Wedang Uwuh (66)

Beboyo Memolo, Bebendhu Pepeteng

Kedaulatan Rakyat, 20 Februari 2018

Dengan berat hati kami mengambil keputusan untuk meminta Beruk tidak meneruskan uraiannya tentang Sultan Panotogomo. Sudah diserahkan kepada saya tujuh (7) Seri tema itu. Tetapi demi menjaga persatuan dan kesatuan, demi kemashlahatan umum dan menjaga stabilitas politik, sosial maupun budaya masyarakat, dengan berat hati kami memutuskan bahwa publik tidak perlu mengetahui itu semua.

“Kita sendiri pernah mendengar petuah para pinisepuh dan menyetujui, Ruk”, kata Gendhon.

“Yang mana itu, Ndhon?”, tanya Beruk.

“Bahwa kebenaran tidak selalu harus untuk diungkapkan. Kebenaran itu utamanya untuk bahan pertimbangan. Diungkapkan atau tidak, harus diperhitungkan akan menimbulkan kemashlatan ataukah kemudaratan, kebaikan ataukah keburukan, kemajuan ataukah kemunduran…”

“O yang itu. Bahwa sebenar apapun sesuatu yang kita ketahui, bahkan sebaik apapun, tetapi akan dipublikkan atau tidak, harus didasarkan pada kawicaksanan…”

“Kan kamu sendiri yang dulu membawa bacaan kearifan lokal itu”

“Ada kebenaran yang wajib diketahui. Ada kebenaran yang sebaiknya diketahui. Ada kebenaran yang tidak masalah diketahui atau tidak. Ada kebenaran yang seyogyanya tidak usah diketahui. Dan ada kebenaran yang sama sekali jangan sampai diketahui”

“Masalahnya”, tiba-tiba Pèncèng menyela. Kalau melihat model karakter dan kebiasaan perilakunya, pasti ia tidak setuju kepada penghentian paparan tentang Menjelang Sultan Panotogomo, “kalau ada suatu fakta yang atmosfer dan energinya mengepung masyarakat, bagaimana orang bisa tahu dan ambil keputusan: itu tergolong kategori yang mana di antara lima fenomena kebenaran yang kamu jelentrèh-kan tadi…”

“Makanya ada ngelmu kasepuhan yang bernama kawicaksanan, Cèng. Kebijaksanaan. Hikmah. Kita kan Pancasilais, Cèng…”

“Pancasila apa Kebatinan?”, Pèncèng tertawa dengan nada sinis, “Kebatinan itu kendaraan spiritualisme, sedangkan Pancasila itu angkutan untuk mencapai materialisme”

“Jangan belok-belok, Cèng”

“Ya kalau begitu kamu juga jangan melebar-lebar”

“Siapa yang berhak mengambil kesimpulan atau keputusan bahwa tema Sultan Panotogomo tujuh seri itu merupakan kebenaran yang wajib diungkapkan, sebaiknya diungkapan, boleh diungkapkan boleh tidak, seyogyanya tidak diungkapkan, atau jangan pernah sekali-sekali mengungkapkannya?”

“Ya kawicaksanaan itu”

“Bagaimana kalau di masyarakat ada lima jenis kebijaksanaan. Ada yang mengharuskan, ada yang menganjurkan, ada yang monggo-monggo saja, ada yang menggak, ada yang mutlak melarang? Dan semua itu adalah kawicaksanan menurut masing-masing?”

“Kenapa kamu yang rèwèl, Cèng?”, akhirnya Beruk bersuara, “Saya sendiri yang sudah capek-capek menyusun tujuh seri Sultan Panotogomo saja tidak keberatan, kok kamu yang uwel

“Karena saya berempati kepada kamu”, jawab Pèncèng, “Saya menghormati niat baikmu. Saya menjunjung partisipasimu untuk memperbaiki keadaan. Saya bersimpati kepada urun perjuanganmu untuk meskipun se-cuwil mengentaskan keadaan dari kebobrokan menuju paugeran yang seyogyanya. Saya mensyukuri inisiatifmu untuk mencarikan obat bagi orang yang sakit”

“Itu makin melebar-lebar, Cèng”, kata Beruk, “Kalau kamu bilang untuk memperbaiki keadaan, di balik kalimatmu itu terdapat kesimpulan bahwa keadaan sedang tidak baik. Kalau kamu bilang mengentaskan dari kebobrokan menuju paugeran yang seyogyanya, di belakang ucapanmu itu terdapat tuduhan bahwa ada yang sedang bobrok karena melanggar paugeran. Dan kalimatmu tentang mencarikan obat bagi yang sakit, itu artinya ada yang sedang sakit, sudah lama sakit, dan belum diobati, karena belum ketemu obatnya…”

Pèncèng tertawa terbahak-bahak.

“Kamu melarang saya untuk melebarkan pembicaraan, tapi kamu malah memastikan betapa luas dan komplek masalah itu, bahkan kamu memperdalamnya…”

“Lho saya sedang membantah kamu, bukan sedang mempermasalahkan masalah”

Gendhon mencoba menengahi. “Begini ya Beruk dan Pèncèng”, katanya, “Perbaikan dan perubahan keadaan itu hanya berlaku bagi orang yang melihat ada sesuatu yang harus diperbaiki dan diubah. Tapi bagi orang lain yang merasa nyaman dengan keadaan yang ada, tidak ada sesuatu yang perlu diubah atau diperbaiki…”

Bersama Pèncèng dan Beruk, saya mendengarkan mediasi Gendhon dengan sabar.

“Kebobrokan hanya berlaku bagi mereka yang terganggu oleh suatu keadaan yang mereka sebut kebrobrokan. Tapi itu tidak berlaku bagi mereka yang lain yang justru merasa enak dan nikmat, sehingga mereka tidak mungkin menyimpulkan bahwa itu kebobrokan. Juga sakit atau penyakit, itu berlaku pada orang yang mengetahui sakit dan penyakit. Orang yang datang ke Dokter adalah orang yang sadar bahwa ia sedang sakit. Tapi sekarang banyak orang sakit yang malah melamar kerja menjadi Dokter, sampai akhirnya masyarakat mengenalnya tidak sebagai orang sakit, melainkan sebagai Dokter”

Terpaksa akhirnya saya potong. “Pause dulu ya, anak-anak. Kita endapkan dulu Sultan Panotogomo. Saya usulkan sekarang giliran Pèncèng memaparkan tema Kelahiran Si Ponang Bayi, yang katanya digali dari proses pementasan teater Mikul Dhuwur. Daripada kalian berpanas-panas berdebat, saya minta Pèncèng nembang saja Bangbang Wetan: “Lingsir wengi tak kendhat /Beboyo Memolo tan kinoyo ngopo /Bebendhu pepeteng tan keno kiniro…”.

Dengan berat hati kami mengambil keputusan untuk meminta Beruk tidak meneruskan uraiannya tentang Sultan Panotogomo. Sudah diserahkan kepada saya tujuh (7) Seri tema itu. Tetapi demi menjaga persatuan dan kesatuan, demi kemashlahatan umum dan menjaga stabilitas politik, sosial maupun budaya…