BangJoKu

Mukadimah Likuran Paseduluran Februari 2018

Abang ijo kuning merupakan tiga komposisi warna yang sering digunakan sebagai pertanda atau simbol-simbol untuk mewakili ungkapan tertentu tanpa dengan deskripsi yang panjang. Bisa di sektor satuan atau skala ketiga-tiganya. Jika di simpang jalan, sering kita temui lampu abang ijo kuning sebagai pertanda kapan pengguna jalan harus melaju, pelan-pelan dan berhenti. Biasanya satu paket dengan garis marka atau pembatas garis pengguna agar bisa saling berbagi jalan untuk bisa dilewati pengguna yang lain.

Hidup ini juga perlu adanya rambu-rambu pembatas kapan harus terus melaju, pelan-pelan, dan berhenti. Kuncinya pada saling melengkapi satu sama lainnya. Berkumpul demi kemaslahatan bersama untuk beristirahat dari multi-konfliknya hidup. Menggali lebih dalam pada diri, bahwasanya Ia yang ‘jiwanya berwarna’ akan lebih tahu sejatinya saling membantu dan bekerjasama bukan soal ketergantungan sosial semata, tapi juga untuk meredam api individualis seseorang. Bukan berarti kerjasama tanda tak mampu, tanda tak sanggup atau bahkan tanda tak percaya diri, namun bisa dikatakan sebagai tindakan preventif akan adanya gejolak kebersamaan.

Ibarat sebuah pohon yang bermulai dari butir biji kemudian sampai menjulang tinggi dengan pondasi akar yang kokoh, batang yang kuat, ranting yang banyak, daun yang hijau serta buah yang masak. Bukan saja hal itu akan dinikmati sendiri oleh sang pohon, melainkan seantereo lingkungan lah yang akan merasakannya. Perihal kerjasama disini bisa dengan apa saja dan dengan siapa saja, tanpa harus mendikte dan mengadakan dikotomi dengan siapa kita harus bekerjasama.

Seandainya kita mau berupaya mengubah kumpulan-kerjasama itu menjadi suatu energy positif, maka bisa dipastikan titik kumpul ketiganya menjadi posko kekuatan yang hebat. Akan menjadi luar biasa ketika sudah terwujud, berjalan dan istiqomah.

Meskipun hanya tempat singgah, Keposan -salah satu nama daerah di kabupaten Kebumen- bisa menjadi potret perwujudan nyata dari aplikasi abang ijo kuning. Dengan potensi pergesekan warna yang beragam, namun sebanding dengan pluralisme yang tinggi. Mereka sangat menjaga ke-abang-annya, tapi menjunjung tinggi kebersamaan. Disisi lain belum begitu tau warna hijau, tapi menghargai warna kuning, dst.

Persoalan yang muncul tidak mandeg di warna saja. Skema pelebaran diskripsi abang ijo kuning sangat luas. Karena abang tidak selamanya merah, ijo tidak mesti hijau, apalagi kuning yang samar-samar seolah sama kuningnya tetapi beda isinya, serta demi berjalannya roda kehidupan yang saling membutuhkan, maka  berbagi keterbatasan pengguna kehidupan menjadi penting, bahkan wajib.

Kemungkinan situasi seperti itu bisa diartikan dalam kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya. Tinggal siapa yang membaca dengan karakter pola pemikirannya sendiri.

Kalau kita merasa sedang pada posisi di abang, ternyata masih ada warna lain yang perlu dipelajari. Seperti Penentuan tema Likuran Paseduluran putaran ke-35 bulan ini juga dalam rangka sinau bareng dengan sedulur Keposan yang Insyaallah akan dilaksanakan di Pendopo Kelurahan Kebumen, tepatnya di Jalan Pemuda No. 31, Kebumen.

Abang ijo kuning merupakan tiga komposisi warna yang sering digunakan sebagai pertanda atau simbol-simbol untuk mewakili ungkapan tertentu tanpa dengan deskripsi yang panjang. Bisa di sektor satuan atau skala ketiga-tiganya. Jika di simpang jalan, sering kita temui lampu abang ijo kuning sebagai…