Barisan Sukowati Guyub Rukun Mengayomi Negeri

Reportase Sinau Bareng CNKK dalam Hari Jadi ke-272 ab. Sragen, 24 Mei 2018

Konsep Dasar Kepemimpinan (Robbun-Malik-Ilah)

Ada yang spesial malam itu. Yakni Ibu Novia turut hadir di atas panggung. Sebagai kado ulang tahun Kab. Sragen yang ke-272, Mbah Nun meminta khusus kepada Mbak Via dan Mbak Yuni maju ke depan untuk nyanyi bareng. Ibu-ibu cantik itu membawakan satu tembang lawas berjudul Asmara.

Di tengah lagu, saya teringat sang Asmara cinta di rumah. Ya, maksudnya istri saya. Mosok istri tetangga. Ya ndaklah. Ia tidak bisa ikut karena tengah hamil 6 bulan. Badannya gampang capek, gampang pegel, gampang turu. Ya sudah, wahai sang istri istirahatlah di rumah. Sebaris pesan saya kirimkan via WA. Ternyata ia belum tidur. Si dedek bayi katanya kruncelan terus ndak mau diam. “Mungkin dia kangen yayahnya”, kata istri saya. Hehe. Mendengar hal itu saya senang dan kembali melanjutkan tugas dengan tenang.

Usai tembang Asmara, Mbah Nun nggarapi Mbak Yuni agar supaya mengajak sang suami untuk duet nyanyi bareng. Kebyar-kebyar lagu fenomenal ciptaan Gombloh yang dipilih. Indonesia merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatku… Kebyar-kebyar pelangi jingga…

Bukan hanya yang di atas panggung yang bernyanyi. Anak-anak kecil yang duduk disamping saya pun ikut bernyanyi. Mengangguk-anggukan kepala seraya memukulkan sendalnya ke tanah. Mereka larut dalam spirit nasionalisme lagu tersebut.

Kegembiraan makin bertambah, saat seluruh pejabat yang duduk di panggung diajak nyanyi bersama oleh vokalis KiaiKanjeng. Membawakan lagu dari era ke era secara medley berurutan. Sejak era 40-an sampai lagu zaman Now. Pecahnya adalah saat lagu “Sayang” milik Via Vallen dilantunkan.

Sayang opo kowe krungu, jerite atiku… Spontan saya menjerit histeris dari balik panggung. Langsung berdiri, ikut berdendang dan bergoyang. Semua riang. Semua senang. Vianisty mana suaranya…

Potong tumpeng sudah, nyanyi bareng juga sudah. Tak terasa jarum jam telah menunujukkan pukul 11 malam. Selanjutnya Mbah Nun meminta kembali kepada Mbak Yuni untuk memberikan closing statement sebagai peneguhan di hari jadi Kab. Sragen malam itu.

Dengan rasa bangga, bungah, Ibu Bupati berpesan kepada seluruh warga Sragen untuk terus merawat keguyubrukunan dalam hidup bebrayan di tengah masyarakat. Sragen harus menjadi pionir kerukunan bagi daerah-daerah lain. Pada tahun ini Sragen genap berusia 272 tahun, sedangkan Indonesia baru berusia 73 tahun. Jadi sudah seyogianya Sragen sebagai ‘orang tua’ mampu untuk ngemong, mengasuh, membimbing, memberi teladan yang baik bagi anak kandungnya yang bernama Indonesia.

Tepuk tangan membahana seluruh jamaah, turut mengokohkan pesan damai yang disampaikan oleh Ibu Bupati. Mbah Nun sebagai orang yang dituakan, sebagai guru, sebagai sang “Bodronoyo”, mewejangi wa bilkhusus kepada Ibu Bupati dan semua perihal konsep dasar kepemimpinan.

Sebagai pijakan menjadi seorang pemimpin, kita dapat mengaplikasikan isi kandungan dari surat An-Naas. Bahwa yang harus diutamakan seorang pemimpin dalam memimpin rakyatnya adalah sikap kasih-sayang (Rabbun). Menyayangi dulu. Baru kemudian menggunakan kekuasaan (Malik). Kalau dengan kasih-sayang dan kekuasaan kok belum mempan, baru ditonyo. Hehe. Ilahinnas adalah hak mutlak Allah sebagai Tuhan yang tak dapat diganggu gugat.

Tepat pukul 23.30, acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka hari jadi Kab. Sragen ke-272 tahun dipuncaki dengan doa bersama dipimpin oleh KH Ma’ruf Islamuddin, pimpinan ponpes Walisongo Sragen.

Dan seperti biasa, Mbah Nun pun berdiri di bibir panggung, dengan setia melayani uluran tangan-tangan yang merindukan keberkahan.

Tak terkecuali karib saya si Dwi. Katanya, ia telah bersalaman dengan Mbah Nun sebanyak lima kali. Piye carane? Ndak ngerti! Dia juga sempet foto bareng, dan mendapat bonus air mineralnya disebul Simbah. Alhamdulillah, semua gembira kecipratan berkah Maiyah.

Teruntuk Sragen dan Mbah Nun, kami ucapkan selamat ulang tahun. Rahayu.

Lainnya