Barisan Sukowati Guyub Rukun Mengayomi Negeri

Reportase Sinau Bareng CNKK dalam Hari Jadi ke-272 ab. Sragen, 24 Mei 2018

Jujur pakai banget, bagi saya menulis reportase itu berat. Butuh kepekaan untuk menangkap kejadian sekitar. Kejelian merangkai diksi. Dan cerdas mengembangkan poin-poin yang sudah dicatat. Tulisan mesti enak. Jangkep. Runut. Runtut. Tidak lebay. Dan mudah diserap.

Beban tapi ini kepercayaan. Sulit tapi ini kesempatan. Bismillah saja. Kalau ada salah-kurangnya ya saya minta maaf. Intinya berani mencoba. 99,9 persen niatnya untuk belajar. Segera saya ambil posisi. Pasang mata, telinga, dan hati. Pegang dua senjata. Buku dan pena.

Ilmu Mencari Perbedaan, Agama Mencari Persamaan

Usai prosesi potong tumpeng oleh Ibu Bupati, Mbah Nun mempersilakan personel KK untuk mempersembahkan nomor Gugur gunung.

Gugur gunung tandang gawe //Sayuk sayuk rukun //Bebarengan ro kancane //Lila lan legowo  //Kanggo mulyaning nagoro //Holobis kuntul baris //Holobis kuntul baris //Holobis kuntul baris

Alunan lagu Gugur Gunung menambah suasana menjadi regeng dan akur. Yang menggelitik saya adalah lirik holobis kuntul baris. Bisa jadi saru kalau saja meleset mengucapkannya. Hehee.

Kuntul itu sejenis bangau putih pemangsa ikan yang biasa hidup di perairan. Holobis kuntul baris adalah paribasan Jawa. Yang berarti saiyeg saeka praya; bebarengan mrantasi gawe. Bekerja secara gotong-royong. Melalui nomor tersebut Mbah Nun ingin menegaskan kembali bahwa Sragen harus tetap guyub-rukun, ajur-ajer, sami srawung mbangun Sukowati.

Tak terasa, Sinau Bareng telah berjalan satu jam. Waktu menunjukkan pukul 22.00. Dan ‘Kuntul-kuntul’ (baca: Jamaah) itu masih setia rapi berbaris. Ini beneran. Jamaah yang kemarin hadir dan menduduki muka panggung memang didominasi pakaian serba putih. Perempuan, laki. Tua-muda-anak-bayi. Merekalah para Jihadis Maiyah, barisan ‘kuntul-kuntul’ yang siap ‘memangsa’ ujaran kebencian, hoax, fitnah, talbis, tipudaya, persekusi, intoleransi dan penyakit-penyakit di negeri ini.

Hujan sedang yang sempat turun, menyisakan hawa dingin-dingin sejuk. Saya sruput kopi hitam, ditemani kretek sebatang. Oh, nikmat Tuhan mana lagi yang kami dustakan.

Acara Sinau Bareng kian malam, kian menarik. Pelan-pelan Mbah Nun membawa kita masuk ke inti tema Sinau Bareng. Terlebih dulu beliau mengelaborasi ikrar yang disampaikan para pemuka agama di awal acara. Jangan bilang Indonesia itu bukan Islam. Itu yang merusak. Tapi katakan kalau Indonesia itu ya Islam, ya Hindu, ya Kristen, ya semua agama yang ada. Indonesia ya Jawa, ya Sunda, ya Batak, ya Bugis, ya Madura. Mereka bersatu untuk kemudian menjadi Indonesia. Pemikiran seperti ini yang mestinya kita bangun dan sebarluaskan agar Indonesia tetap teguh dalam keberagaman. Mbah Nun tegas menegaskan.

Ibarat hewan. Kalau anda pitik jangan jadi bebek. Kalau anda kambing jangan jadi kucing. Berdaulatlah pada dirimu sendiri. Pitik tidak usah meng-kwek-kwek. Dan bebek juga jangan kukuruyuk. Begitu juga manusia. Orang Islam ketemu dengan orang kristen ucapkan Assalamualaikum, dan orang Kristen biarkan menjawab dengan caranya sendiri. Aleichem Shallom misalnya. Ilmu itu untuk mencari perbedaan, sedangkan agama untuk mencari persamaan atau kesatuan.

Menjadi Manusia-manusia Puasa

Mbah Nun secara khusus memohon waktu 2 menit kepada seluruh Jamaah untuk mengirimkan doa Al-Fatihah teruntuk Alm. Mas Danarto. Yang wafat 40 hari lalu. Mas Dan adalah sosok sahabat sekaligus kakak bagi Mbah Nun. Seorang sastrawan sufi asli Sragen. Saking sufinya banyak orang yang tidak tahu kalau mas Dan lahir dan menghabiskan masa kecilnya di bumi Sukowati ini. Saya salah satu yang tidak tahu itu. (Bodoh kamu Don).

Untungnya, selepas pemakaman mas Dan sebulan lalu, saya dan mas Indra Agusta sempat sowan silaturahmi ke rumah Almarhum. Di sana kami bertemu dengan perwakilan keluarga Almarhum mas Dan. Atas permintaan Cak Zakki, kami mewakili Cak Nun dan seluruh Jamaah Maiyah Nusantara menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepulangan mas Danarto.

Kehidupan masa tua Danarto amat memprihatinkan. Tinggal sebatang kara di rumah kostan di daerah Cinere, Jakarta Selatan. Rumahnya dijual untuk menolong orang lain, dan ia memilih tinggal di kamar kost. Kursi-meja dan perabotnya juga dilelang, digunakan untuk membantu tetangganya yang kesulitan membayar biaya sekolah anaknya. Sangat nyeri dan perih melihatnya. Seorang sastrawan besar tapi tidak punya apa-apa. Sangat menderita. Jauh dari kemapanan dan kemewahan. Namun itu tidak bagi Mas Dan. Justru dengan cara seperti itulah beliau akan ‘lulus’ menjadi Sufi. Merasakan kebahagiaan sejati dan semoga nanti ditempatkan Tuhan di surga-Nya yang tinggi.

“Mas Dan adalah manusia puasa,” kata Mbah Nun. “Beliau telah mampu memunggungi dunia. Berhasil untuk tidak kintir pada hasutan dan hiasan yang tersaji di alam dunia.”

Doa telah dipanjatkan, disambung dengan persembahan lagu Mauju’ Qalbi dari Najwa Faruk penyanyi asal Persia yang dibawakan oleh Mbak Yuli. Disusul dengan nomor Rindu Wajahmu oleh mas Imam Fatawi. Lagu ini karangan sang Empu Seruling legendaris KiaiKanjeng Alm. Pak Ismarwanto. “Mu pada kata wajahmu maksudnya Nabi Muhammad”, terang Mbah Nun kepada seluruh Jamaah.

Malam makin kelam. Rembulan tampak malu bersinar. Ia beringsut mengarah ke wetan. 27-28 Mei, anak-cucu Jamaah Maiyah Nusantara bersiap Menyorong Rembulan di Padhangmbulan.

Bersebab kota Sragen yang punya hajat, maka malam itu Mbah Nun memohon izin untuk menafsirkan asal-usul Sragen. Menurut Simbah, Sragen asal kata dari ragen/ragi. Ragi adalah zat campuran yang biasa digunakan untuk membuat tape adonan roti. Nah, maksudnya manusia-manusia Sragen adalah manusia yang sedang mengalami peragian/proses fermentasi. Dari telo menjadi tape. Dari kedelai jadi tempe. Dari terigu menjadi roti. Dari bias menjadi jelas. Dari gelap menjadi terang. Dari benar jadi baik. Dari baik jadi mulia, dan seterusnya.

“Ini tafsir lho. Tafsire sopo, tafsirku dewe,” ungkap Simbah, disambut tawa jamaah. Yang namanya tafsir itu bisa benar bisa salah. Boleh percaya boleh tidak. Letak tafsir adalah pendapat. Opini. Dan boleh bermacam-macam. Asalkan baik, silakan dipakai dan digunakan.

Sebelum masuk ke sesi berikutnya, Mbah Nun meminta Pak Kapolres, Pak Dandim dan Pak Ketua DPRD untuk memberikan sambutan. Hebatnya, kesemua bapak-bapak itu mengaku sebagai santri sekaligus pengagum beratnya Cak Nun. Uniknya lagi, beliau-beliau pun mengenakan peci merah-putih khas Maiyah.

Bicara peci, Mbah Nun kemudian menjelaskan kenapa peci Maiyah ada unsur merah-putihnya. Pertama, itu sebagai simbol nasionalisme. Sebab warna bendera bangsa kita Indonesia adalah merah-putih. Kenapa warna putih yang mengikat dan melingkar dikepala kita, bukan yang merah? Putih bermakna suci. Maka pikiran harus terus di isi dengan hal-hal yang baik, yang positif, yang suci. Sehingga urip kita jadi tenang.

Dalam falsafah Jawa kita mengenal istilah: Sedulur papat limo pancer. Merah itu amarah. Hitam itu lawwamah. Kuning itu sufiyah, dan putih muthmainnah. Lantas Mbah Nun menyitir ayat terakhir dari surat Al Fajr. “Ya ayyatuhan-nafsul-muthma`innah (Wahai jiwa-jiwa yang tenang). Irji’i ila robbiki rodhiyatam-mardliyyah (Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridla dan diridjai-Nya). Fadkhuli fi ‘ibadi (Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku). Wadkhuli jannati (dan masuklah ke dalam surga-Ku).”

“Semoga anda semua yang hadir disini termasuk orang-orang yang berjiwa tenang. Termasuk golongan hamba-hamba Allah dan sak kabehane mlebu suwargone Gusti Allah.” Doa harapan Mbah Nun diaminkan oleh seluruh jamaah yang hadir.

Lainnya