minta maaf sekali saya ndak ikut ngiyup dulu. Bagi saya, saat-saat seperti inilah saya mesti keliling-keliling melihat reaksi-reaksi orang dan itu sangat menarik untuk diamati dan dituliskan.

Mbah Nun tentu juga punya penyikapan, Beliau sejak awal ketika hujan belum begitu deras mempersilakan agar panggung ditempati untuk berteduh dengan mengutamakan ibu-ibu yang tentu artinya perempuan, dan anak kecil.

Volume hadirin di lapangan tampak menyusut, saya sempat berpikir bahwa pasti langsung pada pulang. Tapi ketika saya jalan-jalan keliling, saya baru tahu bahwa di teras-teras rumah, di warung-warung, banyak orang berkumpul. Mungkin memang ada yang pulang, tapi ternyata lebih banyak yang bertahan. Ada juga bangunan-bangunan yang masih setengah jadi di sekeliling lapangan, agak jauh jaraknya tapi masih cukup untuk menikmati berlangsungnya sajian kemesraan. Saya melihat komunalitas, bukan militansi dangkal seperti militan-militan golongan yang banyak timbul belakangan ini.

Apa bedanya komunalitas dan militansi? Kalau komunalitas, kita bisa tengok ke desa-desa, terlepas dari beberapa hal dalam sejarah atau murni tidaknya satu desa, tapi serpihan sisa-sisa komunalitas itu masih ada. Saya belum punya banyak referensi teorinya tapi cukup mengaca pada desa tempat saya tinggal sekarang, saya bisa merasakan.

Komunalitas dan militansi ini dalam psikologi masuk dalam bahasan “in-group” kemelekatan pada grup. Komunalitas bisa melahirkan militansi, tapi militansi tidak bisa melahirkan komunalitas. Militansi bergantung pada keseragaman atribut dan kesamaan simbol. Militansi paling dangkal dan paling primitif dibangun di atas kesamaan musuh (common enemy) dan tampaknya banyak dari kita belum bisa keluar dari persatuan atas dasar kesamaan musuh ini.

Militansi golongan cukup mudah dibangun pada orang-orang dengan tingkat kecerdasan yang rata-rata dan di bawahnya, karena dengan begitu kemampuan untuk menganalisis menjadi kurang sehingga cukup diberikan jargon, slogan dan simbol orang-orang bisa berkumpul dalam satu wadah. Tapi komunalitas tidak sesederhana itu, dia terbangun jauh melebihi simbol, jargon dan slogan justru dia yang nantinya melahirkan itu baik secara sengaja maupun tidak, seringnya sih lahir dengan sendirinya. Komunalitas membutuhkan pengalaman bersama, manusia desa terbangun komunalnya karena mereka cenderung mengalami pengalaman sebagai satu kesatuan bersama-sama seiring waktu berjalan.

Tidak jarang, untuk membangun militansi justru dibuat-buatkan pengalaman bersama yang artifisial. Seorang behaviouris dan ahli komunikasi, Dr Robbert Cialdini pernah menelaah bahwa pelatihan-pelatihan yang memberi kesakitan, kelelahan, dan ketidaknyamanan pada tubuh akan melahirkan kemelekatan terhadap kelompok, atau in-group. Mekanisme kognitif yang berlaku adalah seperti ini, ketika tubuh Anda menderita maka reaksi rasionalnya adalah akal memerintahkan tubuh untuk menghindari rasa sakit, pilihannya adalah menghindar, lari, atau melawan.

Lainnya